Prof. Dr. Apollo (Daito)
Prof. Dr. Apollo (Daito) Dosen

Guru Besar Tetap FEB Universitas Mercu Buana; Guru Besar Tidak Tetap FEB Universitas Trisakti; Guru Besar Tidak Tetap Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie; Guru Besar Tidak Tetap Program Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Pancasila; Waktu Lahir Pernah Meninggal Dunia Selama 6 Jam, kemudian Hidup Kembali saat akan dimakamkan, Sejak lahir diberikan bakat metafisik dan indera keenam atau [Indigo]

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Filsafat Aristotle: Kemenangan Pasangan 02 di Pilpres 2019 pada Angka 62% atau 80%?

25 April 2019   12:42 Diperbarui: 25 April 2019   13:19 122 0 0
Filsafat Aristotle: Kemenangan Pasangan 02 di Pilpres 2019 pada Angka 62% atau 80%?
dokpri

Filsafat Aristotle: Kemenangan Pasangan [02] Pilpres 2019 pada Pada  62% atau 80%

Tulisan ini pada berita di Detiknews Rabu 24 April 2019, 17:18 WIB pernyataan  Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Djoko Santoso, mengklaim paslon 02 bisa menang telak jika tak dicurangi. Dia mengklaim angka kemenangan bisa di angka 80%.

"Pada tanggal 17 April, dan hasilnya memang Prabowo-Sandi menang. Walaupun sebelum tanggal 17, tanggal 17 dan setelah tanggal 17 mereka curang terus. Curangnya ini sudah tidak aturan, mereka secara masif, terencana sistematik, dan brutal," kata Djoko di Padepokan Pencak Silat TMII, Jakarta Timur, Rabu (24/4/2019). "Namun demikian masih tersisa suara 62%, dan itulah Prabowo-Sandi menyatakan kemenangan setelah dicurangi. Kalau nggak dicurangi, bisa 70 atau 80%," sambungnya.

Sekalipun bukan keputusan akhir namun pada saat yang sama hasil lembaga survey Quick Count Pilpres 2019 yakni, Litbang Kompas, Indo Barometer, LSI Denny JA, Median Kedai Kopi, menghasilkan simpulan statistika bahwa pemenang adalah Calon Nomor Urut 01 diantara kisaran 54%, dan pasangan nomor urut 02 diantara kisaran 46%. Dan data sampling terkumpul mendekati angka 100% sudah masuk terkumpul. Demikian juga hasil Akhir Quick Count Charta Politika: Jokowi 54,66% Prabowo 45,34%; hal yang sama pada hasil Quick Count Sementara CSIS-Cyrus: Jokowi 55,7% Prabowo 44,3%. 

Demikian juga lembaga survey lainnya menghasilkan simpulan yang sama. Dan kita tahu semua bahwa survey tersebut telah ditempuh dengan tatanan ilmu [episteme] yang ketat, valid, reliable, dan menjadi seluruh tradisi ilmiah dalam 22 abad lebih menjadi patokan dalam mencari kebenaran. Maka wajar bila pemilihan umum diluar negeri hasil Quick Count adalah tanda awal rekonsiliasi awal para candidat presiden dengan saling telephone mengucapkan selamat, dan semangat persatuan untuk seluruh warga Negara. Atau dalam istilah lain hasil Quick Count tanpa munculnya "for the great happiness for the great number" atau angka terbanyak adalah symbol kehendak rakyat, wujud hakekat demokrasi dalam martabat manusia universal.

Soal siapa yang menang dan siapa yang kalah itu adalah wajar, sebagaimana atas bawah, muka belakang, kiri kanan, siang malam, susah bahagia, tinggi pendek adalah diktotomi pola binerny kebenaran. Dia adalah perjalanan takdir manusia dan alam menjadinya semua nya ada indah baik, dan benar.

Tidak apa-apa siapapun pemenangnya tidaklah menjadi soal, rakyat semua berbahagia sepanjang kemenangan itu  akan menjadikan Indonesia menjadi lebih baik, memperhatikan nasib bangsa Negara dan tanah air Indonesia yang berkeadilan social bagi kita semua.  

