Mohon tunggu...
Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Mohon Tunggu... Wadian

Guru Besar Tetap Pascasarjana Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Metafisika Perjamuan Malam Terakhir Pada Pemindahan Ibu Kota Negara

16 Agustus 2019   01:41 Diperbarui: 16 Agustus 2019   04:31 0 2 2 Mohon Tunggu...
Metafisika Perjamuan Malam Terakhir Pada Pemindahan Ibu Kota Negara
ilustrasi pribadi

Tulisan ini adalah tulisan seniman, dan para pembacanya pun harus seorang seniman. Dan mereka yang paham tentulah sebagai akhli seni, dan mampu membuat seni pada penciptaan seperti Dunia Michelangelo 1475-1564.

Tidak adanya akar pasak yang memaku bumi, dan ketiadaan pijakkan yang kokoh maka tidak akan ada seni yang bisa dilahirkan kembali. Saya sering mengakui pada diri saya sendiri: semakin saya berpikir tentang perubahan iklim, semakin saya kehilangan harapan. 

Harapan pada pertumbuhan populasi horison-masif, pertanian yang semakin maju, dan konsumsi yang berkembang pesat   adalah hal yang memicu alarm atau Gong itu berbunyi malam ini.

Gong dan palu itu berbunyi sebagai tanda  gelombang pasang nasionalisme, perpecahan politik yang semakin dalam, dan ketidakmampuan untuk mencapai konsensus mengenai pertanyaan kebijakan publik yang paling mendasar sekalipun. 

Bunyi Gong itu melambangkan sosok yang tragis, seseorang yang, dalam menghadapi kesulitan, juga memenangkan hidupnya dengan menegaskan alam di luar ketakutan dan kesedihan. 

Gong itu berbunyi menangani skala ontologis berkaitan dengan perubahan iklim adalah langkah penting untuk reformasi, tetapi pengekangan kita sendiri dalam melihat bencana iklim hanya sebagai tujuan akhir yang telah ditentukan membuat kita tetap berada dalam kelumpuhan moral manusia terakhir.

Ketika Gong dan palu disatukan menghasilkan bunyi terlepas dari semua ini, dalam banyak hal tampaknya lebih tepat untuk memiliki alasan untuk merayakan. Meskipun kita telah diberitahu  habitat tidak pernah menghadapi bahaya yang lebih besar, kita   tidak pernah merasa lebih nyaman, tidak pernah bisa makan dan minum dengan baik. Dengan demikian, kita dibiarkan merasa ditakdirkan menuju nasib dekadensi alienasi yang luar biasa sebelum akhirnya kehancuran.

Gong dan palu disatukan menghasilkan bunyi sebagai tanda perjamuan terakhir di malam berjumlah weton [neptu 13] Jumat Pon 16  Agustus 2019 adalah kehilangan lahan hidup, tidak baik untuk bepergian, mencari nafkah, membuat sumur dan membuka perkarangan. Pemarah, suka mengganggu orang lain, suka berbohong dan wataknya seperti seorang yang berlaku seperti bintang (lakuning bintang);

Ketika Gong dan palu disatukan menghasilkan bunyi akan ada kembalian 49 kali lebih sama dan setara neptu [13] atau sama  3 episode [menit, jam, hari, minggu, bulan tahun, windu, abad, jutan tahun] adalah waktu dengan seni memahami  "Gong dengan palu berbunyi sendiri" untuk menggambarkan proses memeriksa apakah berhala itu 'sehat' atau 'suci', apakah mereka layak mendapatkan status   sebagai berhala, seperti Napoleon yang berkemauan keras. atau 'berhala palsu' yang lemah, seperti Victor Hugo.  

Untuk lebih lanjut tentang apa yang merupakan yang kuat dan yang lemah atau bagaimana menguji seorang idola, mungkin mengajukan pertanyaan lain.

Ketika Gong dan palu disatukan menghasilkan bunyi pada hari asing pantang di siang bolong tanggal 16 Agustus 2019, tetapi seni ini diciptakan  malam Jumat Pon adalah Bukti: pendapat yang cukup diterima untuk "Gong dengan palu", saya tidak akan menjelaskan secara terperinci memberikan bukti untuk klaim saya.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4