Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Mohon Tunggu... Tan keno kinoyo ngopo

Juru Bicara Danyang, dan Lelembut Nusantara

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi: Rusa-Rusa

11 Februari 2021   20:02 Diperbarui: 13 Februari 2021   06:19 177 28 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi: Rusa-Rusa
Dok pribadi._ 2016

Rusa-rusa

Rusa-rusa tidak memiliki hutan belantara di dalamnya,
Mereka justru lebih murah hati,
Puas di dalam sel yang sangat panas di hati mereka
Untuk makan roti tawar dan berdebu.

Rusa-rusa tidak melihat ternak yang sedang menanam rumput
Mereka tidak mendengar
air curug cilembur turun di bawah gorong-gorong
Dangkal dan jernih.

Rusa-rusa menunggu, harus beralih ke perjalanan,
Mereka kaku, ketika berlari harus membungkuk.
Mereka menggunakan kebajikan itu untuk melawan diri mereka sendiri
yang tidak ada orang yang menjadi teman.

Rusa-rusa tidak bisa memikirkan tanaman di ladang
atau kayu bersih yang dibelah oleh kapak.
Cinta mereka adalah ketidakberartian yang
terlalu tegang, atau terlalu lemah.

Rusa-rusa mendengar dalam setiap bisikan yang berbicara
Sebuah teriakan dan teriakan.
Sama seperti tidak, ketika mereka mengambil kehidupan di atas ambang pintu mereka
Mereka harus membiarkannya berlalu.

Rusa-rusa datang ke rumah, di gua pepohonan,
Menghadapi langit yang tipis.
Segalanya bergerak, lonceng tergantung siap menyerang,
Matahari, bulan, bintang berputar.

Ketika mata telanjang ada di hadapanku
Dan rambut yang mendesis,
Ditahan di jendela, terlihat melalui pintu.
Mata lurus kaku, ular di dahi
Dibentuk terbang di udara.

Ini adalah pemandangan mati selamanya.
Tidak ada yang akan bergerak.
Akhir tidak akan pernah mencerahkannya di sini,
atau hujan yang kabur berganti gerimis.

Air akan selalu jatuh, dan tidak akan jatuh,
Dan semua seperti lonceng tidak bersuara.
Rerumputan akan selalu tumbuh untuk jerami
Jauh di tanah menjadi milik Rusa-rusa.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x