Mohon tunggu...
Bagja Putra
Bagja Putra Mohon Tunggu... Penulis

Start Everything with Bismillah.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Upaya Pemertahanan Nilai-nilai Budaya Bangsa di Tengah Gencarnya Era Revolusi Industri 4.O

13 Januari 2020   13:06 Diperbarui: 13 Januari 2020   13:07 238 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh Bagja Putra

Budaya merupakan cerminan dari suatu bangsa, baik dari segi bahasa, kepribadian maupun peninggalan-peninggalan bersejarah yang masih tersimpan. Secara bahasa, budaya berasal dari bahasa Sansekerta, yakni Buddhi atau Budhia yang berarti akal yang lantas melahirkan gagasan, ide, pengetahuan, adat istiadat, hukum, serta karya-karya baik berupa benda mau pun non benda.

Pada 2017, Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan (The United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization) atau akrab disebut UNESCO menilai bahwa Indonesia merupakan negara super power dalam bidang kebudayaan.

Tidak diragukan lagi, Indonesia memiliki begitu banyak peninggalan budaya besar di dalamnya yang masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Misalnya, ratusan bahasa daerah, peninggalan-peninggalan bersejarah berupa tempat-tempat ibadah (seperti candi-candi dan masjid), busana (seperti batik dan songket), kuliner yang beragam cita rasa, senjata tradisional, dan juga tarian-tarian lokal.

Tidak hanya itu, perlu kita sadari pula, bahwa budaya suatu bangsa itu tidak hanya dititik beratkan pada bentuk fisiknya saja, tetapi juga ditekankan pada kearifan serta pemikiran (ideologi) yang menjadi falsafah hidup bangsa tersebut.

Indonesia memiliki Islam dan Pancasila sebagai senjata pemersatu bangsa dan ketahuilah, Pancasila merupakan cerminan jati diri leluhur bangsa Indonesia. Bangsa yang dikenal religius, penuh tenggang rasa, musyawarah, adil, dan menjunjung tinggi persatuan. Namun, faktanya pada zaman sekarang, nyaris seluruh kearifan budaya bangsa kita memudar, terutama di kalangan generasi milenial. Budaya ramah dan gotong royong yang bertukar menjadi cuek, individualisme. Budaya bekerja keras, berubah menjadi malas, santuy, serba pragmatis, dan hedonisme.

Selain itu, banyak juga orang yang masih melanggar hukum yang berlaku. Baik itu hukum adat, hukum agama, maupun hukum negara. Bangsa Indonesia tengah dijangkit oleh keadaan yang kritis akan pelbagai hal, termasuk disintegrasi nasional, lunturnya jiwa kebangsaan (Patriotisme), serta cacat moral dengan jiwa dan pemikiran sekular-liberal yang semakin berkembang pesat seiring kemajuan teknologi yang tak bisa dipungkiri keberadaannya, tetapi efeknya begitu fenomenal.

Misalnya, korupsi terjadi dalam segala aspek kehidupan (dalam ranah terkecil saja, masih banyak sekali siswa yang suka mencontek), suap-menyuap (pada saat pemilihan kepala daerah atau kasus lainnya), perjudian, pornografi, pergaulan bebas, narkoba, pembunuhan yang marak terjadi, dan pelbagai pelecehan lainnya, yang menggambarkan betapa pudar penerapan nilai-nilai budaya bangsa kita yang sesungguhnya, Pancasila. Apalagi setelah gencarnya revolusi industri yang terjadi di seluruh dunia, semakin memperluas pemikiran yang serba kapital.

Menurut budayawan Acil Bimboo dalam suatu talkhow yang ditayangkan media kompas.com, mengatakan bahwa masyarakat kita saat ini tengah mengalami kerusakan dari sisi budaya. Yang lebih dominan muncul saat ini adalah karakter egois, individualis, konsumtif, kehilangan nasionalisme, krisis kreatif dalam berseni. Ia bahkan khawatir anekdot yang pernah menyatakan, "Jika ingin merusak suatu bangsa, maka hancurkan saja kebudayaannya," itu terjadi. Semua itu karena tidak terkendalinya dampak negatif dari arus globalisasi.

Menurut pengamatan saya pula, salah satu faktor yang sangat mempengaruhi perilaku seseorang dewasa ini adalah tontonan dan bacaannya (Literasi). Menurut hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2015, rating grade pendidikan Indonesia menempati posisi ke-62 dari 70 negara, sungguh miris, bukan? Padahal majunya suatu bangsa tergantung pada sistem pendidikannya.

Bagaimana tidak? Kita dapat menyaksikan banyak tontonan tidak sehat tersebar luas nyaris di seluruh televisi. Tontonan yang banyak mengajarkan perilaku negatif seperti pacaran, rencana pembunuhan, dan sebagainya, juga berita-berita buruk yang sangat sering ditayangkan, bahkan dalam suatu kasus yang hangat diberitakan pada tahun 2019, yakni pembunuhan ayah dan anak yang dilakukan oleh seorang ibu karena memiliki hutang sebesar 10 milyar. Saat diklarifikasi, wanita itu merespons bahwa dia terinspirasi dari sinetron yang kerap dia tonton (Dikutip dari CNN News Indonesia).

Lalu banyak juga talkshow yang kurang bermanfaat, lebih difokuskan pada kehidupan orang-orang kaya (Selebrities) dan gaya hidup hedonis. Sementara, untuk informasi perkembangan prestasi anak-anak bangsa yang menginspirasi seperti menjuarai pelbagai perlombaan tingkat nasional dan internasional, perjuangan anak-anak kalangan bawah dalam memperoleh pendidikan layak, perjuangan guru-guru hebat, dan lainnya sangatlah sedikit keberadaannya, bahkan jika ditayangkan di acara-acara televisi hanya selewat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN