Mohon tunggu...
Bajol punk
Bajol punk Mohon Tunggu... The Journal of Mine

Baru memulai menulis, terima kritik dan saran. Terimakasih.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Cerita Perempuan

21 Februari 2020   20:19 Diperbarui: 21 Februari 2020   20:32 38 2 0 Mohon Tunggu...

Drrrt..drrt..drrrttt..
Pop up dari whatsapp muncul di ponsel pintar yang saya letakkan di sebelah laptop, tertera nama teman yang sudah lama tidak terdengar kabarnya. Lantas saya mengintip sedikit pesan yang muncul di display. 

'An, aku sudah cerai sama suamiku'

Refleks, saya menghentikan kegiatan saya waktu itu. Tanpa sadar saya tersenyum kecil, sedikit terkejut. Dengan cepat saya balas pesannya dengan senyum yang masih melekat diwajah, 'Alhamd..' eh, langsung saya hapus dengan cepat kalimat itu, urung saya lanjutkan, lalu saya ganti dengan kalimat ajakan untuk bertemu.

Apakah dosa jika saya bahagia pada orang yang sebentar lagi merdeka dari sumber penderitaanya? Tidak, maksud saya apakah saya salah jika saya 'sedikit' bahagia mendengar teman dekat saya akhirnya terbebas dari belenggu derita? Saya tau pastinya dia sedang tidak baik-baik saja. Luka yang ia sembunyikan semakin mengaga. Topeng bahagianya ia tanggalkan. Hei, mana ada orang bahagia ditinggal dengan cara tidak terhormat oleh orang yang begitu dia sayangi?

Dulu saat masih satu kantor dengannya, dia yang sering bercerita dan bertukar pikiran dengan saya.  Saya cukup bisa melengkapi karakternya yang memang hobi bercerita, bisa dibilang saya pendengar setianya. Apa saja dia ceritakan, mulai dari PR matematika anaknya, alasan kenapa dia harus tetap kerja, sinetron favoritnya, sampai ke perempuan-perempuan yang pernah jadi selingkuhan suaminya. Bahkan tak jarang pula kita berperan layaknya detektif yang mematai-matai penjahat kelas kakap.

Sudah sepuluh tahun ia bersahabat dengan luka yang ia simpan rapat. Dia mampu memaafkan beribu-ribu kata maaf yang terucap, namun malah membuat batinnya sekarat.

Salah siapa dia tidak mengijinkan suaminya poligami?!
Suruh siapa jadi perempuan karir?!
Jangan salahkan laki-laki kalau akhirnya lebih memilih perempuan lain.


Ah, saat mendengar kalimat seperti itu rasanya saya ingin berteriak sekencang-kencangnya, "Persetan kau semua!"

Apakah haram bagi perempuan memilih jadi perempuan karir? Lantas apakah perempuan yang tidak mengijinkan suaminya berpoligami pantas untuk diselingkuhi, dilukai batinnya lalu ditinggalkan?

Keesokan harinya, sesuai janji saya berkunjung ke rumahnya. Dengan sembab dimata, dia menyambut saya dengan tawa. Saya biarkan dia berceloteh panjang lebar, saat ini saya cukup jadi pendengar keluh kesahnya. Tiba-tiba dia menangis, rupanya ia sudah tidak kuat lagi membendung air matanya. Disela-sela tangisnya ia berkata, "Kasihan anak-anakku, An" Kali ini saya tidak mampu tersenyum, saya hanya diam setia mendengar tangisannya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x