Tidak apa-apa siapapun pemenangnya tidaklah menjadi soal,  siapapun yang menang jangan sombong, dan yang kalah legowo. Yang utama bagi masyarakat adalah tugas para punggawa Negara untuk memperhatikan nasib harga bahan pokok Rakyat, memperluas lapangan pekerjaan, menaikkan rasio GDP, membangun budaya dan etos sumberdaya manusia, menciptakan iklim usaha yang baik, menghukum mati para koruptor, termasuk menurunkan harga tarif tol yang mahal, membangun basis data kependudukan (eKTP), termasuk kewajaran tiket pesawat, sampai memperluas akses masyarakat pada perbankan dimana 60% penduduk Indonesia ini belum punya buku tabungan.

Kembali ke tema awal, adalah bagimana pandangan paradox pada  pemikiran filsafat Aristotle: Angka 62%; atau 82% Kemenangan Pemilu Pilpres 2019 khususnya pasangan nomor urut [02], dan menyatakan pemilu ditandai dengan kecurangan dan tidak jujur adil. Tentu saja kata-kata atau [retorika] semacam ini perlu didalami dengan baik bijaksana, dan disikapi tenang, tidak panik serta memerlukan kerangka berpikir yang handal.

Apalagi hasil  real count KPU terbaru .Pilpres 2019 versi Kamis 25 April 2019 Pukul 08.00 WIB, data masuk 32,41938%, Hasil real count Pilpres 2019 KPU dapat dipantau melalui situs resmi KPU, pemilu2019.kpu.go.id. Per tanggal 25 April 2019 pukul 08.00 WIB, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin masih unggul dengan 27.657.375 suara atau 55,81% persen. Sementara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat 21.897.226 suara atau 44,19 persen. Hasil tersebut diambil dari 263.683 TPS dari total 813.350 TPS atau data masuk masih masih 32,41938 persen.

Baiklah, untuk memahami klaim kemenangan  pada berita di Detiknews Rabu 24 April 2019, 17:18 WIB pernyataan  Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Djoko Santoso, mengklaim paslon 02 bisa menang telak jika tak dicurangi. Dia mengklaim angka kemenangan bisa di angka 80%, saya meminjam pemikiran Aristotle untuk sedikit membuka sudut padang [world view] tentang fenomena ini:

Ke [1] Dokrin Aristotle "Episteme Dianoia", untuk membuat ketegakan "eidos" atau pikiran (nous) dalam hubungan dengan jiwa rasionalnya (soul) untuk menghasilkan kesimpulan yang memadai. Dengan episteme Dianoia ini memungkinkan  maka bisa disebut  "Manusia adalah makluk rasional" (dalam teori antropologi dan etikanya); "Manusia sebagai subjek pengetahuan" (gagasan filsafat-nya); manusia sebagai makluk hidup masyarakat (teori polis). 

Ketegori ini lah menghasilkan "peradaban" manusia yang baik dalam pendidikan [paidea] bagi rakyat Indonesia.  Dengan meminjam pemikiran Aristotle apakah pernyataan kemenangan pasangan [02] pilpres 2019 pada angka 62% atau 80%  memiliki kaidah kebenaran.  Jelas jika meminjam pemikiran Aristotle maka jawabannya adalah  "[tidak cukup]" masuk akal.

Ke [2] Mengapa tidak cukup. Karena ketegakan "eidos" atau pikiran (nous) dalam hubungan dengan jiwa rasionalnya (soul). Pernyataan angka 62% atau angka 80%, harus didasarkan pada  Jiwa yang sehat dan tegak bermanfaat bagi kemampuan berpikir logis dalam membuat keputusan yang benar dan tepat, berguna (hubungan dengan moral-politik, negara-kota). Istilah "jiwa" (soul) dalam hubungan dengan intelektual (nous) atau tatanan data, informasi, pengetahuan, metapengetahuan melalui ketepatan matematika statistika.

Implikasi pada Dokrin Aristotle "Episteme Dianoia",  memiliki dua bagian utama jiwa bertanggungjawab, yaitu: (1) Musyawarah atau perhitungan dan (2) Ilmiah atau teoritis. Point pertama (musyawarah atau perhitungan) kemudian Aristotle membaginya dalam sebuah divisi tripartit jiwa intelektual yang terdiri kemampuan dan validitas pengetahuan secara Teknis, Kehati-Hatian, Teoritis. 

