Mohon tunggu...
Herman Wahyudhi
Herman Wahyudhi Mohon Tunggu... PNS, Traveller, Numismatik, dan Pelahap Bermacam Buku

Semakin banyak tahu semakin tahu bahwa banyak yang kita tidak tahu. Terus belajar, belajar, dan belajar.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Inflasi Menjelang Ramadan

11 Mei 2018   21:05 Diperbarui: 13 Mei 2018   10:02 0 1 0 Mohon Tunggu...
Inflasi Menjelang Ramadan
jakarta.bisnis.com

Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, harga-harga kebutuhan pokok mendadak naik.  Di pasar, penjual makanan langganan saya menaikkan harga pempek kapal selamnya yang semulai 13 ribu rupiah menjadi 15 ribu rupiah.  

"Cik, kok harga pempeknya naik.  Bulan puasa belum tiba, harga pempek sudah naik duluan."

"Mas, sekarang semua harga-harga bahan pempek di pasar mulai dari bawang putih, tepung, sampai telur semua naik.  Saya kalau tidak ikut-ikut menaikan harga, saya rugi dong."

Sebenarnya alasan si Encik bisa diterima karena memang dua minggu belakangan ini harga-harga mulai merambat naik.   Meski banyak diskon pakaian, kopor, sepatu, dan lain-lain, masyarakat masih mengutamakan makanan.  Benar kata Abraham Maslow  bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.  Kebutuhan paling dasar dahulu yang harus dipenuhi : pangan alias makan.   Ini masalah perut, Bung.

Kalau mau dianalisa, mengapa setiap menjelang bulan Ramadan harga-harga naik?  Mengapa tidak bulan-bulan lain.  Ada apa di bulan Ramadhan? Orang banyak berpuasa, mengapa harga-harga sandang pangan justru meroket?  Seperti kata Ketua MUI Samarinda Zaoni Naim, "Kalau masih inflasi, berarti puasanya gagal."

Karena seharusnya buat menahan makan dan minum selama puasa, namun mengapa konsumsi makan dan minum justru menjadi lebih banyak.  Nafsu ini yang membuat inflasi berlebihan.   

Studi Bank Indonesia tentang pola inflasi pada bulan Ramadan hingga Idul Fitri menunjukkan bahwa laju inflasi menjadi semakin kencang di periode tersebut. Hal ini dipicu terutama karena inflasi pada harga pangan. Penyumbang terbesarnya adalah beras, daging-dagingan, dan aneka bumbu masak.   Ketiga penyumbang terbesar inflasi ini memang sangat dibutuhkan ketika sahur, berbuka puasa, dan menjelang Lebaran. 

Sebagaimana diungkapkan oleh sebuah studi dari AC Nielsen, di bulan Ramadan penjualan barang konsumen di Indonesia, termasuk makanan, meningkat sebesar 9,2%. Angka ini merepresentasikan adanya peningkatan konsumsi masyarakat.   Penjualan biskuit, misalnya, meningkat hingga 11 kali lipat.  Komoditas lain yang juga menikmati pertumbuhan penjualan di bulan Ramadan adalah sosis dan bakso (34%), serta ikan dan daging kalengan (119%).  Tak hanya itu, konsumsi BBM juga meningkat selama Ramadhan.

Sehingga terjadi kelebihan permintaan (demand-pull inflation): Inflasi dapat timbul dari sisi permintaan ketika ada kelebihan permintaan (excess demand) dalam interaksi antara sisi permintaan dan penawaran dalam sebuah perekonomian.  fluktuasi di sisi penawaran juga berpotensi turut mendorong laju inflasi di tanah air.

Keadaan ini bisa diperperparah bila terjadi gangguan dalam proses komoditi kebutuhan masyarakat selama bulan Ramadhan.  Komoditas pangan seperti beras dan bumbu dapur proses produksinya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sulit dikendalikan karena sangat bergantung pada cuaca.  Terlebih rupiah sedang berada dalam tren pelemahan. Meskipun diprediksi tak akan menimbulkan krisis ekonomi hebat seperti pada 1998 dan 2008, bagaimanapun hal ini akan membuat biaya impor menjadi lebih tinggi dan berpengaruh pada tingkat inflasi.

Inflasi juga dapat terjadi ketika masyarakat memperkirakan bahwa akan terjadi kenaikan harga mengingat pada tahun-tahun sebelumnya harga kebutuhan pokok menjelang bulan puasa naik.   Sesuai dengan hasil studi Bank Indonesia, bahwa tren meningkatnya inflasi di bulan Ramadhan bukanlah hal baru dalam konteks perekonomian Indonesia.  Fenomena ini telah terjadi dari tahun ke tahun.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2