Mohon tunggu...
bambang SYAIRUDIN
bambang SYAIRUDIN Mohon Tunggu... BAMBANG SY (BAMS) - podo tumuju tuwo dewe dewe ©

========================================== BAMS, hidup dan mencari NAFKAH sebagai Dosen di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Pernah BELAJAR di Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung. SENANG ketika tulisannya pernah dimuat di Majalah Sastra HORISON. SEDIH ketika menyaksikan PUISI sedang dinodai beramai-ramai. ROH-nya ditukar dengan roh LAIN, dan DINAMAI puisi. ========================================== KEPADA SEMUA TEMAN, saya ucapkan Selamat BERKATA-KATA dalam TULISAN, Selamat MERDEKA memberikan KOMEN dan PENILAIAN, serta Salam JABAT erat PERSAHABATAN. 🙏🤝🙏 ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Ganang

21 April 2021   10:00 Diperbarui: 23 April 2021   00:36 100 19 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ganang
Gambar Ilustrasi merupakan dokumen karya pribadi (Karya Bambang Syairudin)

Ganang *)

 Ajur. Gebukan itu bertubi-tubi. Aku nyungsep di selokan. Dan tak sadarkan diri. Di kamar kos-kosanku yang sudah tiga bulan belum kubayar ini, tampil wajah-wajah keropos, letih, membisu. Seluruh wajah menampakkan stempel gebukan yang berbeda-beda. Sayup-sayup kudengar mereka bercerita tentang kronologis kejadian dari awal keberangkatan kami sampai keluar dari kepungan sosok-sosok penggebuk.

" Waah, payah, kita diuber-uber seperti maling. Dihadang dari segala penjuru. Diburu dan diserbu. ", kata penghuni yang paling senior, namanya Ganang dari Kertosono. Selalu ditolak cintanya. IP nya tak pernah lebih dari angka dua. Pernah bertaruh akan menjadi seorang demonstran saja, jika gagal lagi naksir cewek kesepuluh di kos putri tetangga sebelah: Hasilnya ditolak, kalahlah dia, dan kini menjadi seorang demonstran. Aku cuma melenguh, rasa nyeri rupanya mulai merambat ke seluruh tubuh. Tapi, aku cuma bisa bilang: lapar...

Tengah malam, sunyi sekali. Terdengar suara batuk-batuk ibu kos, suaranya berat dan dalam, seolah sedang menahan beban berat tunggakan hampir seluruh penghuninya. Lima menit kemudian adalah sepi. Dan rasa nyeri ini, kembali menerobos benteng ulu hati. Kawan-kawan telah pergi entah kemana, sambil membawa harapan yang belum terkonsepkan secara jelas. Hanya tembok-tembok kampus selalu hadirkan mimpi buruk tagihan tunggakan SPP. Kemana mereka akan pergi saat mimpi buruk terjadi ? Buku-buku, tugas praktikum, kerja praktek, bimbingan tugas akhir, kuliah, diskusi dan nggarap PR, semuanya mereka tinggalkan. Malam yang sunyi ini, telah punya caranya sendiri menggambarkan suasana kos yang biasanya semarak dengan raungan musik rock dan dangdut.

" Tahan semenit laparmu, Ganang pergi dulu. ", bunyi pesan yang tertempel di langit-langit tempat tidur susun saya. Seperti biasa tiap bulan kami bergiliran menempati tempat tidur bawah dan atas. Sekarang giliranku di bawah. Tulisan itu nampak jalas terbaca. Seperti aku, Ganang juga nunggak bayar uang kos tiga bulan. Jam Weker di kamarku sudah menunjukkan pukul tiga pagi, kawan-kawan belum kembali.

Bu Mah, demikian biasa kami, kawan-kawan disini memanggil ibu kos. Langkahnya dengan seretan sandalnya yang khas terasa menuju kamarku. Benar, tak lama terdengar ketukan kelembutannya. Aku jawab dengan suara yang memancing kembali rasa nyeri, "Tak di kunci, Masuk, Bu. ".  Ibu Kos masuk sambil membawa bungkusan yang kukira pasti berisi makanan. " Nak, seharian kamu ndak makan. Ini ada nasi pecel buatmu; makanlah segera. Kamu pasti lapar, Nak."

Sambil makan aku membayangkan negeri ini merdeka dari tangan-tangan penjarah yang korup dan selalu lapar melahap dan menyedot darah, sumsum, daging, tulang, seluruh isi perut Ibu Pertiwi, dan merenggut senyum manusia-manusia jelata. Menutup mata atas kepapaan sesama. Dan aku bertanya pada diriku sendiri, apakah bayangan semacam ini juga terlintas di benak ibu kosku, terhadap kami yang telah sekian bulan menjadi beban hidup ibu kos. Apakah aku bukan bentuk lain dari penjarah itu ?

"Reformasi !, " teriak Ganang lantang, semenit kemudian roboh, ndelosor, dan nyungsep di kaki penggebuk.

Lalu lintas siang hari terhenti. Knalpot menghentikan kegiatannya mencemari udara. Wajah-wajah demonstran digiring ke balik terali. Sepatu boot berderap keras sekali. Tiba-tiba hari berjalan lambat sekali. Angin perubahan meniupkan hawa panas tirani. Sang Rajawali terbang tinggi, semakin tinggi membawakan sebiji peluru kepada langit. Bumi menopang senapan yang terkokang. Menembaki seragam-seragam suci kami.

Ganang-ganang lain bangkit. Satu Ganang roboh, seribu Ganang bangkit. Senjata mereka bukanlah senapan yang terkokang melainkan satu kata, yaitu reformasi, yang diteriakkan dari ulu hati yang nyeri. Bukan dari sanubari anak-anak negeri yang durhaka pada Ibu Pertiwi.

Di tengah mimpi tidur siangku, aku bertemu Ganang sudah menjadi Menteri. Aku datang menghadap menyodorkan sebuah map berisi lamaran kerja.
Ganang mendekatiku dan berbisik, " ini buah, dari perjuangan kita." Aku melongo tak mengerti. Sambil mengapit lenganku, dia ambil map yang masih ada di tanganku. Lalu dia lanjutkan bisikannya, " buat apa pakai lamaran segala. Kamu aku beri proyek-proyek, dan jalankan bersama adik-adikku. Okey ? ", sambil membawaku ke suatu tempat yang indah di sudut kantornya.

Seandainya tidak ada hiruk pikuk di luar, kuingin mimpi indah itu tidak terhenti. Aku terbangun, dan kudapati banyak anak muda menggotong tubuh Ganang yang telanjang berlumur darah. Di luar banyak sekali orang meneriakkan kata : Reformasi !, Hidup Ganang !.... Aku bangkit dan larut dalam suasana kegeraman duka.

Angin siang mengirimkan bau kering darah dan keringat menerobos paru tubuh-tubuh yang kehilangan cahaya. Orang ramai sekali di luar. Berebut melihat Ganang. Berebut menggotong Ganang. Berebut menolong Ganang. Berebut mengharap anak itu bangkit lagi dan mendengar sekali lagi bunyi teriakan yang lantang dari anak muda yang berani ini. Aku bisikkan kata di telinga Ganang yang ku tahu pasti tak akan terdengar, " Apa yang kau pikirkan tentang negara ini, hingga kau teriakkan kata, mengepalkan tangan, maju, dimana engkau akhirnya terperangkap kedalam jebakan para penggebuk. Apa dan siapa yang kau bela, Ganang ?...," aku tak bisa lanjutkan kata-kata itu karena seolah-olah tubuh Ganang yang beku itu memantulkannya kembali, dan wajahnya yang remuk itu seolah-olah mencibir padaku dan semua orang dalam kamar: " Negeri ini bukan milik kaum penakut dan banci, seperti kalian semua ini!. Aku tidak rela digotong oleh kawan-kawan penakut. Lebih baik hancur di selokan berlumur darah dan tai anjing... akan kuberikan tulangku pada anjing dari pada harus berteduh di tengah penolong-penolong yang penakut dan tak tahu tangisan Ibu Pertiwi......". Pantulan cemoohan itu, persis seperti yang sering ia lontarkan ketika perdebatan sengit diantara kami sudah sampai pada topik politik dan nasib negeri ini.

Aku masih tercenung sendirian dalam kamar menatap satu-satunya kaos belel yang tergantung di dinding. Kaos oblong yang bertuliskan : Reformasi atau Mati !. Telah lepas dari pendengaran, sebuah raungan ambulance yang merebut dan membawa tubuh Ganang entah kemana. Rumah Kos-kosan ini cepat sekali menjadi suwung dan sepi. Hanya aku disini, dan Bu Mah yang sibuk sendiri di beranda melawan asma. Nyawa yang tersungkur di sudut jantungku meronta mengajak untuk bangkit dan mengejar. Entah kemana Ganang berada.

Sore, aku keluar dari kamar seolah seperti ular yang baru keluar dari belukar. Di sudut-sudut jalan dan mulut Gang nampak orang bergerombol, mulutnya komat-kamit tak terdengar suara. Raut muka dan matanya memerah, sepertinya marah kepada seseorang. Ku dekati tetapi aku tak mendengar suara itu. Dari gerak mulutnya menunjukkan ada suatu kalimat yang mereka ucapkan. Tapi aku tak mendengarnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x