Humaniora

Hermeneutika Serat Wedhatama Kinanthi

17 April 2018   08:34 Diperbarui: 17 April 2018   17:24 154 1 0

Hermeneutika Serat Wedhatama Kinanthi

Sesuai tulisan bersambung sebelumnya, saya menyajikan tafsir hermeneutika pada dokrin dibangun oleh  K.G.P.A.A. Sri Mangkunegara IV. Pada bagian terakhir Serat ke V adalah Pupuh "Kinanthi" (18 Ayat, nomor 83-100). Isi teks ini bersifat monolog, dan epilog (akhir) pada teks "Macopat"  untuk mencapai manusia "idea" Jawi Kuna.  Macopat Kinanthi berasal dari kata "kanti, dikanti, artinya dituntun untuk kembali. Kanti berarti  bernyanyi,cantik,kawan,menyanyikan (algonquin),teman, sahabat, kawan. Lalu sebenarnya Macopat Kinanthi adalah cahaya atau suluh menuntun manusia untuk kembali kepada hakekatnya yaitu sukma atau jiwa rasional pada idiologi "Manunggaling Kawula Gusti".

Pada analisis tafsir hermeneutika Serat Wedha Tama: Kinanthi ini saya maknai dengan menggunakan "kata-kata kunci" atau "Key Word" sebagai berikut:

Pertama, atau pada ayat 1: Pokok dokrin manusia hidup untuk mencapai cita-cita adalah (a) sikap iling, (b) sikap waspada, (c) tanda-tanda alam semesta. Artinya manusia yang rasional jiwa logistikon tertata dengan baik apabila tiap ruang, dan waktu selalu "ingat semua hal. Ingat agama, ingat asal usul, ingat usia, ingat mati, ingat sakit, ingat dosa, ingat amal kebaikan, ingat hakekat manusia, dan semuanya ingat. Pengingatan ini berhubungan dengan dimensi waktu lalu, sekarang, dan prediksi kedapannya, lalu bagaimana mengambil sikap. Kata kedua adalah  "sikap waspada" maksudnya dalam realitas kosmogoni selalu ada sebab akibat, dan waktu. Waspada ini tentu berhubungan dengan kemampuan evaluasi diri, dan pengaturan diri, dan tahu diri. Waspada bisa juga dipahami sebagai "kehati-hatian" atau sikap hati-hati, atau memberi hati, bertujuan untuk ambil sikap berupa antisipasi, menghindari, atau menghadapi, dikaitkan dengan kemampuan diri.  Dan ketiga adalah tanda alam, atau saya sebut pesan alam melalui penampakan tanda-tanda misalnya perjumpaan manusia melalui mimpi, pohon, hewan, bau aroma, suhu udara atau angin, tempat, dan tanda-tanda lainnya yang dapat dicocokkan dengan pengalaman, atau tradisi.

Kedua, pada ayat kedua (2) adalah (a) sikap iling, (b) sikap waspada, (c) tanda-tanda alam semesta dikontemplasikan dengan sungguh-sungguh agar menjadi kebisaan tindakan, menajamkan rasa (sembah rasa) untuk menghasilkan manusia berkeutamaan. Pada ayat ke (3) adalah secara episteme tiga hal menghasilkan manusia berkeutamaan (a) sikap iling, (b) sikap waspada, (c) tanda-tanda alam semesta. Prosesnya adalah dialog internal dengan diri sendiri, mempertajam kemampuan diri sendiri ini dengan menerungkan siang, dan malam, menghilangkan bias diri, dan menyatu dengan kehendak alam, dengan menjadikan diri sama atau "manunggal" bersatu dengan cita-cita dan kehendak alam semesta.

Ketiga, pada ayat {"6,7,8,9,13,14,16"}, supaya tujuan menjadi manusia yang memiliki berutamaan jiwa rasional dapat tercapai, maka manusia harus dapat mengendalikan diri berhubungan dengan mengelola (ayat 6) kemampuan mengendalikan godaan pada indra penglihatan (images). Mata sering menggoda dan menipu jika cepat-cepat menyimpulkan ide kebaikkan tentang penglihatan mata. Maka dengan mata janganlah terlalu cepat membuat dugaan atau jauhilah kebanyakan prasangka.  Pada ayat (7) jangan terbisa melakukan hal "aib" atau sesuatu yang memalukan, atau jangan berbuat tindakan tidak tahu malu  atau ada istilah ("ora duwe isin "tidak tahu malu). Maka (wedi, isin) adalah syarat memungkinkan manusia tidak terjebak dalam kondisi "aib". Ayat (8) untuk mengevaluasi kriteria yang dapat disebutkan dalam kategori istilah ("ora duwe  isin" tidak tahu malu), maka tiap tindakan dibutuhkan kematangan sukma atau pertimbangan rasionalitas (critique of pure reason). Musibah akan menjadi fakta jika tidak mapan dalam internalisasi kemapaan critique of judgment. Ayat (9) kesalahan dalam evaluasi critique of judgment akan terjebak pada kondisi("ora duwe isin"tidak tahu malu); sehingga menimbulkan penderitaan luka batin, halangan atau tidak sesuai dengan tujuan manusia berkeutamaan. Manusia("oraduweisin"tidak tahu malu) adalah tidak menjiwai hakekat ilmu berkeutamaan. Manusia("oraduweisin"tidak tahu malu) dipakai untuk memperoleh kebutuhan material, dan hubungan keuntungan ekonomi transaksional.

