Hiburan Pilihan

"Second Act", Kritik yang Ringan bagi Dunia Kerja

12 Februari 2019   11:27 Diperbarui: 12 Februari 2019   13:21 95 2 0
"Second Act", Kritik yang Ringan bagi Dunia Kerja
Poster SECOND ACT| Sumber: STX Films

Sutradara : Peter Segal

Pemain : Jennifer Lopez, Vanessa Hudgens, Leah Ramini, Treat Williams, Milo Ventimiglia, Annaleigh Ashford

Genre : Drama Komedi

Terkadang hidup memang tidak adil bagi mereka yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan. Sebut saja MAYA (Jennifer Lopez), perempuan cantik yang bekerja sebagai staf pasar swalayan. Kehidupan, karir, dan percintaannya terlihat sempurna di awal, tapi kemudian muncul lulusan baru bergelar Magister Bisnis mengambil alih pekerjaan Maya yang sudah digelutinya selama 15 tahun itu. 

Kontribusi besar Maya terhadap pasar swalayan itu tidak dihargai seperti yang diharapkan. Posisinya tergeser karena Maya bukan sarjana, apalagi magister. Bahkan, Maya tidak lulus SMA.

Saat ulang tahun ke-40, Maya memanjatkan doa agar dunia menghargai kecerdasan orang sama rata. Esoknya, Maya mendapat panggilan wawancara di sebuah perusahaan besar untuk mengisi posisi konsultan eksekutif di sana. 

Maya semakin kaget saat pewawancara membacakan CV-nya yang menyatakan bahwa Maya adalah lulusan Harvard dengan predikat cum laude. Ia pun menghadapi dilema berat, antara menerima kerjaan konsultan itu dan tetap berbohong pada atasannya atau bertahan diperlakukan tidak adil di pasar swalayan dan mengakui kebohongannya.

Adegan dalam SECOND ACT| Sumber: STX Films
Adegan dalam SECOND ACT| Sumber: STX Films
Sejak sepuluh menit pertama, film ini sudah menunjukkan taringnya. Ide ceritanya sangat universal dan dekat dengan siapa saja, terutama perempuan. Apalagi, perempuan yang disorot adalah perempuan hampir berumur setengah abad, tanpa pendidikan tinggi, tapi sejuta pengalaman. 

Kita bisa menemukan kasus ini di tempat kita bekerja, di mana kecerdasan seseorang hanya dibuktikan dari secarik kertas bernama ijazah dibanding keterampilan dan pengalaman yang mumpuni. Bukan berarti film ini sinis pada kaum berpendidikan, tapi lebih berupa kritik sosial bagi para atasan untuk menghargai loyalitas dan dedikasi tinggi pekerjanya, tanpa harus mempermasalahkan gelar pendidikannya dan lulusan dari kampus mana.

 Semua pesan di atas disampaikan dengan sangat gamblang tapi juga ringan karena dibalut komedi persahabatan, roman percintaan, dan drama keluarga lewat hubungan anak dan ibu yang memiliki masing-masing porsi yang pas untuk keseluruhan cerita.

Adegan dalam SECOND ACT| Sumber: STX Films
Adegan dalam SECOND ACT| Sumber: STX Films
Perubahan karakter Maya dari idealis sampai akhirnya berkompromi pada keadaan terlihat sangat natural. Pesona Jennifer Lopez sebagai Maya memang tiada duanya, tapi ia tidak hanya mengandalkan kecantikan dan keseksiannya saja. Aktingnya juga semakin baik, terutama saat ia berperan sebagai ibu. Emosinya cukup dalam sehingga membuat film ini semakin mengharukan.

 Sayangnya, ia tidak cukup berperan dalam mengembangkan komedinya, padahal film ini memiliki porsi komedi yang lumayan besar dan leluconnya selalu tepat sasaran.

Adegan dalam SECOND ACT| Sumber: STX Films
Adegan dalam SECOND ACT| Sumber: STX Films
Secara keseluruhan, Second Act melampaui ekspektasi saya saat pertama kali melihat poster dan trailer-nya. Sama sekali bukan tontonan yang buruk. Bahkan, ini bisa menjadi film yang inspiratif bagi para perempuan, bukan hanya pada soal pekerjaan, tapi juga pilihan hidup yang berat. Tonton Second Act di bioskop mulai 13 Februari 2019.