Mohon tunggu...
Bambang Hermawan
Bambang Hermawan Mohon Tunggu... abahnalintang

Memungsikan alat pikir lebih baik daripada menumpulkan cara berpikir

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Atas Nama Tekad

17 November 2020   17:57 Diperbarui: 17 November 2020   18:10 148 5 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Atas Nama Tekad
illustrasi: huffpost.com

Tekad, ya tekad! Berangkat dari itu tekad, rumah yang berisi dua jenis kelamin yang berbeda tepatnya ayah dan ibu ditinggalkan sejenak -entah lama atau benar sejenak-. Suara riuh anak bermain di gang kumuh dihapus dalam catatan lamunan.

Jerit suara adik yang selalu meminta untuk ditemani saat waktu sekolah tiba, tak dihiraukan. Lambaian tangan kawan sepermainan sedari kecil tak diindahkan. Ya, tekad itu yang membuat seolah diri tak punya rasa yang berperasaan. Bukan karena tidak peduli, kebulatan tekad menggebu dalam sanubari untuk mengolah segala sumber daya manusia dan sumber daya alam perkampungan yang berada jauh dari kampung halamannya menjadi penendang diri untuk tidak melirik, seolah tidak berketidakpedulian terhadap corak beragam penghalang lingkungan sekitar diri berada.

Bone beranjak meninggalkan rumah dan kampung halaman yang membentuk dirinya sarat akan polemik batin yang menggebu, menggelora, juga tak sedikit melahirkan ketegangan dalam diri. Ia terasah rasanya oleh beragam bentuk persoalan ketimpangan dalam menjalankan berkehidupan, yang benar merasa dirinya paling benar, sementara yang miskin merasa dirinya paling miskin. Tidak ada dampak antara satu dengan yang lainnya, padahal adanya perbedaan adalah untuk saling isi dan melengkapi. Begitulah ia mempunyai pandangan hidup.

Pergi dengan sejuta tekad menambah wawasan intelektual dan intuisi, menghadang beragam gangguan rasa yang sesekali terselimuti kecemasan akan keberadaan yang ditinggalkan. Sikap seolah tidak menghiraukan beragam corak bentuk halangan, dijadikan kawan baik dari mulai menandaskan maksud untuk beranjak pergi meninggalkan rumah dan seisinya. 

Ia merasa keadaan yang sedang bergulir di kampung halamannya tidak akan bisa dibendung apalagi diubah oleh siapa pun selama individunya belum termasuk pada kategori individu yang bisa diperhitungkan. Kemampuan yang menghasilkan popularitas dan figuritas, satu-satunya alat untuk bisa bertahan hidup di kampung halamannya, gerutu dalam hatinya sebelum memutuskan untuk beranjak. 

Ia meyakini, di luar sana ia bisa menemukan beragam pengetahuan dan pengalaman yang kelak bisa disatukan dengan dirinya dan dijadikan senjata dalam menjalankan tugas sebagai manusia yang mempunyai jatah hidup penyisaan sebelum tiba pada masa perhitungan.

Sesekali ia merasa was-was untuk pergi meninggalkan rumah dan seisinya, namun tekad memberdayakan kemampuan diri, orang-orang yang pernah, masih, dan akan bertemu dalam perjalanan hidupnya terus membahana, menuntut ia untuk melahirkan sikap seolah tidak punya perasaan peduli bagi keluarga. 

Dengan ringan ia sampaikan pada kedua orang tuanya sewaktu mau berpamitan, "Aku pergi bukan karena tidak sayang, namun aku lebih peduli terhadap lingkungan ketimbang kepentingan keluarga", itulah yang disampaikan Bone pada kedua orang tuanya yang mencoba menghalangi dengan bahasa tubuh yang tidak melahirkan bahasa verbal yang tidak menutup kemungkinan sering mengakibatkan kesalahpahaman.

Tampak tatapan sayu mata ibunya mencoba menghalangi supaya anaknya tidak pergi, namun ia seolah tidak melihatnya. Haru ia rasakan saat melihat ibunya mengeluarkan air mata kepiluan tanda tidak terlalu lepas merelakan pilihan hidup anaknya. Namun karena tekad memberdayakan potensi diri dan orang banyak, ia seolah tidak menggubris pilu yang dirasa ibunya. 

Dalam hati, kecamuk naluri seorang anak takut menjadi sosok durhaka sempat menyelimuti suasana batin yang sarat akan tekad dan harapan untuk diri, keluarga, dan lingkungan. Ia coba tandaskan dalam hati paling dalam, keberanjakan dirinya dari keluarga dan kampung halaman bukanlah karena dasar ambisi atau kekecewaan terhadap keadaan lingkungan yang dirasa janggal dalam rutinitas kesehariannya, melainkan untuk maksud baik bersama.

Setelah melewati kecamuk dan aral melintang dalam berbagai upaya larangan yang dilontarkan pihak keluarga, ia bersikukuh untuk beranjak yang pada akhirnya dengan gontai kaki dilangkahkannya secara perlahan meninggalkan rumah dan pengisinya yang menampakkan duka mendalam karena keputusan yang diambil oleh anaknya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x