Mohon tunggu...
Bagas Candrakanta
Bagas Candrakanta Mohon Tunggu...

SMI - Sopan Mengelaborasi Ide

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Atlet Menyukai Profesinya

1 Januari 2017   06:46 Diperbarui: 1 Januari 2017   08:50 197 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Atlet Menyukai Profesinya
Gambar: Tribunnews.com

Saya mempunyai teman yang sangat mencintai bidang olahraga taekwondo. Dia sudah menekuni bidang ini dari SD dan sudah banyak memenangi sejumlah kejuaraan bergengsi tingkat provinsi sampai sekarang. Usianya pun masih sungguh muda. Saya sempat menanyakan dengan rasa penasaran mengapa tidak terjun sepenuhnya ke dunia atlet. Jawabannya acuh tak acuh, “Nggak ah”. Apakah pikiran saya saja yang terlalu berlebihan melihat beliau sangat berbakat ? Entahlah.

Saya menangkap bahwa beliau memiliki perasaan ketidakyakinan bisa hidup dengan memilih karir sebagai atlet. Saya menangkap beliau ragu bisa menafkai keluarga dari olahraga. Jika alasan tersebut benar, sungguh amat disayangkan. Saya pikir kalau kita sudah menemukan passion, langsung saja terjun ke dunia tersebut. Maka dari itulah kita tidak akan melihat Cristiano Ronaldo menari Moon Walk sambil menyanyikan lagu “Beat it”. Saya sering iseng menyindirnya dengan mengatakan, “ah kau mah atlet”. Karena menurut saya, ciri-ciri orang yang berbakat menekuni bidang olahraga adalah orang yang mudah ditempah/dipoles. Mau kegiatan apapun yang berbau olahraga, dia mahir. Futsal, rock climbing, apalagi taekwondo. Kelenturan tubuhnya itu terlihat.

Saya lebih menyayangkan kepada Indonesia. Banyak kasus yang seharusnya gak pantas terjadi, seperti korupsinya mantan Menpora dan ketua umum PSSI. Sangat disayangkan P3SON di Hambalang jadi terlantar. Yang tidak bisa diberikan Sang Garuda adalah harapan, sedangkan para calon atlet butuh harapan. Kita pun masih senyum-senyum manis apabila mendapati keterangan pekerjaan di KTP seseorang, adalah atlet. Kan biasanya mahasiswa atau wirausahawan.

Bahkan, kita sering mendapati pekerjaan favorit anak-anak sekarang adalah kerja kantoran, kerja di bank, Pegawai Negeri Sipil ataupun YouTuber. Ada, tapi jarang, yang mau jadi pebulu tangkis terkenal, pemain sepakbola profesional, apalagi taekwondo. Cita-cita menjadi atlet seakan seperti sinyal internet di Indonesia bagian Timur, langka tapi butuh kasih sayang pemerintah. Mari kembali ke teman saya. Siapa role model dalam bidang taekwondo di Indonesia? Siapa panutan yang bisa membuat anak-anak yang belum menentukan cita-citanya mengatakan, “Saya ingin jadi master taekwondo” ?

Mari kita intip Negara tetangga. Thailand, Negara raksasa penghasil atlet terbaik di Asia Tenggara, memiliki lebih dari 21 sekolah olahraga yang tersebar di beberapa provinsi. Sebut saja Suphanburi Sport School yang sudah sangat familiar di telinga Asia. Bagi yang belum tahu, bisa di cek betapa ‘rapinya’ sekolah ini di YouTube. Sekolah ini mulai membina muridnya dari umur 10 tahun loh. Indonesia sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mendapatkan pusat pelatihan olahraga, yaitu P3SON di Hambalang, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Mari doakan agar proyek tersebut terealisasi.

Pandji Pragiwaksono, seorang komika yang mencatatkan sejarah menjadi manusia Indonesia pertama yang tur ke 5 benua, 24 kota dalam 1 tahun, menjelaskan masalah ini dalam bukunya yang berjudul “Juru Bicara”. Ia mengatakan, “kita sering mendengar cerita anak-anak Indonesia menjadi juara olimpiade fisika, matematika, paduan suara, atau teater. Lalu, kita juga pernah mendengar Indonesia dibanggakan Garuda U-19. Kita mendengar Kurniawan Dwi Yulianto menjadi pencetak gol tertinggi kedua di primavera, Italia.

Hanya dibawah Alessandro Del Piero! Kita mendengar Angelique Widjaja adalah juara Wimbledon junior. Mengalahkan seorang pemain yang pada akhirnya pada 2009 menjadi petenis nomor satu dunia versi WTA : Dinara Safina. Dunia tahu nama Del Piero dan Dinara Safina, tetapi bahkan anak muda Indonesia zaman sekarang bisa jadi tidak tahu Angelique Widjaja. Apakah ini salah Kurniawan dan Angelique? Sama sekali bukan. Saya menyalahkan Negara Indonesia yang tidak mampu mengangkat anak mudanya ke Indonesia.”

Yang bisa kita lakukan adalah memberikan mereka dukungan bahwa mungkin kok untuk hanya berprofesi sebagai atlet tanpa perlu mencari pekerjaan lain. Berikan mereka keyakinan bahwa Negara sudah memfasilitasi para calon atlet berbakat. Berikan mereka semangat. Berikan mereka harapan. Bayangkan jika masyarakat dan Negara memberikan harapan. Mantap itu! Kalah deh akademinya Ajax Amsterdam hehehe. Harapan disini seperti terperangkap di gua yang gelap. Keputusasaan akan muncul apabila tidak ada cahaya yang menerangi jalan. Nah, kita dan Indonesia harus setidaknya menjadi sedikit cahaya tersebut.

Saya menanyakan kepada teman saya, “Kalo bisa keliling dunia, mau kemana?” beliau menjawab, “Korea Selatan”.

“Kok?”

“Karena aku mau ketemu master” sambil memperlihatkan kartu nama seorang master di Korea Selatan.

Kabar baiknya, harapan di dalamnya dirinya tetap menyala.

Kabar baiknya, dia sungguh menyukai taekwondo. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x