Balya Nur
Balya Nur wiraswasta

yang penting menulis, menulis,menulis. balyanurmd.wordpress.com ceritamargadewa.wordpress.com bbetawi.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Politik

Politik Tanpa Identitas

8 Januari 2018   10:15 Diperbarui: 8 Januari 2018   10:19 456 2 2

 CNN Indonesia, KompasTV, Metro TV nggak ada bosen-bosennya  ngerumpiin politik identitas. Walaupun nggak disebutkan partai apa yang  dikomporin, publik sudah paham lah. 

Setelah Gerindra, PKS, dan PAN bikin  reuni, serangan kampanya negatif dengan tuduhan pengusung politik  identitas dialamatkan ( walaupun tidak disebut nama partanya ) kepada   ketiga partai tersebut. Latar belakangnya tentu saja Pilkada DKI. 

Mereka mengkampanyekan, kedepankan program! Adu program  adalah tanda berpolitik yang beradab!  Tapi prakteknya, kampanye belum  dimulai, serangan kampanye negatif sudah dilancarkan. Lihat saja nanti,  hitung prosentasenya. Apakah merekeka lebih banyak bicara program atau  lebih banyak ngerumpi nyinyir soal politik identitas?

Tanpa mereka sadari, bolehlah disebut mereka terjebak dalam narasi  oksimoron, majas pertentangan, lawan kata diucapkan dalam satu frasa  yang sama. Dan itu nampaknya sudah bawaan, mengendap dalam alam bawah  sadar. Ketika mereka berkata jujur, maka keluarlah majas oksimoron, hoax  yang membangun.

Kekalahan di DKI memang menyakitkan. Menyisakan  trauma berkepanjangan. Bayangkan, sudah anteng punya cagub dengan  elektabilitas yang tinggi, didukung kerumunan parpol , membanjiri  Jakarta dengan sembako, eh kalah sama jagoan yang datang saat injury  time. Daripada menanggung malu, harus ada alasan yang rada masuk akal.  Ketemulah tuduhan politik identitas.

Politik identitas dijadikan  semacam hantu. Ada tapi tidak kelihatan hingga tidak bisa tersentuh  hukum. Kalau ditanya, apakah Gerindra, PKS, dan PAN melanggar  undang-undang? Jawabannya, tidak. Apakah ketiga parpol itu berbuat  curang? Jawabannya, tidak. Lalu kenapa sampai sekarang diserang dengan  tuduhan seolah-olah bermain kotor? 

Tentu saja karena tidak  dapat menerima kenyataan, cagub yang kesohor bukan hanya tingkat lokal ,  dan menjadi simbol NKRI, simbol Pancasila, bisa kalah dengan gubernur  yang mereka tuduh intoleran. 

Kalau Cagub mereka menang, mereka  menganggap kemenangan Pancasila, karena kalah maka mereka anggap sebagai  kekalahan pancasila sebagaimana terbaca dalam ratusan (ribuan? )  karangan bunga. Jelas mereka sedang mengarang bebas.

Okelah,  silakan terus bombadir ketiga  partai reuni itu sebagai pengusung  politik identitas. Maka kebalikannya, berarti mereka berpolitik tanpa  identitas, alias nggak jelas.

Politik tanpa identitas susah  dipegang buntutnya. Maunya ke kanan, nggak tahunya ke kekiri. Maunya  maju, nggak tahunya mundur. Kemarin bilang, jangan bawa-bawa suku, hari  ini membawa-bawa suku. 

Kemarin bilang, jangan memilih berdasarkan agama,  sekarang malah bangga karena cagub atau cawagubnya telah direstui oleh  ulama. Membanggakan cawagubnya mewakili santri. Politik tanpa identitas  memang kerap bikin kejutan. Tapi pada akhirnya, kemungkinan besar malah   bikin mereka terkejut sendiri!

 08012018