Mohon tunggu...
Bahren Nurdin
Bahren Nurdin Mohon Tunggu... pegawai negeri -

Pemerhati pendidikan dan sosial silakan kunjungi blog saya: www.bahren13.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Sidak Kok Norak

23 Januari 2017   07:20 Diperbarui: 23 Januari 2017   08:02 1347
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Oleh: Bahren Nurdin, MA 

 

Dua hari terakhir masyarakat Jambi dihebohkan dengan pemberitaan aksi 'heroik' Pak Gubja (Bubernur Jambi) saat melakukan inspeksi mendadak (sidak)di salah satu rumah sakit  ‘plat merah’  Jambi.  Sidak ini kemudian bahkan menjadi isu nasional karena dipertontonkan oleh beberapa media nasional termasuk televisi. Sidak yang diikuti oleh aksi marah-marah di hadapan para wartawan ini pun akhirnya menuai pro dan kontra. Saking hebohnya, sampai-sampai salah seorang dokter di Jakarta mengirim surat terbuka untuk Pak Gubernur. 

Setuju dan tidak setuju itu wajar. Saya termasuk yang setuju sidak-nya. Sekali lagi, sidaknya saya setuju, tapi cara dan ‘aksinya’ yang harus kita diskusikan melalui artikel singkat ini. Dalam ilmu manajemen kita mengenal istilah POAC yaitu planning (perencanaan), Organizing (pengorganisasian), Actuating (pelaksanaan), dan Controlling (pengontrolan). Sidak adalah salah satu cara untuk melakukan control demi memastikan apakah semua sistem berjalan sebagaimana mestinya. Maka dari itu, sidak terhadap rumah sakit ini sangat perlu oleh para top manajemen termasuk pemegang kekuasaan. 

Tidak ada yang salah dengan sidak yang dilakukan oleh Gubja. Tujuannya sangat mulia yaitu untuk memastikan masyarakat Jambi dapat terlayani dengan baik di rumah sakit ini. Sama-sama dipahami bahwa rumah sakit ini memang sedang ‘sakit’. Gonta-ganti direktur, tapi tetap saja belum sehat. Masyarakat terus saja mengeluh dengan pelayanan yang diberikan. Maka wajar kemudian angin tidak sedap ini berhembus hingga sampai pada Sang Penguasa. Dengan tujuan perbaikan dan kebaikan itulah sidak ini dilakukan. Tapi tidak perlu norak kan?

Norak Satu: menyerang orang bukan aturan

Untuk kelas gubernur kayaknya norak marah-marah kepada perawat dan satpam karena yang diserang adalah orang.  Seharusnya yang diserang itu adalah aturan dan kebijakan. Sangat bijak rasanya jika Pak Gub mempertanyakan SOP. ‘Adik-adik kok pada tidur? Mana SOP Kalian?”. Baca sama-sama SOP yang ada dan tunjukkan kepada mereka jika kemudian mereka melanggar SOP tersebut. 

Dengan cara ini, sidak ini akan menjadi sangat elegan. Mereka akan tahu salah mereka dan diminta untuk memperbaiki diri. Pak Gub cukup senyum saja, dan tegaskan karena mereka melanggar aturan yang sudah dibuat, siap-siaplah untuk menerima sanksi. Siapa yang akan mengeluarkan sanksi? Atasan mereka. Dengan cara ini, tidak ada kesan murka kepada orang, tapi berang kepada pelanggar hukum. Masyarakat pun akan paham bahwa jika mereka harus dipecat sekali pun, itu karena mereka melanggar hukum bukan karena dimarah Pak Gub.

Norak Dua: Sinetronisasi

Jika anda menyaksikan video-video yang beradar saat ini, pasti anda sepakat bahwa adengan-adengan yang dipertontonkan persis seperti cerita sinetron. Sang aktor masuk rumah sakit, gedor-gedor pintu ruangan yang lampunya mati, perawat dibangunkan, tendang tong sampah, greng…. Yang dimarahi menunduk tak berdaya persis seperti majikan sedang menyidang pembantunya. Semua adengan ini disiarkan ‘langsung’ oleh begitu banyak wartawan baik lokal maupun nasional. Scene slanjutnya? Bersambung. Yeahhh…penonton kecewa. Penasaran kan?

Sinetronisasi ini kemudian menimbulkan pro dan kontra. Banyak yang mempertanyakan, wajarkah seorang gubernur mempertontonkan ini di hadapan masyarakatnya? Secara manajerial pun sebenarnya agak norak. orang yang pantas melakukan apa yang dilakukan oleh Pak Gub itu adalah atasan langsung mereka, sekelas supervisor atau menejer rumah sakit tersebut. Pak Gub cukup sidak dan temukan fakta-fakta yang dikeluhkan oleh masyarakat. Setelah itu pulang, bobo manis. Paginya, kumpulkan semua atasan mereka. Panggil Direktur Utama. Di sini tempatnya gubernur marah yang paling tepat. Jangan tendang ton sampah, balikin meja jika perlu; tidak perlu di-videoin tapi. “Tadi malam saya sidak. Banyak yang tidak sesuai dengan harapan. Pak Direktur, tolong benahi! Orang-orang yang tidak bisa dibina, silakan ‘dibinasakan’. Saya kasih waktu seminggu!”.  Direktur Utamanya dapat dipastikan akan ‘menghajar’ bawahannya, sehingga sampailah SP itu kepada yang melanggar SOP tadi malam. Sangat elegan, bukan? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun