Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Mohon Tunggu... Wadian

Guru Besar Tetap Pascasarjana Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Bagimana Isi Otakmu, Episteme Membuat Keputusan [1]

15 Desember 2019   18:24 Diperbarui: 15 Desember 2019   18:46 79 1 0 Mohon Tunggu...
Bagimana Isi Otakmu, Episteme Membuat Keputusan [1]
dokpri

Bagaimana  isi Otakmu,  Episteme Membuat Keputusan [1]

[Judgment] adalah cara membuat simpulan, atau penilaian, atau penghakiman, sebagai sesuatu  tidaklah mudah. Maka dalam tulisan ini saya memaknai kata ["Judgment"] sebagai Keputusan; Karena tidak mudah maka tentu membutuhkan kompetensi, pendasaran yang rigit, teliti, teruji, bahkan dapat melampaui teks literasi pada kata ["Judgment"] itu sendiri.

Ada yang disebut dalam tradisi akademik adalah pendekatan Maksim.  Maksim adalah prinsip tindakan subjektif, yakni prinsip yang ditetapkan sendiri dan ditaati sendiri oleh seorang individu. Itu adalah ciri orang yang bebas atau otonom, yakni memberi hukum untuk diri sendiri dan ditaati sendiri. Autonom dari bahasa Yunani. Auto = sendiri, nomos = hukum. Lawan dari maksim (prinsip tindakan subjektif) adalah prinsip tindakan objektif, yakni aturan bertindak yang didasarkan atas hukum dan berlaku bagi semua orang;

Maka yang paling mungkin dalam tradisi akademik [Kampus] dimungkinkan jawaban diperoleh. Salah Satu cara atau episteme yang mungkin adalah menggunkan filsafat Kritisisme adalah filsafat yang terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya sebelum tindakan mengetahui dengan menggunakan rasio itu dijalankan. Kritisisme dipertentangan dengan dogmatisme, yakni filsafat yang langsung menjalankan tindakan mengetahui sebelum kemampuan rasio dan batas-batasnya diketahui. Dogmatisme percaya begitu saja terhadap kemampuan rasio, dan berpikir dengan menggunakan kategori-kategori metafisis, seperti Allah, substansi, esensi, dll, tanpa lebih dulu menyelidiki apakah memang rasio memiliki kemampuan untuk mengetahui hal-hal tersebut.

Dalam filsafat Kant ada tiga jenis keputusan atau (Judgment) yakni [1] Putusan analitis: putusan yang tidak menambahkan sesuatu pada subjek; hanya mengeksplisitkan apa yang telah terkandung pada subjek. Mis: Bujangan adalah orang yang tidak menikah. Lingkaran itu bulat. Dalam konsep "lingkaran" telah terkandung konsep "bulat".

Dalam konsep "bujangan" telah terkandung konsep "tidak menikah". Putusan ini tidak menghasilkan pengetahuan baru, tidak memperluas pengetahuan, dan karena itu tidak dapat menjadi prinsip pengetahuan. Putusan ini khas putusan rasionalisme (Descartes, Leibniz, Wolff).

Kedua [2]  Putusan sintetis: putusan yang menambahkan sesuatu pada subjek berdasarkan pengalaman (= putusan sintetis aposteriori). Misalnya: ruangan ini dingin. Dalam konsep ruang" tidak terkandung konsep dingin". Konsep dingin" diatributkan sebagai predikat kepada konsep ruang berdasarkan pengalaman (=aposteriori). Karena itu sifatnya sintetis aposteriori. Putusan ini khas empirisme (Hume, Locke).

Dan ke [3]  Putusan sintetis aposteriori memperluas pengalaman, namun pengalaman hanya memberikan hal-hal partikular dan tidak niscaya. Dari is" (ada) tidak boleh secara logis diturunkan ought" (harus). Sementara putusan ilmu pengetahuan selalu niscaya (notwendig) dan universal (allgemein). Mis: setiap benda jatuh dari atas ke bawah"; semua kejadian pasti ada penyebabnya"; semua logam memuai kalau dipanasi". Karena itu baik putusan analitis (Erlauterungsurteil, putusan yang mengeksplisitkan) maupun sintetis (Erweiterungsurteil, putusan yang memperluas) tidak dapat dijadikan sebagai prinsip pengetahuan.

Putusan yang menjadi dasar ilmu pengetahuan itu disebut Kant putusan sintetis apriori. Putusan semua kejadian pasti ada penyebabnya" bersifat sintetis karena predikat penyebab" tidak secara konseptual terkandung dalam konsep kejadian", melainkan itu ditambahkan, tapi bukan secara aposteriori (karena kita menghasilkan keputusan tersebut tanpa harus meneliti semua kejadian yang pernah ada di muka bumi ini), melainkan secara apriori. Dan putusan itu juga universal karena kata putusan itu berlaku di mana-mana dan kapan pun (lihat kata semua"). Prinsip atau pernyataan yang berlaku dalam ilmu-ilmu alam bersifat sintetis dan apriori dan karena itu universal dan niscaya.Fakta keberlakuan putusan sintetis apriori (sebagaimana terlihat dalam pernyataan-pernyataan ilmu-ilmu alam) membuktikan bahwa ada struktur-struktur apriori dalam diri subjek yang memungkinkan pengetahuan. Struktur apriori yang memungkinkan pengetahuan inilah yang diteliti Kant dalam filsafat transendentalnya.

Kant kemudian memperlihatkan struktur-struktur apriori itu adalah  Ruang dan Waktu, dan [b]  12 kategori-kategori transendental dan [c] Saya transendental (das transzendentales Ich). Melalui sintesis yang dilakukan oleh struktur-struktur apriori inilah pengetahuan menjadi mungkin.

Teori penilaian, apakah penilaian kognitif (yaitu, yang mewakili objek, yang mengekspresikan pikiran, kebenaran) atau praktis (yaitu, yang mewakili tindakan, yang mengekspresikan pilihan, penilaian yang tepat) penilaian, menyatukan isu-isu mendasar dalam semantik, logika, psikologi kognitif, dan episteme  (secara kolektif menyediakan apa yang bisa disebut empat "wajah" penilaian kognitif serta teori aksi, psikologi moral, dan etika (secara kolektif menyediakan tiga "wajah"  pada  penilaian praktis): memang, gagasan penilaian adalah pusat pada  teori umum rasionalitas manusia. Tetapi teori penilaian Kant berbeda secara tajam pada  banyak teori penilaian lainnya, baik tradisional maupun kontemporer, dalam tiga cara: (1) dengan mengambil kapasitas bawaan untuk penilaian menjadi pusat kognitif pusat pada  pikiran manusia yang rasional, (2) dengan menegaskan pada prioritas semantik, logis, psikologis, epistemik, dan praktis pada  konten proposisional penilaian, dan (3) dengan secara sistematis menanamkan penilaian dalam metafisika idealisme transendental. Beberapa masalah serius dihasilkan oleh interaksi dua faktor pertama dengan faktor ketiga. Ini pada gilirannya menunjukkan dua bagian lain pada  teori penilaian Kant dapat secara logis dilepaskan pada  versi terkuat pada  idealisme transendentalnya dan dipertahankan secara independen pada nya. Entri ini mencakup lima dokumen tambahan yang meliputi (i) perdebatan tentang konseptualisme Kant vs. non-konseptualisme Kant, (ii) epistemologi penilaian Kantian dan etika kepercayaan Kantian, (iii) logika Kant dalam kaitannya dengan teorinya tentang penilaian, (iv) berbagai jenis penggunaan untuk penilaian, dan (v) melengkapi gambaran metafisika penilaian Kant.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN