Mohon tunggu...
Bahaiuddin Faiz
Bahaiuddin Faiz Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mengutamakan karya

Menulis apapun yang saya suka

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menganalisis Status Sosial di Masyarakat Berdasarkan Tempat Duduk Saat Tahlilan

5 Agustus 2022   19:00 Diperbarui: 18 Agustus 2022   06:31 132 4 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Saya termasuk kalo pulang di rumah saya jarang ikut tahlilan,biasanya diwakilkan oleh bapak dan hanya berangkat manakala bapak sedang ada pergi ke luar kota atau sedang sakit .Namun semenjak mengikuti KKN beberapa pekan yang lalu ,saya mulai mengikuti tahlilan bareng bapak. 

Oh ya bagi yang belum tahu tahlilan itu ngapain ? rituan apa ? simpelnya tahlilan adalah kegiatan mengumpulkan warga muslim terutama yang sudah baligh untuk doa bersama mendoakan para arwah (mayit),nah biasanya pelaksanaanya bisa 7 hari pertama berturut turut,hari ke-40,ke-100,atau ke-1000 tergantung kemampuan pemilik hajat.Diakhir tahlilan biasanya pemilik hajat memberikan hidangan atau besek yang bisa dibawa pulang.

Melihat fakta bahwa tahlilan merupakan acara rutin di desa saya.Semakin kesini saya melihat seperti ada pola yang cukup unik daripada ritual satu ini yaitu posisi duduk mereka jika ika kalian amati seksama entah mengapa kalau pak ustaz yang datang biasanya duduk diruang tamu,atau orang yang punya jabatan di desa  mereka biasanya dapat duduk di ruang tamu, atau pemuda pemudi yang biasanya suka mojok di pinggir halaman rumah sambil sebat santai .Itu semua seolah bukan terjadi tanpa sebab seolah ada semacam aturan tidak tertulis yang harus mereka taati.Tempat duduk yang mereka tempati saat tahlilan bisa merepresentasikan siapa mereka di lingkungan.Dan uniknya susunan semacam ini pun murni didasarkan kesadaran individu apalagi paksaan dari pihak manapun semua seolah tau harus menempatkan diri saat tahlilan dimulai.

Berdasarkan analisis ngawur saya dari pengalaman mengikuti tahlilan  2 bulan yang lalu di desa saya.Sekiranya ada 4 tempat area yang bisa diidentifikasikan sebagai penentu status sosial seseorang di masyarakat berdasarkan tempat duduk tahlilan cekidot:

1. Ruang tamu

seperti namanya area ini umumnya diisi oleh orang orang yang dianggap "penting" dan punya pengaruh baik di tingkat rt rw maupun desa.Mereka bisa berstatus ustaz,ulama kiai, sesepuh,ketua rt,ketua rw atau bahkan perangkat desa .

2. Teras rumah

Teras rumah adalah tempat yang sempurna bagi percampuran kultur yang ada di masyarakat.Area teras juga semacam transisi bagi mereka yang seharusnya berada di ruang tamu dan mereka yang ada di halaman rumah.Singkatnya, teras rumah ini merupakan tempat berkumpulnya orang orang "penting" di ruang tamu yang tidak kebagian tempat dan orang awam yang rajin datang lebih awal sehingga status sosial mereka saat mengikuti tahlilan dapat dikatakan abu abu tapi masih diperhitungkan di masyarakat.

3.  Halaman rumah

Untuk area halaman rumah, umumnya dipenuhi oleh masyarakat umum atau awam yang tidak "penting" di desa . Ya bisa juga dikatakan warga biasa di desa.mereka berada di halaman rumah mengikuti tahlilan  adalah orang datangnya tidak begitu rajin dan datang agak mepet waktu tahlilan dimulai status sosial mereka ya standar standar saja.

4. Pojokan halaman rumah

The last but not least  ini dia area para gembong gembong di desa. Area ini umumnya  menjadi tempat komplotan muda mudi yang masih suka mabok,jarang sholat di mushola atau masjid tetapi masih ada hati nurani untuk datang  ke acara tahlilan.Untuk bagian spesifik pojoknya sendiri tidak diketahui secara pasti .Kadang kala bisa bagian pojok samping kanan, kiri maupun pojok belakang,akan tetapi jangan salah area pojokan dikenal lebih pewe, alias posisi wenak jika dikomparasikan dengan tempat duduk tahlilan yang lain.

Dari analisis ngawur di atas tadi setidaknya saya sadar status sosial bisa diketahui hanya dari pemilihan tempat duduk saat tahlilan .Seperti yang saya telah singgung diatas fenomena ini muncul benar benar dari kesadaran sendiri para peserta bukan paksaan apalagi sogokan.Dari sini kita bisa mengambil pelajaran untuk tahu diri dan wajib hormat kepada mereka yang harusnya dihormati.Peserta tahlilan seolah tahu dan paham menempatkan diri dan menyesuaikan sosio kultural yang ada. Hal ini berbanding lurus dengan prinsip "Tempatkan sesuatu pada tempatnya" sungguh prinsip yang mashook sekali bukan.

Manakala tidak sesuai tempatnya,orang tersebut akan terasa asing dengan posisi duduknya . ibarat kata seorang pemuda yang datang  habis setengah beler kemudian dengan santainya dia masuk mencari posisinya di ruang tamu saat acara akan dimulai pastinya ada kemungkinan dia menjadi sorotan seantero ruangan atau menjadi bahan perbincangan di sana atau mungkin yang paling parah adalah dikeplak buku yasin.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan