Mohon tunggu...
Bambang Subroto
Bambang Subroto Mohon Tunggu... Menikah, dengan 2 anak, dan 5 cucu

Pensiunan Badan Usaha Milik Negara, alumni Fakultas Sosial & Politik UGM tahun 1977. Hobi antara lain menulis. Pernah menulis antara lain 2 judul buku, yang diterbitkan oleh kelompok Gramedia : Elexmedia Komputindo. Juga senang menulis puisi Haiku/Senryu di Instagram.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sifat Buruk yang Mengabadi

12 Juni 2021   18:07 Diperbarui: 12 Juni 2021   18:18 13 1 0 Mohon Tunggu...

Sejak dahulu kala hingga sekarang, sifat buruk selalu ada. Perilaku manusia tersebut dipotret dengan kamera budaya. Beberapa di antaranya menjadi perilaku para idola.

Drengki adalah kebiasaan berburuk sangka. Baginya, orang lain tak ada sedikit pun sisi baiknya. Saat teknologi memungkinkan, ujaran kebencian marak tidak karuan.

Srei merupakan pasangan sifat drengki. Dorongan yang teramat kuat untuk selalu menjadi pemenang, menjadi penyebab pasangan drengki dan srei seperti tak terpisahkan. "Tujuan menghalalkan cara", biasa dipraktikkan, baik secara halus maupun kasar.

Persaingan, sejatinya motor dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi reaksi negatif kadang ikut-ikutan menyertai menjadi benci atas keberhasilan orang lain atau iren. 

Dalam budaya Jawa, serendah-rendahnya martabat manusia adalah ketika sama sekali tidak layak untuk dipercaya oleh orang lain. Beberapa istilah pamali menyertainya : "Genjah, sumur gumuling, ambuntut arit".

Integritas dalam hal ini menjadi sifat agar berperilaku yang dapat dipercaya. Salah satu tolok ukurnya yaitu baik kedhaling lathi atau baik mutu ucapannya. Ucapan dan perilakunya selalu menyatu padu."Nyawijining lathi lan pakerti".

Sifat buruk cenderung  mengabadi. Berulang dan berkembang. Jalan pintas memang lebih cepat mengantarkan jalan terselubung, agar karir makin membubung. Sejatinya itu tidak baik untuk dikenang oleh siapa pun.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x