Mohon tunggu...
Bai Ruindra
Bai Ruindra Mohon Tunggu... Guru Blogger

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | http://www.bairuindra.com/ | Kerjasama: bairuindra@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Pilihan

Kerajinan Tangan Enceng Gondok Basmi 'Hama' di Sungai Aceh Barat

23 November 2018   15:51 Diperbarui: 25 November 2018   12:30 0 6 7 Mohon Tunggu...
Kerajinan Tangan Enceng Gondok Basmi 'Hama' di Sungai Aceh Barat
Tas dari enceng gondok - dokumen pribadi

Ketika Ibu mulai mengepang enceng gondok yang telah dikeringkan, saya bertanya dalam hati. Mau dibawa ke mana produk kerajinan tangan ini nantinya? Dalam segala kondisi, kerajinan tangan enceng gondok yang telah dibuat menjadi tas wanita memang sangat menarik untuk dilihat. Nilai seni menjadi sebuah hal yang tidak bisa dipisahkan dari kreativitas dan keuletan kelompok perempuan di kampung saya tersebut. 

Sebenarnya, nilai estetika bisa lebih tinggi dari harga jika menelusuri setiap proses yang terjadi sebelum sebuah produk siap dipamerkan bahkan dipasarkan.

Saya ingin memberi catatan -- flashback -- kenapa kerajinan tangan enceng gondok menjadi pilihan ibu-ibu di sini. Sejak saya sadar dunia ini memiliki rasa; sering banjir, curah hujan tinggi dan juga masyarakat bertani, tanaman enceng gondok adalah 'bunga' liar terindah yang mengelilingi kampung kami. Mudah sekali menemui tanaman yang bisa disebut sebagai 'hama' tersebut; di sungai maupun di sawah yang tergenang air. 

Satu akar saja tanaman ini tumbuh -- atau dilemparkan ke dalam air -- maka dalam hitungan hari akan membentuk sebuah lempengan besar, kerena perkembangbiakannya yang begitu cepat.

Kampung saya - Mesjid Baro, Kecamatan Samatiga - yang dekat sekali dengan sungai, air hujan yang mudah tergenang di sawah, maka tanaman enceng gondok dengan suka cita tumbuh tanpa diundang dan sulit dibasmi. Jika tidak dibersihkan maka keesokan hari dipastikan seluruh sungai akan penuh dengan tanaman ini. Akibatnya, air sungai tidak mudah mengalir dan banjir kecil akan kembali menyeruak di kampung kami.

Gotong royong dilakukan untuk membersihkan enceng gondok dari sungai. Jangan ditanya bagaimana rasanya; selain lelah melempar akar-akar enceng gondok ke darat, juga gatal yang diakibatkan oleh akar enceng gondok yang berair kotor. Namun tampaknya masyarakat telah jenuh dengan enceng gondok yang tidak ada matinya.

Mudahnya menemukan tanaman dengan kadar garam tinggi dan cuma hidup di air tawar ini, membuat ibu-ibu kelompok perempuan mengambil inisiatif, yaitu membuat kerajinan tangan. 

Daripada enceng gondok yang tak pernah habis itu dibiarkan begitu saja dan menjadi hama di air dan darat. Begitu pikir mereka di mana saya berinteraksi sendiri dengan aktivitas ini, bahkan pernah berujar kepada Ibu, "Rumah kita penuh dengan enceng gondok yang nggak bermanfaat!"

Di sisi lain, kreativitas dari kelompok perempuan ini sangat berdampak kepada kesehatan lingkungan. Yang mana, enceng gondok yang mengotori sungai dan sawah, diubah menjadi sebuah hal yang bermanfaat meskipun secara sistem ekonomi belum mampu membekukan laba rugi dengan baik. Berangkat dari kreativitas ini pula saya menyadari bahwa enceng gondok  bisa dimanfaatkan bahkan bisa mendatangkan finansial untuk kelompok perempuan di kampung kami.

Ibu saya termasuk salah seorang yang sangat mahir dalam mengepang enceng gondok menjadi kerajinan tangan. Kerajinan tangan ini juga tidak membutuhkan waktu begitu serius. 

Saya melihat Ibu bersama anggota kelompok lain akan mengambil enceng gondok di sungai atau di sawah, dengan memilih yang batangnya paling panjang, besar dan masih bagus. Kemudian, enceng gondok tersebut dirapikan dan dijemur hingga kering. Selama waktu itu, Ibu saya masih bisa mengerjakan hal-hal lain di rumah atau membantu Ayah di sawah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4