Yang pertama (teknis) adalah seni. Istilah yang menunjuk pada hal-hal di luar tubuh manusia termasuk produk dari aktivitas manusia itu sendiri. Yang kedua (kehati-hatian), menunjuk pada jangka waktu dalam suatu kegiatan atau pengumpulan data untuk menyimpulkan angka 62% atau angka 80%. Jiwa yang tegak menjadikan manusia berbahagia (Eudaimonia) karena semua hasil angka angka 62% atau angka 80%, didasarkan pada logika deduksi induksi yang bertanggungjawab dan dapat diperikasa ulang. Artinya tujuan mengetahui angka angka 62% atau angka 80%,  yang dikejar adalah demi kepentingan diri sendiri, bukan demi kepentingan uang, jabatan, kekuasan, harga diri, ketakutan ketakutan lain. Aristotle menyatakakan tujuan kehidupan; kebahagiaan tertinggi, dikejar oleh tiap manusia yang berpikir secara murni (melalui jiwanya) atau manusia yang hidup dengan kemampuan daya rasional untuk martabat dan nama baiknya;

Ke [3]  Dengan meminjam pemikiran Aristotle apakah pernyataan kemenangan pasangan [02] pilpres 2019 pada angka   62% atau 80%  memiliki kaidah kebenaran.  Jelas jika meminjam pemikiran Aristotle maka jawabannya adalah  "[tidak cukup]" masuk akal.  Atau apakah angka 80% atau 62%, disebutkan sebagai kriteria kebenaran dalam tatanan episteme yang bertanggungjawab. Jelas jika meminjam pemikiran Aristotle maka jawabannya adalah  "[tidak cukup]". Mengapa tidak cukup. 

Saya meminjam dokrin selanjutnya pemikiran Aristotle membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga golongan yakni Techne Dianoia, Phronesis Dianoia, Episteme Dianoia. Secara teknis atau "Techne Dianoia  angka 80% atau 62%,  harus dibuktikan antara pemberi amanah [rakyat] atau suara pemilih menghasilkan ilmu pengetahuan produktif dan menghasilkan produksi teks angka akhir tersebut. Secara Phronesis Dianoia angka 80% atau 62%, dibuktikan dengan kemampuan mengambil sikap (tindakan etika) dan keputusan bijaksana dalam memecahkan persoalan data termasuk kecurangan apapun  melalui  intelligence, aret (virtue), eunoia (goodwill) atau demi kebaikan dan kebenaran yang bebas nilai kepentingan apapun.

Secara "Episteme Dianoia", angka 80% atau 62%, harus dicari tatanan pengetahuan teoretis (episteme) atau ilmu itu sendiri [datamatematika, data primer statistika] dan kebenaran dengan maksud angka 62% atau 80% itu ada pada dirinya sendiri. Kebenaran angka 80% atau 62%, wujud manusia berhasrat mengetahui dan ilmu bersifat independent bebas dari kepentingan apapun atau disebut Araistotle  manusia memiliki keutamaan kebebasan, dan bukan demi survive, atau ditundukkan pada kepentingan lainnya seperti jabatan kekuasan, uang atau laba rugi.

Ke [4] Dengan meminjam pemikiran Aristotle apakah pernyataan kemenangan pasangan [02] pilpres 2019 pada angka   62% atau 80%  memiliki kaidah kebenaran.  Jelas jika meminjam pemikiran Aristotle maka jawabannya adalah  "[tidak cukup]" masuk akal. Dengan meminjam pada four cause atau empat penyebab ada Aristotle.  Ada empat penyebab hadirnya menang atau kalah pemilu pilpres  adalah: (a) Causa material adalah bahan yang menjadi unsur untuk membuat segala sesuatu adalah kejadian [event] dalam hal ini hak pemilih dibalik TPS untuk memilih pasangan 01, atau 02;  (b) Causa forma adalah struktur atau hakekat yang membedakan dikthotomi pasnagan 01, atau pasangan 02 dalam angka matematika statistika terkumpul menjadi hasil perhitungan Quick Count atau secara resmi tabulasi data oleh KPU dan bentuk-bentuk pertanggungjawabnya;

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2