Mohon tunggu...
Bambang Suwarno
Bambang Suwarno Mohon Tunggu... Mencintai Tuhan & sesama. Salah satunya lewat untaian kata-kata.

Pendeta Gereja Baptis Indonesia - Palangkaraya Alamat Rumah: Jl. Raden Saleh III /02, Palangkaraya No. HP = 081349180040

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Mazhab Sastra Embuh

12 Juli 2019   10:28 Diperbarui: 12 Juli 2019   10:57 0 64 35 Mohon Tunggu...

Makin menua dan tampak kurus. Makin lamban dan cepat letih. Makin sulit tidur dan kadang sudah mulai amnesia. Itulah yang kutangkap dari kondisi fisik Hudi sekarang ini. Pria itu adalah sahabat lamaku yang berasal dari satu kampung denganku. Sekarang ini, ia berada di rumahku untuk mengunjungiku.

Setelah sepuluh tahun tak pernah bertemu, tentu saja kedatangannya menjadi satu reuni yang sangat mengasyikkan. Hampir semua obrolan kami, didominasi oleh kilas balik tentang cerita masa lalu. 

Yaitu saat ketika kami masih sama-sama tinggal di kampung. Penuh nostalgia masa muda. Sehingga rasanya kami berada kembali ke masa empat puluhan tahun yang lalu.

"Kudengar kamu mulai aktif nulis lagi, ya?" tanyanya padaku.

Itulah pertanyaan yang memang kutunggu-tunggu. Karena dugaan kuatku, tujuan utama bertandangnya ke rumahku, adalah pasti untuk ngobrol soal tulis-menulis -- khususnya sastra. Kenapa? Karena sejak di kampung dulu, aku dan Hudi sudah suka sekali menikmati karya-karya sastra Indonesia. 

Terutama puisi dan cerpen, kadang juga novel. Bahkan waktu itu, kami sudah mulai coba-coba belajar nulis sastra. Bahkan juga sama-sama punya mimpi, kelak ingin menjadi seorang sastrawan kondang.

"Ya Bang, aku nulis di Kompasiana. Sekarang kan sudah mulai punya banyak waktu luang, maka kugunakan untuk mulai nulis lagi," jawabku, "Yah, anggap saja untuk mengasah kembali kemampuan menulisku agar tidak jadi tumpul. Bahkan rencanaku, kalau sudah purna tugas, aku akan total menulis sampai mati...."

"Bagus itu! Mumpung kamu masih sehat, kejar terus mimpi-mimpimu, teman! Kalau sudah sepertiku sudah sangat susah. Mimpi masih menggebu, cita-cita tak pernah mati. Tapi kamu tahu sendiri, bahwa kesehatanku sudah sangat tidak mendukung....."

Sejak lima tahun terakhir ini, manusia lahiriah Hudi memang sudah makin merosot. Tapi passion sastranya sesungguhnya masih menggelora. Ada pertentangan yang hebat antara panggilan jiwanya dengan kompromi yang dilakukannya. Dulu, ia pernah kuliah di fakultas sastra. Tapi entah karena apa, tiba-tiba patah di tengah jalan.

Malah dalam perkembangan berikutnya,karena tuntutan tanggungjawab pada keluarganya, ia justru harus terjun mengerjakan proyek-proyek infrastruktur daerah. Ia harus jatuh bangun sebagai seorang kontraktor di dunia yang sama sekali keras. Penuh tantangan, persaingan dan sering harus berani untuk vivere pericoloso (hidup yang nyerempet-nyerempet bahaya). Akibatnya, ia sudah tak bisa nulis lagi. Seluruh waktunya ia habiskan untuk urusi proyek saja.

Itulah sebabnya, Hudi tampak lebih tua dari usianya. Meski dompetnya tebal, ia tampak sudah begitu rapuh. Apalagi tiga tahun terakhir ini, setelah ia mengidap komplikasi dari beberapa penyakit. Di tahun terakhir ini saja, ia sudah beberapa kali masuk dan rawat inap di rumah sakit. Bahkan sudah dua kali harus menjalani tindakan operasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x