Ekonomi

Reinterprestasi Hermeneutika Ricoeur Bidang Auditing

13 Februari 2018   17:19 Diperbarui: 15 Februari 2018   08:36 275 0 0
Reinterprestasi Hermeneutika Ricoeur Bidang Auditing
pinus-5a84e5475e137320124c7e53.jpg

Saya telah melakukan penelitian pada teori hermeneutika, semiotika dalam bidang auditing sejak tahun 2004- 2018 ini. Salah satu penelitian saya adalah transliterasi Hermenutika Paul Ricoeur. Berikut ini adalah ringkasan hasil penelitian tersebut yang saya sajikan dalam artikel ini.

Pertama, ada dua bentuk diskursus, yakni lisan dan tertulis. Teks laporan keuangan dihidupkan melalui berbagai pembicaraan untuk mendapatkan bukti audit. Membaca dan menceritakan kembali adalah cara-cara untuk menghidupkan kembali sebuah teks laporan keuangan. Jika mengatakan teks laporan keuangan adalah sebuah aktivitas bisnis, maka sebenarnya sama saja dengan mengatakan sebuah teks laporan keuangan adalah satu totalitas yang tidak dapat dikembalikan kepada kalimat-kalimat yang membentuknya. 

Artinya Standar audit tidak mampu mengembalikan orginalitas awal proses penyusunan laporan keuangan perusahaan. Karena  teks laporan keuangan sebenarnya berbicara tentang dunia, bukan tentang lingkungan sekitar auditee atau siklus bisnis klien. Maksudnya: setiap auditor mesti membiarkan dirinya untuk dibawa oleh teks ke depan. Dunia diproyeksikan dan prediksi dalam teks laporan keuangan.  Memahami teks laporan keuangan ada di depan teks, bukan di balik teks. Makna teks laporan keuangan bukanlah sesuatu yang tersembunyi, tetapi sesuatu yang terbuka, terungkap. 

Pemahaman teks tidak banyak dipengaruhi oleh klien dan situasinya. Pemahaman berarti usaha mencari dan mendalami arti dunia sebagaimana terungkap dalam teks laporan keuangan dengan segala dimensi yang mengikutinya. Dengan kata lain, memahami sebuah teks berarti mengikuti gerak dari arti kepada referensi.  Pada posisi ini maka Hermeneutika merupakan suatu teori aturan-aturan penafsiran terhadap suatu laporan keuangan sebagai tanda, simbol, bahasa isyarat, percakapan (ucapan), atau suara, mengatasi jarak budaya dan keterasingan sejarah. 

Audit adalah proses interpretasi untuk 'menyatukan', 'menyamakan', menjadikan sewaktu,  mengaktualisasikan makna teks untuk pemakai laporan keuangan menjadi kekinian. Audit harus memperhatikan antara hubungan, paradoks, atau  kontradiksi  dengan kata-kata yang tertulis pada  teks laporan keuangan sebagai ganti kata-kata atau wawancara diucapkan selama proses audit.

Kedua,  teks laporan keuangan adalah tanda, simbol, dan teks. Jika auditor ingin melakukan pemahaman, maka prasyaratnya membutuhkan perantara atau mediasi. Tidak ada pemahaman  tanpa mediasi melalui tanda, symbol, teks, waku, dan kuantitas. Maka mediasi ini disebut sebagai teks laporan keuangan, dan seluruh bukti audit yang mendukung pelaksanaan audit. Kata-kata dalam teks laporan keuangan mempunyai pluralitas makna seperti dalam kategori Cartesian,  Hegelian, 12 Kategori Kant, dan 10 Katergori Aristotle, atau  Platon pada TheDivided Line  (The Republic, Book VI). Jadi memahami laporan keuangan adalah membuka diri terhadap seluruh kategori ini.

Ketiga, Transformasi 4 kategori Hermeneutika Ricoeur pada bidang audit.

Melalui Reinterprestasi Struktur Mencari Objektivitas. Jika laporan keuangan adalah geraknya dari pikiran ke tulisan, maka bentuk audit adalah sebaliknya dari tulisan ke pikiran. Atau reinterprestasi adalah semacam lingkaran hermenutika. Pada posisi ini teks laporan keuangan bersifat otonom, bisa disanggah, atau disetujui tanpa melihat proses penyusunan laporan keuangan.  Laporan keuangan disusun melalui asumsi-asumsi dasar dan aturan menulis melalui Standar Akuntansi kemudian menentukan klasifikasi penyajiannya. 

