El Mikha
El Mikha Pelajar

Penulis Novel 'Untuk Gie'

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen | Puji Semu

12 Maret 2018   15:01 Diperbarui: 12 Maret 2018   17:42 677 6 1
Cerpen | Puji Semu
Ilustrasi (wordnik.com)

Tawa itu kini tak tampak lagi. Meski baru berumur berpuluh hari, kini ia telah mati. Tak ada yang peduli. Bahkan yang dulu mengaku sebagai sahabat sejati. Mereka semua pergi seolah tak mau tahu apa yang sedang terjadi. Atau mungkin, mereka tak punya nurani lagi?

"Mereka hanya mengenalku saat bersenang-senang, Vi" keluh Jenni, pemilik almarhum tawa itu sambil terisak, terdengar penuh sesal. Mendengar suara tangisannya, siapapun akan tahu betapa dalam kepedihan yang dialami Jenni. Bahkan air mata yang terus mengalir, tak punya tempat lagi di wajahnya yang cantik.

"Rasanya,.. lebih baik aku mati aja, Vi"

"Jangan, Jen!" cegahku. Itulah kata pertama yang keluar dari mulutku sejak Jenni menghampiri dengan bercucuran air mata beberapa jam yang lalu. Bukan karena irit bicara, tetapi rasanya tak ada kata yang mampu terucap. Betapa tidak, hari ini aku mendengar pengakuan yang mencengangkan. Kabar yang dulu kudengar sebagai penarik perhatian agar surat kabar laris manis, kini kudengar secara langsung, jelas dan nyata.

"Aku ingin melupakan semua ini, Vi... aku ingin membuangnya dari otakku" teriak Jenni seraya memukul-mukul kepalanya. Suaranya makin meninggi. Terdengar seperti ingin meluapkan semua kepedihan yang memenuhi hati.

Aku terdiam.

Lagi, tak ada kata yang mampu terucap. Meski di dalam otakku berputar ribuan kata yang siap untuk diungkap, aku merasa terperangkap. Kemudian lahir kebingungan yang menyekap, yang dengan sendirinya membendung kata-kata itu agar tetap di benak.

Aku bingung sebagai apa kukeluarkan kata-kata itu. Sebagai nasehat? Cacian? Motivasi? Atau bahkan kutukan?

Mulutku juga tersandera oleh kenyataan yang ada. Dimana orang banyak mengutuk apa yang telah dilakukan Jenni. Kebanyakan dari mereka bahkan kerap mengeluarkan kata-kata kejam yang -- sebagai sesama perempuan -- sangat melukai hati.

Kepada mereka, ingin sekali kuteriakkan bahwa Jenni dan perempuan remaja lain adalah korban. Mereka korban dari keadaan. Dan Jenni, serta teman-teman yang lain tak sepenuhnya bersalah atas apa yang sedang menimpa. Secara langsung atau pun tidak, semua orang di sekitar mereka terlibat. Andai mereka peduli, Jenni pasti tak melakukan hal tak terpuji itu. Atau mungkin saja, keadaan lingkungan sekitar-lah yang memaksa Jenni melakukan itu.

Lihat saja, setiap orang akan selalu berlomba memamerkan barang baru. Entah itu yang berguna atau tidak. Kesuksesan hidup seolah diukur dari banyaknya barang mahal dan ber-merek yang dimiliki seseorang.  Bagaimana dengan mereka yang tak punya? Bagaimana dengan mereka, yang hanya untuk mengisi perut harus membanting tulang sejak pagi hingga petang? Mau tidak mau, mereka akhirnya dipandang sebelah mata.

Bagi mereka yang mampu berdiri dan berani berbeda dari orang banyak, kenyataan itu bukanlah masalah. Tetapi bagi kami yang sedang mencari jati diri, realita ini adalah tantangan berat. Beberapa diantara kami akhirnya menjual diri untuk membeli suatu barang. Baik itu handphone tercanggih dan terbaru, laptop, pakaian dan tas ber-merek, bahkan sepeda motor.

