Humaniora

AGIL, dan Perilaku Sadis

9 Maret 2018   15:26 Diperbarui: 9 Maret 2018   16:07 247 0 0

AGIL, Dan Perilaku Sadis

Problem Umum. Saya membaca singkat pada harian (1) Kompas.com. 04/01/2018 dengan judul "Pengakuan Babeh Sodomi 25 Anak di Tangerang", (2) Kompas.com  dengan judul  "Pembunuhan Sadis Sepanjang Tahun 2017...", (3) Kompas.com. 05/08/2017, " Dibakar hidup-hidup setelah dituduh mencuri amplifier masjid merupakan nasib tragis pria berinisial MA. Setelah MA tewas, terjadi perdebatan apakah dia betul-betul mencuri amplifier dari Mushala Al-Hidayah di Babelan, Kabupaten Bekasi, atau Tidak.

Tiga berita pada harian Kompas. Com ini adalah peristiwa yang tidak begitu dianggap ada masalah besar dan berat, sehingga orang cendrung cepat melupakan, dan tidak dianggap sebagai analisis yang serius tentang tatanan (order masyarakat).  Padahal kalau dibaca tulisan tersebut sangat berbahaya, dan bisa menimpa siapa saja. Jangan kan seperti itu, membunuh ayam, atau nyamuk saja yang tidak tega, sangat mengerikan. Bahkan tiap hari atau dalam 1 minggu di wilayah NKRI selalu ada saja pembunuhan sadis, dan di luar batas kemanusian yang sulit dipahami, mengapa seorang individu dilahirkan dari keluarga, dan menjadi bagian Indonesia memungkinkan hal ini bisa terjadi.

Pertanyaannya bagaimana hal ini mungkin terjadi, atau pendasaran episteme-nya

Adalah sosiolog Talcott Parsons (1902--1979), analisis social dengan menggunakan pendekatan structural-functional, dengan Paradigma AGIL, atau (adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latency). Parson menggunakan dua dimensi tindakan social yakni: (1) instumenal, dan (2) ekspresif. Dua hal ini menantukan perbedan kualitatif, diantara jenis interaksi social individu, dan masyarakat.' Dimensi tindakan pada indicator instumenal kekuasan birokrasi, regulasi pasar, dan indicator nilai-nilai kelurga, nilai komunal, group, gereja, dan orang banyak lainnya.Untuk menjelaskan paradigm AGIL Parsons menggunakan istilah {"gloss"} atau semacam pemberian cahaya terang yakni menjelaskan kemampuan bagimana kesadaran jiwa rasional mengkonstruksikan realitas, dan menyaringnya data informasi daya tangkap kesan persepsi panca indra (model David Hume). Parsons menyebutkan "A gloss is a total system of perception, and language". Proses penyaringan data ini adalah tidak disadari (terbentuk) dari factor konstruksi budaya, cara menentukan pengalaman bahasa, pendidikan, pengalaman tubuh, system nilai kepercayaan, sehingga akan membentuknya termasuk fantasi, dan imajiasi. Perbedaan pembentukan {"gloss"}, dan penentuan determinasi nilai realitas di bentuk dan diadakan dalam proses masyarakat. Kegagalan proses menentukan {"gloss"}, akan mengakibatkan terjadinya benturan tindakan (etika), dan perilaku individu atau kelompok radikal atau menyimpang yang terjadi pada masyarakat.Paradigma AGIL Parsons, (Adaptation, Goal attainment, Integration, Latency).

Adaptation (bahwa system yang baik harus mampu menata kelola kondisi fisik material, dan relasinya dengan system lingkungan internal atau eksternal)

Goal Attainment (bahwa system nilai gloss  mempu menjawab kebutuhan tujuan utama, dan individu mendapatkan kemampuan berusaha untuk mencapai tujuan tersebut)

Integration (bahwa system harus memiliki kemampuan koordinasi masyarakat, atau kelompok dalam keutuhan)

Latency  (bahwa system mampu merawat memotivasi individu agar memiliki kesesuaian dengan standar aturan moral menurut harapan maksim kehendak umum).

Maka peristiwa pelanggaran pada tatanan (interaction order) masyarakat maka tiap-tiap diri warga negara yang baik (good citizenship) mampu mengendalikan diri pada proses {"gloss"}, untuk menghasilkan empat tindakan: (1) kemampuan individu beradaptasi internal dan eksternal menghadapi problem kehidupan, (2) individu harus memiliki visi dan cita-cita hidup yang baik benar bertanggugjawab, (3) mampu menyatukan diri pada masyarakat memilih, memilah menurut kriteria jiwa rasional, (4) mampu mengkontemplasikan, menginternalisasi, memelihara, system nilai universal umat manusia adalah hanya untuk kebaikan atau semacam Kategoris Imperatif Kant. Keempat unsur ini oleh Parsons di sebut "Total System".


Tentu saja bisa dipahami secara episteme misalnya teori Darwinisme Sosial metode Herbert Spencer, keseimbangan, kemampuan adaptasi, dan repetisi cara makluk hidup sebagai system organisme berdasarkan fungsi dalam system sosial juga mendukung aliran Paradigma AGIL Parsons ini. Sedangkan Perubahan Sosial teori Karl Marx munculkan kelas ekonomi, pada system capitalism bersifat alienatif, justru menjadi tantanan kemampuan seluruh stakeholders untuk menentukan {"Sociation atau relasi timbal balik "} atau interaksi pertukaran simbolik pada pola dan bentuknya.


Apapun penjelasan epsisteme nya, harapan saya dan kita semua ke depannya, maka peristiwa seperti pada berita Kompas.com di atas bahwa menghilangkan hakekat manusia, dan martabatnya berbudi luhur tidak boleh terjadi lagi pada masa yang akan datang. Tentu adalah keterlibatan kita sebagai seluruh stakeholders berbangsa dan bernegara untuk saling menghormati, dan menghargai. Semoga.***)