Maka auditor dapat melakukan reinterprestasi kembali dengan pedoman Standar Audit. Menurut pemahaman teori hermeneutika, dan semiotika dan penelitian yang sudah saya lakukan bahwa Standar Audit tidak memadai, karena itu diperlukan pendekatan lain yang dapat melampaui dan disesuaikan dengan kebutuhan. Proses ini dapat menciptakan jarak  terhadap teks atau karya diskursus untuk sampai kepada sebuah interpretasi diharapkan dianggap memadai.  

Karena Standar Audit tidak memadai, dapat dipakai analisis struktur dengan menggunakan teori lain misalnya pendekatan "Functional Imperatives for Social Systems" atau analisis struktural fungsional Talcott Parsons (1902-1979).  Ada empat fungsi untuk semua sistem tindakan dikenal sebagai imperatif-imperatif fungsional disingkat AGIL (adaptation, goal attainment, integration, latency).  Model ini dapat dipakai untuk menentukan apakah audit itu melihat menggunakan pendekatan fungsional, atau struktural. Dan masih banyak metode lain yang memungkinkan model bisa menggunakan pendekatan posmodernisme.

Distansiasi Melalui Tulisan. Dengan ditulisnya teks laporan keuangan (bersifat Diakronik dan Sinkronik), maka wacana menjadi teks laporan keuangan tidak lagi berubah atau direvisi. Teks  laporan keuangan yang siap di audit adalah  tidak ada lagi koreksi, atau tambahan laporan lain signifikan bila  pada saat proses audit atau perikatan sudah dilakukan.  Selanjutnya untuk memahami teks laporan keuangan, auditor harus mampu mengambil jarak atau distansiasi supaya dapat terhindar kehilangan dalam waktu. Auditor harus ada jarak atau mengambil jarak  agar tidak terjadi distorsi makna. Dengan distingsi jarak akan menciptakan kreativitas interprestasi lebih luas, lebih dalam, bervariasi, dan dapat memahami "melampaui" literasi awal penyusun laporan keuangan.  Pada standar audit sering disebut sebagai sikap mental independen.

Caranya adalah dengan mendialogkan teks laporan keuangan pada ilmu-ilmu lain, mencari makna marginal, makna tersembunyi, dekonstuksi, idiologi, kecurangan, bahkan isi batin penulis laporan keuangan. Tujuan distansiasi mencabut teks dalam proses audit semacam ini adalah memastikan tiga hal yakni: (a) apakah teks tersebut bertolak belakang dengan fakta, atau tidak, (b) apakah ada kesalahan saji material terselip dalam teks laporan keuangan; (c) memastikan ada tidak praktik income smooting, kecurangan, atau creative accounting. Hanya melalui cara ini memungkinkan auditor memiliki kemampuan critique of pure reason model Kantian.

Dunia Teks. Teks laporan keuangan adalah diskursus berusaha mengungkapkan realitas dunia. Teks laporan keuangan menginformasikan aktivitas bisnis perusahaan periode tertentu. Diskursus  teks laporan keuangan bentuk komunikasi tak langsung  disingkap melalui struktur-struktur assets, utang, modal, pendapatan, beban, dan laba atau rugi. Secara aksiologi teks laporan keuangan harus dapat direpresentasikan pada investor atau kreditor  sebagai basis memproyeksikan kemungkinan yang dimilkinya. Apakah tindakan yang akan dilakukan setelah ada informasi disebut sebagai dunia teks. 

Numun pada sisi lain adalah auditor  bisa merepleksikan tindakan-tindakan apa  dilakukan pada dirinya sendiri sebagai pemberian opini audit, dengan demikian mendasarkan dirinya pada dunia teks agar bisa terungkap di dalam bahasa.  Ini juga menyangkut etika deontologis. Dengan pemahaman ini maka ada 3 dunia dipahami sekaligus: (a)  dunia asal teks laporan keuangan itu sendiri, (b) dunia yang diciptakan oleh teks laporan keuangan; (c)  dan dunia pemakai teks laporan keuangan.