Sebenarnya tanpa disadari, mereka merendahkan diri. Membatasi harga diri dengan setumpuk rupiah. Sesaat, mereka pikir tindakan ini tak sesat. Tetapi jika dipikir lebih dalam, cara ini membawa mereka dalam masalah yang lebih berat.

Aku tak mengerti apa yang didapat setelah memiliki barang itu. Alasan yang sering ditulis para pemburu berita, mereka melakukannya hanya untuk sebuah pujian. Hanya untuk menegaskan eksistensi agar tidak dipandang sebelah mata.

Yang luput dari pikiran mereka, setelah dipuji, mau apa lagi? Apa anggapan itu mendatangkan bahagia?

"Andai saja waktu bisa kuputar kembali, aku harusnya tak mengikuti mereka, Vi" Raut wajah Jenni kini dipenuhi sesal. Suaranya agak serak, menambah rasa prihatinku padanya.

"Ya... penyesalan memang selalu datang terlambat, Jen. Tetapi bukan berarti semua sudah berakhir. Kau masih berhak untuk bahagia disisa umur yang diberikan kepadamu. Jadikan ini pelajaran, Jen"

Pandang Jenni melayang di awang-awang. Tampak ekspresinya seperti mulai menerima apa yang telah terjadi. Meski semua tak akan sama lagi.

Tindakan jenni memang bodoh. Menjual diri hanya untuk membeli sepeda motor. Kepalanya mungkin bisa tegak ketika melangkah. Senyum memang terukir di wajah. Tetapi, benarkah dia bahagia?

Memang aku tak berhak mengukur kebahagiaan orang lain, tetapi tindakan seperti ini akan berdampak buruk pada Jenni. Baik dari segi kesehatan maupun psikologis.

"Menurutmu, apa yang harus kulakukan, Vi?"

"Terimalah kenyataan yang telah lalu, Jen. Kau harus bisa memaafkan dirimu sendiri. Memang berat, tetapi itu lebih baik daripada kau larut dalam penyesalan"

Hembusan nafas Jenni terdengar berat. "Aku akan mencobanya, Vi"

Jenni hanya satu dari sekian orang yang kudengar menjual diri hanya untuk membeli kebutuhan tersier. Ada yang telah menyesal, namun ada juga yang kemudian melakukannya berkali-kali dan akhirnya tinggal di dunia itu.

Aku tidak tahu kenapa kemudian mereka memutuskan untuk tinggal dalam dunia itu. untuk mereka yang akhirnya menyesal, aku telah mengantongi satu alasan.

Jenni yang memberikannya.

"Benda itu tak bisa kumiliki seutuhnya, Vi. Kapan saja dan dimana saja, yang kumiliki bisa hilang sekejap mata. Atau mungkin memang benar, tak ada yang betul-betul kita miliki" terngiang kembali alasan Jenni yang dikatakannya beberapa menit yang lalu.

Jenni sadar setelah sepeda motor yang dia beli sekitar satu bulan lalu dari hasil menjual diri, lenyap dibawa kabur pencuri. Padahal dia menikmatinya baru beberapa hari. Yang membuatnya semakin menyesal karena pada saat duka menyelimuti hati, teman-temannya malah beranjak pergi. Meninggalkan dia, sendiri.

"Apa kau merasa jijik pada diriku, Vi?"

Dengan cepat kutempelkan jari telunjukku pada bibir tipis Jenni. Kemudian kupeluk dia. "Tak ada manusia yang luput dari dosa, Jen" kataku sambil berharap kalimat itu bisa menumbuhkan harapan di hatinya.

Aku memang tak setuju dengan apa yang dilakukan teman-temanku. Tetapi aku tak membenci mereka atau juga merasa jijik dengan diri mereka. Karena mereka, aku dan yang lainnya hanya-lah korban dari ketidaktahuan kami. Korban dari kebingungan kami.

Mungkin disaat seperti ini lah, kasih sayang harusnya membuktikan diri bahwa dia memang mampu menopang setiap pribadi ketika berada dalam kubangan pencobaan. Bukan memberi hukuman saat diri jatuh dalam kesalahan.