Filsafat

"Gadamer, Wahrheit und Methode Erlebnis" [11]

13 Juli 2018   12:00 Diperbarui: 13 Juli 2018   12:12 255 0 0
"Gadamer, Wahrheit und Methode Erlebnis" [11]
Dokpri

Gadamer: Wahrheit und Methode "Erlebnis" (11)

Karya Gadamer pada Truth and Method atau  (Wahrheit und Methode) diterjemah menjadi (Kebenaran dan Metode). Pada tulisan (11) ini saya akan membahas reinterprestasi ulang Gadamer tentang teori ["Erlebnis"] sebagai lanjutan tulisan ke 10 sebelumnya. Kata pengalaman ["Erlebnis"] bermotivasi pada episteme dari sisi proses linguistic (hermenutika Gadamer), akibat ketertuntutan zaman, revolusi mental dan industry, sampai menghasilkan gagasan baru episteme pengalaman ["Erlebnis"] sebagai Wahrheit and Methode "Erlebnis" kebenaran dan metode.

Edmund Gustav Albrecht Husserl adalah seorang filsuf Jerman, yang dikenal sebagai bapak fenomenologi bahwa episteme pengalaman ["Erlebnis"] wujud fenomenologi dari warisan Kantian. Bagi Husserl adalah aliran pengalaman yang berjalan terus menerus berhubungan dengan intensionalitas bersifat telelogis. Sesuatu yang mewujudkan sesuatu yang bersifat penuh dan lengkap, pengalaman yang masuk dan mengenakan tubuh kita sebagaimana konsep [mind and body] Cartesian, dan konsep keseluruahan pengalaman "Tubuh (body) karya Maurice Merleau Ponty adalah filsuf fenomenologi, "kesadaran".

Maka kata episteme pengalaman ["Erlebnis"] wujud fenomenologi dapat saya simpulkan sebagai sebuah ide episteme murni sebagai sesuatu keseluruhan sesuai kategori 1 substansi, dan 9 aksidensi pemikiran Aristotle, dan 12 kategori Immanuel Kant pada struktur kesadaran intensional.

Friedrich Wilhelm Nietzsche, menyatakan "semua pengalaman akan bertahan sangat lama didalam pribadi orang besar". Artinya pengalaman tidak mudah dilupakan begitu saja, tetapi sama seperti sapi mengunyah makanan, dimakan dimuntahkan, dimakan lagi sampai halus dan dapat menyatu dengan darah dagingnya. Tidak ada kesadaran (pemikiran) tanpa pengalaman darah dan daging. Artinya pengalaman tidak dapat ditukar dan diganti dengan nama dan wujud apapun dalam kesatuan memberikan maknanya.

Pada sisi filosofis episteme pengalaman ["Erlebnis"] wujud fenomenologi catatan tentang ambiguitas tidak hanya membatasi pada penampakan terberi kepada kita, dan dasar pengetahuannya, tetapi bersifat melampaui atau berkesesuaian dengan pengalaman batin manusia. Atau antara kehidupan dan pengalaman, kesadaran transcendental (Kant) atau diantara persepsi apersepsi, substansi dengan jiwa, antara pisikologi dengan subjektivitas universal seperti dalam pemikiran Paul Natorp (tulisan saya sebelumnya), dan pemikiran Richard Honiswald.

Episteme ["Erlebnis"] adalah kekongkritan pengalaman original berupa totalitas kesadaran, merepresentasikan kesatuan yang tidak dapat dikategorikan metode pengetahuan atau episteme ["Erlebnis"] adalah berarti kehidupan, yang hubungannya saling mempengaruhi artinya kesadaran tidak diberi oleh peristiwa dalam waktu tetapi waktu sebagai bentuk kesadaran.

Adalah filsuf Henry Bergson membedakan antara dua waktu "duree" (waktu yang dihayati psikologis). Kehendak bebas menurut Henri Bergson terdapat dalam bukunya yang berjudul ["Time And Free Will"]. Bergson memuat konsep tentang intuisi, intensitas dan waktu, sebut ["duree"], untuk membentuk konsep kehendak bebas atau episteme ["Erlebnis"] adalah berarti kehidupan. Pada Henry Bergson makna "duree" sebagai organisasi, atau metode mengada kehidupan (etre vivant), di mana semua yang ada hadir adalah representasi dari keseluruhan, atau catatan melodi yang saling bercampur membaur.

Episteme ["Erlebnis"] dapat saya jelaskan bahwa pengenalan akan ruang didapatkan dari intelek sementara pengenalan akan waktu didapatkan dari intuisi. Bagi Bergson waktu dalam pemahaman umum telah banyak terpengaruh dengan konsep ruang. Karena itu Bergson menyebut waktu dengan istilah dure untuk membedakan dengan waktu dalam pemahaman umum atau temps. Dengan memahami dure tanpa terpengaruh dengan konsep ruang, manusia dapat memperoleh kesadarannya. Konsep kehendak bebas menurut Bergson termuat unsur Intuisi, Intensitas dan dure.

Saya pikir hal ini tidaklah berbeda episteme ["Erlebnis"] model Rene Descartes (1596-1650) tentang realitas menjadi dua (Res Extensa), dan (Res Cogitans). "Res Extensa" adalah suatu keluasaan menempati ruang dan waktu atau dalam aliran Materialisme sebagai perwujudan materi sedangkan "Res Cogitans" adalah Proses penyangkalan berfikir (skeptisisme)atau pemikiran Maurice Merleau Ponty adalah tubuh (body) adalah alat mengetahui sebagai pemikiran fenomenologi, "kesadaran". Wajar kemudian Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834) bahwa setiap pengalaman ["Erlebnis"] adalah unsur kehidupan abadi.

Demikian halnya Georg Simmel (1858-1918) adalah seorang filsuf Jerman memahami pengalaman ["Erlebnis"] tentang kehidupan melampaui kehidupan yang berada di luar dirinya, tidak terbatas pengalaman objektivitas, sebagaimana mengetahui pada umumnya, sebuah idea atau persepsi terberi dalam indra, tetapi pengalaman ["Erlebnis"] adalah proses kehidupan itu sendiri dan melampaui apa yang dikatakan Descartes sebagai "Co gito ergo sum" atau (aku berpikir, maka aku ada). Bagi Simmel konsep ["Erlebnis"] adalah petualangan kehidupan, dan episode adalah pergantian detail tidak memiliki kohensi batin dan tidak memiliki makna pada ide tetap (fixed ide). Petualangan memberi kehidupan dirasakan sebagai keseluruhan didalam nafas dan kekuatannya, membentuk (bildung) atau kematangan terpelajar menjadi kaya matang dan bijaksana.

Sama dengan pengalaman seni selalu tak terbatas sebagai keseluruhan. Pengalaman seni hadir diluar konteks kehidupan tidak hanya berkaitan dengan kandungan objek particular tetapi keseluruhan makna kehidupan. Kemudian mewujudkan menjadi pengalaman yang dapat ditiru, wujud penyempurnaan representasi simbolik terhadap kehidupan pada tiap pengalaman. Maka kehidupan adalah objek pengalaman estetika. Dan bagi estetika sebagai seni memahami (erlebniskust) atau seni sejati.

### bersambung.... Truth and Method (Wahrheit und Methode)

Daftar Pustaka: Apollo, Daito.,2011. Pencarian Ilmu Melalui Pendekatan Ontologi Epistemologi, Aksiologi., Jakarta., Mitra Wacana.

____2015., Laporan Penelitian., Pembuatan Diskursus Teori Akuntansi Keagenan (Agency Theory) Studi Etnografi Reinterprestasi Hermeneutika Candi Sukuh Jawa Tengah".

____2016., Pembuatan Filsafat Ilmu Akuntansi, Dan Auditing (Studi Etnografi Reinterprestasi Hermenutika Pada Candi Prambanan Jogjakarta

____2016., Penelitian Fenomenologi: Rehabilitasi Temuan Filsafat Uang: Platon, Aristotle, Kant, Bergson, Weber, Simmel, Haidegger, Lefebvre, Homans, Lacan.

Hans Georg Gadamer.,1975., Truth And Method., Second, Revised Edition Translation revised by Joel Weinsheimer., Donald G. Marshall., Sheed & Ward Ltd and the Continuum Publishing Group., New York.

Palmer, Richard, E., 1969, Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleiermacher, Dilthey, Heidegger, and Gadamer, Evanston, Northwestern University Press.