Apropriasi. Memahami teks laporan keuangan adalah memahami diri sendiri, atau disebut subjektivitas auditor dan intersubjektivitas. Proses auditor memahami (Verstehen)  teks laporan keuangan melalui apropriasi, yaitu menyesuaikan dengan pandangannya sendiri (subjektivitas) sesuatu yang pada awalnya asing sebelum dilakukan proses audit. Hal ini disebut Otonomi atau Independensi.

Apropriasi adalah upaya integrasi  atau mempertemukan temuan audit pada seluruh proses penafsiran teks laporan keuangan  berdasarkan pada jiwa rasional manusia kepada kebaikan. Artinya bagimana auditor merespons terhadap sifat paradoksal, kontradiksi atau 12 Kriteria Kant  di dalam ruang dan waktu selama proses audit dilakukan. Auditor bersikap membuka diri pada fakta, kemudian menerima diri sebuah realitas. Ada tiga bentuk Pemahaman diri  yakni kritik ideologi, dekonstruksi, dan variasi imajinasi.

Kerterbaharuan Pemikiran Audit. Pada artikel ini saya menyajikan novelty pemikiran dalam bidang audit sebagai berikut. Hasil penelitian saya pada bidang audit adalah "mengabaikan teks laporan keuangan  dan membiarkan diri dibawa (diinterpelasi) oleh teks itu untuk masa depan. Artinya bukan  hal terpenting validitas dan reabilitas laporan keuangan tetapi audit adalah mempertanyakan soal problem penilaian soal aspek going concern, atau kemampuan perusahaan survive,  visi misi perusahaan pada masa mendatang, dan kebermanfaatan atau pragmatismenya.  

Model masa depan ini memaksa klien memastikan kemampuan (pengelolaan risk),  prediksi  daya saing dengan pendasaran teks laporan keuangan pada situasi yang dihadapinya pada waktu mendatang.  Dengan metode ini maka auditor memberi tekanan pada masa depan perusahaan,  dan bukan pada past event

Metode audit  ini adalah melupakan, mengabaikan, dan bahkan meniadakan makna ada dibalik  teks laporan keuangan historis tersebut pada makna literasinya, tetapi lebih penting memahami makna alegorisnya. Karena  teks laporan keuangan biasanya menyembunyikan sesuatu. Penafsiran teks laporan keuangan adalah sesuatu yang ada di depan, dan peleburan horizonnya. Tujuan audit: (1) memastikan ada atau tidak ada makna tersembunyi di balik tindakan dan makna tulisan perusahaan, (2) audit  laporan keuangan bukan dicari otentiknya, tetapi ditafsir makna menggunakan fakultas akal budi, karena yang otentik itu tidak pernah ada.Melalui transposisi diri, dan partisipasi, melampaui teks literasinya  maka auditor lebih baik pemahamannya dibandingkan dengan klien.

Adapun kelemahan ilmu audit bertumpu rekalkulasi, kecocokan, rekonsiliasi, dan kekakuan (rigit) pada standar yang dibuat oleh regulasi, dan bersifat alienasi.  Ada dugaan Standar Audit dan Standar Akuntansi memonopoli kebenaran, dan menindas. Disamping itu standar tersebut terlalu rinci sekali dan selalu direvisi atau tidak stabil. Kelemahan Standar Akuntansi, dan Standar Audit tidak pernah bebas dari kepentingan-kepentingan tertentu, khususnya ideologi bersifat alienasi sebagai bentuk mencerabut dimensi-dimensi manusia, kesendirian, dan terisolasi pada dirinya sendiri. Bahwa semua struktur dalam akuntansi dan audit merupakan produk  budaya, bahasa, pendidikan, sebagai bentuk alienasi, kekerasan, dan keterpisahan. Pemikiran Karl Max, Feuerbach, terutama Hegel ada dua tipe alienasi; (1) alienasi sebagai pemisahan,  (2) alienasi merupakan penyerahan, diri pada the others. Wajar bila kemudian audit selalu dikaitkan dengan paradigm agency theory. ***)