Mohon tunggu...
Hengky  Yohanes
Hengky Yohanes Mohon Tunggu... Jurnalis PALI tinggal di Pendopo

Jika menulis di Kompasiana bisa mendapat predikat menjadi Penulis, insyaAllah saya akan jadi penulis yang baik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Geletar Bahagia Seniman, Pemerintah Sambut Baik Musenda

23 Agustus 2019   19:40 Diperbarui: 23 Agustus 2019   19:45 66 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Geletar Bahagia Seniman, Pemerintah Sambut Baik Musenda
HENGKY YOHANES (Komite Teater dan Sinematografi DK-PALI)/dokpri

Kesenian adalah sebuah kecerdasan!!, kalau ingin agak sedikit superior, bisa dikatakan sebagai anugerah. Mengapa, pasalnya populasi seniman lebih sedikit jika dibandingkan jumlah koruptor yang baru top di Indonesia sejak 2004 atau sejalan dibentuknya KPK.

Loh, apa kaitanya seni dengan koruptor? Tentu saja tidak ada, karena seniman yang paham arti seni tidak akan melakukan suatu perbuatan tidak seronok seperti yang dilakukan koruptor yang makin kesini sudah dianggap sebagai sebuah kejahatan extra ordinaryy.

Dilalah, notifikasi pesan whatsapp saya berdenting. "Kak, bisa telpon aku dak, penting.." dari seorang sahabat yang singkat cerita meminta Saya dapat membantunya dalam suksesi acara "Diskusi Panel Seniman" yang digelar oleh Ikatan Pelaku Seni (IPS) PALI. 

Tanpa berpikir berapa honor yang bisa didapat dari panitia atas job Saya sebagai moderator dan bahkan akan Saya tunda janji bertemu dengan seorang menteri (hahaha,, ngarep) demi dapat menghadiri acara tersebut.

Ada geletar bahagia yang Saya rasakan saat panitia mengabarkan panelis yang telah mengkonfirmasi kehadiran salah satunya mewakili pemerintah, termasuk panitia sepakat dengan apa yang Saya usulkan dalam acara diskusi panel tersebut agar dapat membahas tentang keberadaan Dewan Kesenian.

Iseng, Saya buka kembali direktori file tentang Surat Keputusan Bupati PALI tentang "Pengesahan Pengurus Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir Periode 2014-2019". 

Benar saja, sudah sejak bulan April masa bakti kepengurusan telah berakhir. Ironis memang apabila diceritakan "bak menepuk air di dulang" malu, mungkin kata yang paling pas menggambarkan situasi ini. Rantang satu periode tidak ada yang diperbuat oleh DK-PALI setelah kali pertama dan terakhir menggelar "Festival Kebudayaan dan Apresiasi Seni" di penghujung tahun 2015.

Staknansi ini terjadi akibat adanya konflik internal pengurus yang mengalami kesenjangan hak perlakuan. Sebagian kelompok mendapat honor pengurus, sebagian lagi tidak. Saya sendiri sih berada dikelompok yang mendapat honor. Namun demikian, Saya juga yang getol memperjuangkanna. 

Sampai-sampai Saya rela menggelar aksi (unjuk rasa) di depan Kantor DPRD PALI demi tujuan menyelamatkan DK-PALI yang berada diambang kehancuran. Namun demikian dan bahkan laporan kepolisian dibuat tetap saja DK mandek tanpa aktifitas sampai sekarang. Ah, sudahlah daripada ngurusin cek cok pengurus, mending nulis lagi.

Lalu, tidaklah berlebihan dengan pendapat Saya tentang kesenian yang dijadikan sebagai lahan penghidupan, toh sah sah sajakan. Seniman juga punya keluarga yang ingin hidupnya sejahtera. Seniman perlu kertas untuk menulis, perlu kanvas untuk melukis begitu seterusnya karena media kesenian tidak lantas turun dari langit.

Pelaku seni dan bahkan organisasi kesenian memang dekat dengan perang mulut. Tidak sedikit pula berujung pada adu fisik. Hanya saja, saya pikir, tempat terbaik adu fisik adalah ring tinju, sementara di dunia seni, yang boleh terjadi hanyalah adu kreatifitas. Maka, ketika kesenian sudah kian mendekati perpecahan, idealnya pelindung dan penasehat Dewan Kesenialah yang mengambil alih menjadi peneraju.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x