Ke-empat, pada ayat {"13,14,16"} adalah bagimana sikap yang bijaksana agar memungkinkan manusia lulus dari konflik (tetap rukun dalam membina hubungan dengan sesama), sehingga  bisa mewujudkan jiwa rasional berkeutamaan. Pada  ayat (13) disebutkan adalah kemampuan beradaptasi. Hal ini sesuai dengan pemikiran Darwinisme social, bahwa manusia atau makluk hidup yang survive adalah yang mampu beradaptasi dengan lingkungan. Tidak dapat diragukan generasi Jawi ada diseluruh tanah air kita hadir dalam bentuk tugas negara, kemauan sendiri, atau transmigrasi tidak pernah terjadi konflik di tanah perantuan. Ini adalah simbol jika ingin menjadi keberutamaan manusia Jawi bisa dijadikan contoh hebat. Ayat (14) Kemampuan mengalah secara lahiriah itu penting, dan bukan batiniah, mengalah adalah baik demi kerukunan dan sekedar menghormati (kata "inggih" menjadi sangat penting"). Sikap tidak menyakiti manusia lain, dan sikap "tenggang rasa" atau "tepo seliro". Ayat (16) adalah sikap mental rendah hati tidak menonjolkan diri, sekalipun diri sendiri lebih berilmu lebih bermoral, dan lebih bijak. Tidak ada kesalahan apa-apa jika manusia itu pura-pura tidak tahu, atau bodoh pada omongan manusia lain sekalipun itu salah dan tidak memenuhi nilai-nilai keutamaan visi kehidupan. Ada pepatah menyatakan misalnya: "Tong kosong nyaring bunyinya" atau "Air beriak tanda tak dalam"  atau   pepatah "dilulu kok ora rumangsa" atau disindir tidak merasa. Maka menghadapi pepatah ini kita mengambil sikap mental rendah hati, dan pura-pura tidak pandai menghindari debat argument yang tidak bermanfaat apa-apa.

Kelima, ada pada ayat {"5,10,11,12,15,17,18"} bahwa (a) sikap iling, (b) sikap waspada, (c) tanda-tanda alam semesta, diwujudkan dalam kategori "ilmu mulut, atau kata-kata, dan berbicara", dikaitkan dengan pembuktian fakta atau bukti omongan manusia. Berbicara atau komunikasi dengan sesama manusia adalah sumber malapetaka. Ada dua simbol semiotika kata-kata atau ilmu mulut, (a) mulut berbicara atas kehendak diri sendiri (nafsu) egosime, atau (b) dorongan mulut berbicara dengan dasar kehendak alam semesta. Dan untuk membedakan dua hal ini adalah pastikan pada hasil akhir faktanya. Bila manusia berbicara seperti wali, pandita istimewa, bicaranya dikramatkan, marah dibantah, mata membelalak, keinginan memanfaatkan orang lain dengan gaya bicara muluk-muluk manis kata-katanya tapi "sepi bukti fakta" maka itulah ciri-ciri manusia palsu atau mulut berbicara atas kehendak diri sendiri (nafsu) egosime atau penggambara jiwa rasional belum halus akal budinya. Demikian sebaliknya jika dorongan mulut berbicara dengan dasar kehendak alam semesta sebagai representasiya maka tidak ada satupun kategori "ilmu mulut, atau kata-kata, dan berbicara" yang tidak menghasilkan fakta, tidak menimbulkan konflik batin dan kerukunan dengan semua unsur-unsur kosmos. Pada ayat (15) itulah cara mengevaluasi atau menentukan kriteria  turunnya wahyu, sabda Tuhan, terikat dalam dimensi "manunggal" atau disebut menyatunya manusia (kawula) dengan Tuhan (Gusti).  Pada posisi inilah Tuhan sudah menjelma dalam diri manusia (ayat 17), maka manusia tipe ini menjadi contoh tauladan yang dapat ditiru manusia lain, wahana hidup mulya pada jiwa, dan raga. Hanya dengan mengupayakan (berkerja, berusaha), maka itulah cita-cita tujuan jiwa rasional manusia berkeutamaan.***)end.