Mohon tunggu...
Bagas Prabowo Adi
Bagas Prabowo Adi Mohon Tunggu... Teologi | Pemuridan

Studying at Surakarta Christian University, Faculty of Theology | Instagram : @bagasprabowo

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Seni Menafsirkan Alkitab

11 Februari 2021   11:59 Diperbarui: 11 Februari 2021   15:53 107 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seni Menafsirkan Alkitab
understandchristianity.com

Penafsiran dikatakan juga sebagai sebuah seni sebab hasil/output dari seorang penafsir belum tentu sama dengan penafsir lainnya. Metode yang digunakan untuk menafsirpun juga bervariasi. Pengalaman serta doktrin yang melatarbelakangi seorang penafsir juga mempengaruhi hasil tafsiran tersebut.

Semua orang ingin menyodorkan aneka kebenaran, bahkan juga yang berlandaskan Alkitab. Alkitabnya sama, tetapi mengapa muncul berbagai pemahaman yang berbeda? Lalu yang mana yang harus diikuti? Maka di sinilah diperlukan sebuah seni tafsir Alkitab, untuk menemukan dan menentukan makna Alkitab yang sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sang penulisnya.

Meskipun menafsir juga dikatakan sebuah seni, tetapi dalam prosesnya tidak boleh sembarangan. Perlu adanya ketentuan-ketentuan supaya penafsiran tersebut sesuai dengan makna sesungguhnya seperti apa yang dimaksudkan oleh penulis teks Alkitab. Meskipun mungkin kita tidak dapat secara benar-benar tepat memahami maksud dari penulis teks, setidaknya seorang penafsir dapat mendekati maksud penulis dalam teks tersebut. Semua bisa mempelajarinya, tanpa perlu dibatasi oleh latar belakang seseorang. Meski latar belakang seseorang, juga memengaruhi kecepatan dan ketepatan dalam pemahamannya.

Layaknya sebuah seni, hasil tafsiran dari seorang penafsir juga dapat dipahami berbeda-beda oleh pendengar jika penyampaian atas tafsiran tersebut kurang tepat. Untuk itu seorang penafsir perlu memiliki keahlian delivery atau penyampaian yang baik.

Sejatinya praktik menafsirkan sebuah teks telah menjadi bagian dari sejarah manusia. Seni menafsir teks ini juga dikenal dengan istilah Hermeneutika. Hermeneutika sebagai aktivitas manusia muncul dari kebutuhan untuk menafsirkan pemikiran atau teks yang ditulis oleh orang lain.

Setiap tulisan atau teks hasil dari pemikiran orang lain tentu memiliki makna dan maksud/tujuan tertentu dalam penulisannya. Contohnya, siapa yang tidak kenal novel karya C. S Lewis yang berjudul The Chronicles of Narnia, orang-orang juga semakin mengenal karyanya melalui film yang dibuat oleh perusahaan perfilman terkenal di Hollywood. Tetapi siapa sangka jika The Chronicles of Narnia memiliki pesan yang tersembunyi dalam ceritanya. Secara garis besar alur cerita dalam The Chronicles of Narnia mengikuti alur cerita kehidupan Yesus Kristus di dunia dan pesan-pesan Alkitab yang lain yang digambarkan secara tersembunyi melalui karakter-karakter dalam novel maupun filmnya. Siapa yang menyangka bahwa tujuan sebenarnya The Chronicles of Narnia adalah untuk memperkenalkan karya penyelamatan Yesus dan menginsepsikan kebenaran-kebenaran Alkitab melalui sebuah cerita fiksi. Namun, tidak banyak orang yang mengetahui hal ini sebab pemilihan diksi, gaya bahasa serta penggambaran karakternya memiliki ciri khas.

Sama halnya dengan novel karya C.S Lewis, jika dipandang murni melalui kacamata akademis dengan mengabaikan sisi religiusitasnya, Alkitab juga merupakan hasil dari pemikiran orang lain yang meresponi Firman Tuhan. Penulisan Alkitab dipengaruhi oleh budaya, gaya bahasa dan kebiasaan-kebiasaan orang pada zamannya. Meskipun tentu di banyak bagian Alkitab tidak dapat di samakan secara tepat dengan sebuah novel fiksi. Budaya, gaya bahasa dan kebiasaan-kebiasaan orang pada zaman penulis Perjanjian Lama dulu tentu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Untuk itu teks Alkitab perlu ditafsirkan dengan tepat sesuai konteksnya pada zaman itu dan dihubungkan dengan zaman sekarang. Terlebih Alkitab menjadi sebuah buku yang dijadikan pedoman hidup bagi orang Kristen. Maka, sungguh sangat penting untuk memahami dengan benar apa tujuan dan makna teks Alkitab bagi hidup kita.

Beberapa tujuan yang lain dari menafsirkan Alkitab adalah, sebagai berikut :

1.       UNTUK TUJUAN APLIKASI. Setelah memahami Alkitab dengan benar sesuai dengan maksud penulisnya, maka perlu kita menempatkannya pada konteks dimana kita sekarang berada sehingga kita tahu apa artinya bagi kita sekarang dan bagaimana mengaplikasikannya dalam konteks kita sekarang.

2.       UNTUK PERTUMBUHAN ROHANI. Setelah mengerti Alkitab dengan benar dan mengaplikasikan kebenarannya dalam hidup kita sehari-hari maka kehidupan iman kita akan bertumbuh menjadi dewasa.

3.       SEBAGAI TINDAKAN PREVENTIF. Apabila tujuan di atas tercapai maka kita akan sekaligus terhindar dari pengajaran-pengajaran sesat yang mencoba menafsirkan Alkitab secara salah dan tidak bertanggung jawab.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN