Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Dosen

Guru Besar Tetap FEB Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Artikel Utama

Jakarta Banjir Disusul dengan Kebanjiran Kata-kata

27 April 2019   15:46 Diperbarui: 27 April 2019   18:35 4492 22 14
Jakarta Banjir Disusul dengan Kebanjiran Kata-kata
Kompas.com/Jessi Carina

Judul ini "Jakarta Banjir, Jakarta Banjir Kata-kata", sengaja dibuat sesuai dengan fakta berita pada Liputan6.com:

Jakarta - Lebih dari 2.000 warga DKI Jakarta mengungsi akibat banjir di beberapa titik di Ibu Kota. Banjir terjadi karena meluapnya Sungai Ciliwung, pada 26 April 2019 lalu.

"Warga yang masih mengungsi hingga saat ini terdiri dari 416 KK dan 2.370 Jiwa. Lokasi pengungsi berada di 15 titik lokasi di Jakarta Timur," ujar Kapusdatin BPBD DKI Jakarta, Muhammad Ridwan dalam keterangan tertulis, Sabtu (27/4/2019). Berdasar data BPBD DKI Jakarta, masih ada 37 titik di Ibu Kota yang masih terendam banjir. Di antaranya 14 titik di Jakarta Selatan, 21 titik di Jakarta Timur, dan dua titik di Jakarta Barat.

Daerah yang masih terdampak banjir di Jakarta Selatan tepatnya di Kelurahan Pengadegan RW 01, Kelurahan Rawa Jati RW 01, 03, 07, Kelurahan Pejaten Timur RW 05, 06, 07, 08, Kelurahan Kebon Baru RW 010, Kelurahan Bangka RW 02, Kelurahan Petogogan RW 02, Kelurahan Pondok Pinang RW 05, 08 dan Kelurahan Pondok Labu RW 03 dengan ketinggian banjir berkisar antara 10 cm hingga 220 cm.

"Sedangkan untuk Wilayah Jakarta Timur tepatnya di Kelurahan Cawang RW 01, 02, 03, 05, 08, 012, Kelurahan Kampung Melayu RW 04, 05, 06, 07, 08, Kel. Bidara Cina RW 04, 05, 06, 07, 011, 012, 014, 015, 016 dan Kel. Kebon Manggis RW 04 dengan ketinggian banjir berkisar antara 10 cm hingga 225 cm."

Siapa sebenarnya bertanggungjawab pada terjadinya banjir yang sudah dari 30 tahun ini sering terjadi, dan terus akan terjadi di Jakarta.

Jawabannya bisa macam-macam, tentu saja bertanggungjawab adalah kita semua, mulai dari masyarakat misalnya tidak membuang atau menjadikan kali sebagai tong sampah. Sampah kulkas, lemari, kasur, sprei, meja, kompor, botol minuman plastic dan seterusnya adalah ikut menyumbang terjadinya banjir di Jakarta. Ini menunjukkan pentingnya kita sama-sama menjaga sungai, tidak membuang sampah ke sungai sejak dari hulu sampai hilir.

Tetapi saya membaca di berita media, ada kritik tajam termasuk meme dan menanyakan kepada punggawa DKI 1, bagimana ide gagasan, dan tindakan apa yang sudah terukur nyata untuk mengurangi banjir kerugian mental, materi warga Negara. Artinya banjir Jakarta harus ada tindakan nyata dan kongkrit praktik dan bukan dengan istilah Jakarta Banjir ; Jakarta Banjir Kata-kata.

Dokpri
Dokpri

Banjir kata-kata apapun itu adalah alasan, dan alasan akhirnya mempertanyakan kemampuan menjadi pemimpin menjadi ganjal dan melemahkan martabat manusia. Apa lagi menyalahkan air mengalir dari hulu ke hilir [banjir kiriman].

Kiriman dari mana semua hukum alam menyatakan air mengalir demikian. Kata kiriman dari Katulampa ini menunjukkan sikap mental berpusat mencari kesalahan kondisi, kesalahan orang lain, salah kondisi, salah alam, dan seterusnya. Apapun itu adalah alasan, dan alasan kepada objek lainnya. Itulah tugas pemimpin mencari alat sarana supaya banjir dapat diminimalkan tidak terulang kembali. Bukan mencari alasan, dan meminta pengertian untuk memaafkan, dan terus mentoleransi sikap mental seperti itu.

Mengatasi banjir tentu bukan dengan lagu, prosa, puisi atau kata-kata manis, dan retorika palsu, tetapi wajib memiliki alat ukurnya jelas, dampaknya jelas debit air yang menerjang warga Negara Jakarta dinyatakan berkurang atau tidak. Bukan pakai banjir Kata-Kata, tetapi pakai fakta.

Jakarta Banjir; bersamaan dengan Banjir Kata-Kata menunjukkan cara kerja manusia yang paling bertanggungawab tidak memiliki isi pikiran, dan gerak tidakan pada apa yang disebut model (PDCA), Plan, Do, Check, Act, Cycle atau (siklus: perencanaan, kerjakan, cek, tindak lanjuti) seperti ide Edwards Deming.

Maka Jakarta Banjir tidak membutuhkan Kata-Kata [alasan] jika semua sudah terukur terintegrasi dalam tatanan Plan, Do, Check, Act [PDCA].

Jakarta Banjir; Bersamaan Banjir Kata-Kata dapat dipahami dengan meminjam konsep Anthony Giddens sebagai penesehat PM Inggris Tony Blair.

Anthony Giddens menawarkan apa yang disebut subjek-pelaku politik (political agency). Menurut Anthony Giddens ada perbedaan jarak secara jelas antara mengetahui [memahami] kebaikan, dengan melakukan [bertindak] kebaikan.

Jika dikaitkan dengan tulisan fenomena banjir Jakarta, maka ada perbedaan jarak jelas antara mengetahui [memahami] banjir Jakarta, dengan melakukan [bertindak] supaya Jakarta tidak banjir. 

Problemnya ada di sini bagimana, ,di mana, dan apa yang dilakukan oleh punggawa DKI 1 untuk melakukan [bertindak] supaya Jakarta tidak banjir, sekali lagi bukan pakai puisi, kata-kata, atau retorika tanpa perbuatan. Atau, disebutkan "kata-kata tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah kematian mental iman" atau tidak berguna [(Yak 2:26)].

Maka kepada yang mulia punggawa DKI 1 wajib melakukan [bertindak] seperti dikatakan Anthony Giddens pada bukunya, Modernity and Self Identity (1991), yang menyebutkan perlu dibuat sarana atau alat (di sebut "modalitas").

Dan kita menyaksikan ["alat atau modalitas dan fasilitas "] apa yang sudah dibuat dibangun dilakukan kemudian memiliki dampak menghentikan/mengurangi banjir di Jakarta belum ada terlihat secara nyata dan kongkrit.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2