Mohon tunggu...
Kandradiansyah H.P.A.T.C.S.D
Kandradiansyah H.P.A.T.C.S.D Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Bernyanyi, membaca novel, dan bermain alat musik

Selanjutnya

Tutup

Politik

Kepercayaan Masyarakat pada Partai Politik di Indonesia Turun Drastis! Ini Penyebabnya!

7 Desember 2022   23:22 Diperbarui: 10 Desember 2022   09:46 218
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

(7 Desember 2022) - Berbicara tentang Partai Politik, pasti kita tidak asing lagi dengan mereka yang sibuk memikirkan segala cara bagaimana agar tujuannya dapat tercapai. 

Partai Politik bisa menjadi sarana baik sebagai penentu mana calon kandidat yang terbaik dari yang terbaik. Sayangnya untuk zaman teknologi ini, pola pikir manusia sepertinya sudah mulai berubah lebih terbuka dibanding zaman dahulu. Masyarakat sekarang sudah mulai tahu mana yang fakta mana yang palsu. Itulah pentingnya mengikuti pola zaman.

Pada zaman modern ini, rasanya slogan-slogan yang diujarkan oleh para pemimpin kita nampaknya sudah terlihat kuno sehingga terkadang masyarakat tidak lagi terikat hatinya akan kinerja para pemimpin. 

Masalah yang ditimbulkan juga tidak main-main. Jika kepercayaaan sudah hilang maka tidak ada cara lain untuk mengembalikan situasi ke bentuk semula. Piring pecah tidak bisa utuh kembali. Jikalau disambung kembali, bekasnya akan tetap terlihat. Seperti itulah umpama pentingnya kepercayaan.

Berbicara soal kepercayaan, masyarakat Indonesia sudah bukan lagi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Berita-berita bohong sudah tidak bisa mengelabui pola pikir masyarakat. Kembali lagi dari pentingnya mengikuti pola zaman. Masyarakat sekarang cenderung mencari lebih dalam terkait suatu kabar yang tersebar luas di media sosial karena sudah tidak bisa percaya 100% lagi akibat banyaknya berita-berita bohong diluar 

Berbicara tentang Partai Politik, Hasil survei Indikator Politik Indonesia mengeluarkan fakta pahit akan tingkat kepercayaan publik terhadap partai politik. Bagaimana tidak, dari banyaknya badan atau lembaga yang juga terdaftar dalam data survei, Partai Politik merupakan yang paling bawah nilainya dibanding yang lain dengan hasil konkret 54 persen saja. Dibanding presiden dengan 83% (terdapat kenaikan) sangat disayangkan Partai Politik diposisi paling rendah. Hal seperti ini bisa terjadi lantaran terjadinya hal-hal yang bisa dikatakan telah bersinggungan dengan masyarakat itu sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi?

Pertama, masyarakat sudah matang. Slogan persuasi yang dicantumkan oleh para pemimpin sudah kuno. Masyarakat zaman sekarang menginginkan sesuatu yang selalu baru dan berbeda. Masyarakat sekarang juga lebih open minded sehingga pola pikirnya lebih terbuka dibanding dulu. Terlebih lagi, seberapa sering slogan-slogan tersebut benar-benar dijalankan. Atau malah tidak pernah terwujudkan.

Kedua, mungkin kita pernah mengumpatkan barang teman sekadar kesenangan pribadi. Namun apa jadinya jika para pemimpin yang mengatasnamakan wakil rakyat, dipilih oleh rakyat mengumpatkan uang-uang rakyat demi kesenangan mereka pribadi? 

Membeli barang mewah, naik mobil pajero yang selalu didahulukan namun tidak mendahulukan keinginan rakyat? Dengan demikian maraknya korupsi dari dulu hingga sekarang adalah salah satu faktor paling utama untuk mengukur seberapa tinggi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah atau partai politik.

Ketiga, media sosial adalah mata dunia. Kita tidak perlu kemana-mana. Hanya bermodalkan satu barang bernama Handphone, kita bisa melihat berbagai macam apa yang sedang terjadi saat ini. Masalah kenegaraan merupakan hal vital yang tidak bisa dianggap sepele. 

Ketika masyarakat melihat kinerja para anggota partai politik yang terkesan tidak sesuai apa yang diinginkan rakyat dan terkadang terkesannya galak, ketat, tertutup akan kesan dan pesan dari aspirasi masyarakat, nampaknya masyarakat cenderung meninggalkan lalu menggali lebih dalam karena masih banyak diluar sana dan bukan hanya "ini saja" atau "itu saja". Hal Ini disebabkan karena kurangnya pergaulan antara anggota dengan masyarakat sehingga terkesan "Restricted Party" yang menyebabkan partisipasi masyarakat mulai terkikis habis. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun