Mohon tunggu...
Bambang Subroto
Bambang Subroto Mohon Tunggu... Lainnya - Menikah, dengan 2 anak, dan 5 cucu

Pensiunan Badan Usaha Milik Negara, alumni Fakultas Sosial & Politik UGM tahun 1977. Hobi antara lain menulis. Pernah menulis antara lain 2 judul buku, yang diterbitkan oleh kelompok Gramedia : Elexmedia Komputindo. Juga senang menulis puisi Haiku/Senryu di Instagram.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kaya Tanpa Kekayaan

19 Oktober 2021   21:30 Diperbarui: 19 Oktober 2021   21:38 146
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Kaya itu lebih dimaknai sebagai pemilik harta yang berlimpah ruah. Jika digunakan untuk hidup mewah, mampu mengundang decak kagum karena wah. Seolah bebas dari rasa gelisah.

Tetapi kekayaan tertinggi itu belum tentu memperkaya hati. Lalu pilihan hidup menjadi begini : "Kaya materi dan kaya hati, atau miskin materi tapi kaya hati, atau kaya materi tetapi miskin hati".

Rasa menjadi kaya itu memang ada. Karena menyangkut rasa, malah tiada berbatas. Di atas orang kaya, pasti ada orang yang lebih kaya. Sementara, ada pula yang berhasil menduduki predikat super kaya.

Kriteria miskin pun begitu. Ada yang memang miskin, tapi ada pula yang masih saja merasa miskin.

Kriteria orang kaya pun berkembang. Tolok ukur awal adalah kepemilikan "bandha" atau materi. Kemudian butuh "bandhu". Orang kaya adalah mereka yang memiliki kelimpahan "bandha"dan "bandhu".

Bandhu adalah dominasi keterpengaruhan terhadap orang lain. Semakin banyak orang di lingkar keterpengaruhannya, semakin kaya bandhunya.

Itulah sebabnya, kebutuhan orang kaya pun berkembang. Mereka ingin memiliki kendaraan politik, untuk menyempurnakan kriteria sebagai orang kaya.

Dengan demikan orang yang kaya bandha-bandhu, adalah seolah-olah hanya mereka yang punya kedudukan bergengsi.

Tetapi kenyataan di lapangan, orang berpengaruh itu tidak wajib kaya terlebih dahulu.

Predikat "digdaya tanpa aji" cukup dijadikan modal agar lebih berpengaruh. 

Dalam hal ini, yang dikedepankan bukan kekayaan, tetapi keahliannya. Semakin tinggi tingkat keahliannya, mereka semakin sakti. Sakti dalam arti, memiliki daya pengaruh yang besar. Ia mampu mengubah, tanpa harus kaya dan mewah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun