Giorgio Babo Moggi
Giorgio Babo Moggi PNS

Dream is My Life's Keyword...

Selanjutnya

Tutup

Bola highlight

Ngada dan Genetika Sepak Bola NTT

11 Agustus 2017   16:37 Diperbarui: 11 Agustus 2017   17:00 1813 1 0
Ngada dan Genetika Sepak Bola NTT
Suporter PSN Ngada pada Turnamen ETMC 2017 (Foto: www,bolantt.wordpress.com)

Soal sepak bola, orang Ngada adalah Brazileiro-nya NTT. Kabupaten ini setiap event menghasilkan pemain-pemain berbakat. Seolah-olah sepak bola menjadi salah satu unsur genetika orang Ngada. Setiap pria berdarah Ngada selalu terlahir sebagai pemain sepak bola. Sama halnya ketika orang Jawa tanya asal-usul Anda dan jawabannya Flores, mereka akan selalu beranggapan anda bisa menyanyi. Apakah karena mayoritas penduduknya beragama Katolik yang sering  mengikuti paduan suara atau bernyanyi di dalam gereja.

Padahal anggapan itu tidak selalu benar. Tidak semua pria Ngada bisa main bola dan tidak semua orang Flores bisa menyanyi. Tapi karena mayoritas bisa baik bermain sepak bola dan bernyanyi, sematan itu pun diberikan kepada mereka.

Untuk penulis, sepak bola Ngada selalu menarik untuk diulas. Entah karena 'genetika' sepak bola atau sejarah sepak bola PSN Ngada yang syarat prestasi di jagad sepak bola NTT. Tim sepak bola yang memiliki filosofi sepak bola unik dengan tim lain. Ngada selalu tampil sebagai pembeda.

Yang menonjol pemain sepak bola Ngada adalah stamina dan kecepatan. Kita patut akui pemain Ngada memiliki stamina dan kecepatan stabil. Sehingga tepat jika PSN Ngada diberikan julukan Laskar Jaramasi. Stamina, kecepatan dan kelincihan merupakan karakter kuda. Dan, orang Ngada sangat dekat dengan alam dan hewan, sehingga nama-nama orang Ngada berasal dari unsur alam dan binatang seperti Meo (kucing), Watu (batu) dan sebagainya. Biasanya pemilihan nama karena melekat dengan karakter dan filosofi masyarakat tentang hewan atau alam.

Selain stamina, kelincahan dan kecepatan, PSN Ngada memiliki kemampuan terbang. Sehingga tagline horoooopunya Persami bisa disematkan pada PSN Ngada. Lihat saja, setiap kali menyambar atau meyapu bola, pemain PSN selau dengan aksi lompat dan menerjang, sebisa mungkin lawan tumbang, jatuh dan tersapu dengan bola.

Tipikal sepak bola seperti ini dianggap pemain PSN Ngada bermain kasar. Sebenarnya pemain PSN tidak kasar tetapi keras. Untuk menilai seorang pemain kasar dilihat dari aksi dilapangan, apakah tindakannya melanggar aturan atau tidak, misalnya men-tackle lawan. Keras kebalikannya, terlihat kasar tapi sebenarnya tidak, karena tindakan tidak melanggar aturan. Memang sering terjadi pula aksi pemain PSN Ngada dari keras menjurus ke kasar. Permainan kasar dan keras beda tipis.

Pula patut diapresiasi pemain PSN Ngada memiliki semangat dan mental bertanding yang tinggi. Mereka tampil berani di kandang siapapun ini. Daya juang ini, PSN Ngada pun pantas disematkan dengan "Seka Talo" kepunyaan Persena Nagekeo. Mental ini sangat positif jika tidak diikuti oleh tindakan yang destruktif atau merusak. Merusak mental sendiri, tim dan suasana pertandingan. Kemenangan yang harus sudah di depan mata, akhirnya sirna. Aspek ini yang mungkin masih kurang dari pemain PSN Ngada.

Bila memperhatikan beberapa hal di atas, pemain sepak bola Ngada unggul secara natural dari fisik dan mental apalagi ditunjangi dengan skill yang mumpuni. Dari keunggulan itu, sebenarnya kita mudah mendapat celah untuk menjajaki kelemahannya.

