Filsafat Pilihan

Locke: Some Thoughts Concerning Education [5]

11 Oktober 2018   05:00 Diperbarui: 11 Oktober 2018   05:39 332 1 0
Locke: Some Thoughts Concerning Education [5]
Locke: "Some Thoughts Concerning Education" (5):

Locke: "Some Thoughts Concerning Education(5):

Buku dengan judul: ["Some Thoughts Concerning Education"] atau "Beberapa Pikiran Mengenai Pendidikan" diterbitkan dalam tahun 1693 oleh filsuf Inggris bernama John Locke.

Buku ini dengan mudah di download di google berbentuk pdf full text. John Locke, The Works of John Locke, vol. 8 (Some Thoughts Concerning Education, Posthumous Works, Familiar Letters) [1690]. Buku ini adalah nasehat bagi pendidik, orang tua, dan lembaga pendidikan di Indonesia masih relevan untuk dibatinkan kesesuaian dengan pemikiran Locke. Karena itu menjadi penting menjadi anak-anak atau pendidikan yang memiliki jiwa yang tegak dan utuh dan hanya berdiri pada unsur kebaikan, terbaik dari dirinya sendiri.

Locke: "Some Thoughts Concerning Education" pada tulisan ke lima  (5): membahas tentang "Cara Mencapai Otoritas Yang Diperlukan" atau "Pengelolaan Otoritas Orang Tua". Setelah meletakkan tujuan luas pendidikan moral (yaitu untuk menanamkan asas kebajikan) dan sarana luas mencapai tujuan itu (yaitu dengan membuat anak itu sepenuhnya taat kepada orang tuanya) Locke sekarang mulai menyelidiki masalah moral pendidikan lebih terinci. Locke mulai dengan menjelaskan bagaimana orang tua dapat mencapai jenis otoritas yang akan mereka butuhkan.

Ini sangat penting, menurut Locke, bahwa otoritas yang orang tua pegang atas anak-anak mereka didasarkan pada motivasi yang tepat. Seorang anak tidak boleh termotivasi untuk mematuhi orang tuanya karena takut akan hukuman fisik, atau karena dia mengharapkan imbalan materi (seperti uang, jajan, mainan atau permen). 

Sebaliknya, seorang anak hendaknya ingin mematuhi orang tuanya untuk memenangkan penghargaan dan menghindari aib di mata anak anak. Dengan kata lain, anak tidak boleh dimotivasi oleh kesenangan fisik atau rasa sakit, tetapi oleh sesuatu yang bersifat mental (sesuatu, seperti halnya hati nurani yang diharapkan akan menuntunnya di kemudian hari).

 Jika kita mencoba untuk memotivasi seorang anak dengan keinginan untuk mencapai kesenangan fisik dan untuk menghindari rasa sakit fisik, Locke menunjukkan, kita hanya memperkuat kualitas yang kita coba hancurkan atau merusak anak dikemudian hari. Orang tua membuat hasrat dan nafsu sekarang menjadi kebaikan akhir. Seluruh tujuan membantu anak menguasai kecenderungan semacam ini sehingga dia dapat mengikuti perintah akal.

Locke  menyebutkan beberapa alasan lain mengapa hukuman berat (baik fisik atau lainnya) bukanlah metode disiplin yang baik. Pertama-tama, hukuman berat dapat mematahkan semangat seorang anak. Ini akan menjadi hal yang mengerikan karena semangat material dan hukuman adalah kunci untuk menjadi anggota masyarakat kelak merusak hal yang lebih bermanfaat (belum lagi fakta bahwa seorang anak dengan roh atau mental  yang patah adalah hal yang sangat tragis). Kedua, jika hukuman tidak berhasil dalam memecah semangat anak, maka itu akan memberinya sifat pemarah. 

Begitu tongkat atau rotan itu tidak terlihat, anak akan kembali ke tingkah lakunya yang buruk, karena pemukulan hanya akan meningkatkan hasratnya untuk membangunkan atau membuatnya kesal bahkan dendam. Akhirnya, pemukulan itu kontraproduktif karena membuat si anak membenci apa pun yang dipukulinya. Jika dia dipukuli karena dia tidak memperhatikan selama studinya, maka dia akan membenci studinya. Jika dia dipukuli karena dia tidak memperhatikan untuk guru tutornya, maka dia akan membenci pembimbingnya.

Meskipun imbalan fisik dan hukuman bukanlah motivasi yang baik, Locke yakin bahwa penghargaan dan hukuman adalah satu-satunya motivasi efektif  dari makhluk rasional adalah ["Harga diri dan aib malu"]. ["Harga diri dan aib malu"], karena itu, sebagai pengganti pemukulan dan hadirkan sebagai motivasi untuk perilaku baik anak. Locke mengklaim bahwa sekali keinginan untuk "harga diri dan penghindaran aib malu" telah ditanamkan, mereka menjadi insentif jauh lebih kuat daripada penghargaan fisik dan hukuman yang dapat terjadi.

Pertanyaannya adalah bagaimana menanamkan insentif ["Harga diri dan aib malu"] ini. Pertama-tama, setiap kali anak berperilaku baik dia harus dibelai dan dimaafkan oleh semua orang sekelilingnya. Ketika dia buruk, di sisi lain, semua orang harus bersikap dingin (cuek) kepadanya. Selain itu, untuk memperdalam asosiasi-asosiasi harga dirinya, dengan segala hal baik dan aib malu;  dengan segala sesuatu yang buruk, berbagai keuntungan dan kerugian lain harus datang bersama dalam kelurga masyaraat ini, seolah-olah  adalah hasil yang diperlukan. Locke tidak membahas secara spesifik tentang keuntungan dan kerugian apa yang harus digunakan di sini, tetapi cukup mudah untuk membayangkan hal-hal yang disukai dan tidak disukai anak-anak.

Dengan mengaitkan semua ["hal baik dengan harga diri"] dan ["semua hal buruk dengan aib malu"], si anak akan menjadi percaya bahwa siapa saja yang dihargai pasti dicintai dan disayangi dan memiliki semua keuntungan hidupnya, sementara sebaliknya berlaku menyimpang bagi siapa saja yang diremehkan. Semua keinginan mereka, kemudian, berpaling dari memenuhi selera dan keinginan langsung mereka, dan menuju mendapatkan harga diri (martabat diri) di mata orang-orang yang mereka sayangi. Bersambung