Untuk mengalahkan PSN Ngada tidak hanya andalkan dengan teknik dan skill sepak bola. Itu sangat sulit! Mengalahkan PSN Ngada harus dengan strategi merusak mental para pemainnya. Nah, strategi merusak mental dengan cara yang positif adalah melakukan tekanan dengan cara defensif atau bertahan, pola man to mandan pola zona marking. Lawan pun tidak usah terpancing dengan gaya bermain mereka.

Gaya defensif, man to man, dan terapkan zona marking akan memicu frustasi pemain Ngada. Frustasi ini akan memunculkan sikap emosional tak terkontrol. Pemain bermain tidak stabil. Pola permainan keras menjurus kasar. Dari sisi ini, lawan diuntungkan perubahan mental dan temparen ini. Jadi, kekalahan pemain Ngada bukan disebabkan oleh faktor teknis sepak bola tapi faktor non teknis seperti kondisi psikis yang berdampak pada pola permainan itu sendiri.

Sebagai contoh pada liga final ETMC 2017. Kekalahan PSN Ngada bukan pada faktor teknis sepak bola tapi faktor-faktor teknis karena terpancing provokasi penonton dan pemain lawan. Sebagai rekan setim, ia pantas membela kawan seperjuangannya. Itu tidak saja terjadi di turnamen kelas teri ini, laga World Cup pun sering diwarnai aksi-aksi serupa.

Sejalan dengan sepak bola modern, perilaku pemain dan penonton semakin tertib. Menyaksikan duel Perse versus PSN di final ETMC 2017, kita seperti sedang berada di salah satu stadion di Inggris Raya. Di Stadion Marilonga, jarak penonton dengan garis lapangan beberapa centimeter saja. Di Inggris aman-aman saja, tidak dengan di Marilonga. Mungkin suporter klub-klub di Inggris sudah kembali dari sejarah panjang. Kekerasan, rasis dan perilaku serta sikap kontra sportivitas olahraga pernah terjadi di sana. Kini mereka sudah sadar.

Pertanyaan, apakah kita harus melewati sejarah masa lalu sepak bola Inggris di era modern ini? Tentu tidak! Teknologi telekomunikasi dan informasi memungkinkan kita menyaksikan sepak bola pada berbagai level di dunia. Kesempatan itu menjadi momentum pembelajaran sepak bola  modern. Kita dapat belajar banyak dari sana. Sayangnya, itu tidak terjadi di sini. Kerusuhan masih mewarnai turnamen sepak bola.

Saatnya, orang Ngada segera sadar dan patut berbangga. Sepak bola tanpa NTT Ngada hambar. Ibarat World Cuptanpa Brazil, Argentina, Jerman atau Belanda, sepak bola dunia tak bernyawa. Berlebihan memang, tapi itulah fakta.

Pemain PSN dan para suporter Ngada lebih cool down,sportif dan tidak terprovokasi. Bermain sepak bola secara profesional tanpa terusik drama-drama provokasi. Bermainlah keras, tapi tidak boleh kasar. Buktikan kecepatan, kelincahan dan kemampuan terbang hanya miliki PSN Ngada.

Pula orang Ngada harus berbangga karena sepak bola Ngada telah 'memasok' pemain ke berbagai klub lokal. Coba chek saja berapa pemain tim dari kabupaten lain yang berdarah Ngada. Usut punya usut pasti ada satu atau dua orang di sana. Contoh yang paling nyata adalah Karolus Bhuru yang berlaga di Perse Ende dan atau Hery Gara, striker PSKK Kota Kupang, yang meraih sepatu emas pada ETMC 2017.

Sebenarnya, PSN Ngada tidak pernah kalah. Mereka selalu menang. Kekalahan di lapangan hanya angka (skor), tetapi kemenangan sesungguhnya sepak bola Ngada telah mewarisi dan meregenerasi pemain sepak bola dari masa ke masa. Menghasilkan pemain-pemain bertalenta yang menyebar di berbagai klub yang berlaga di ETMC maupun Piala Gubernur. Suatu kebanggaan dan Ngada harus berbesar hati. Artinya, iklim dan sistem kompetisi sepak bola di Ngada sukses karena mengangkat bibit-bibit pesepak bola.

Usul saya satu saja. Benahi mental pemain. Karena mental ini menjadi sisi lemah PSN Ngada dan sering dimanfaatkan lawan dengan berbagai cara. Karena sepak bola bukan lagi soal estetika tapi tujuannya kemenangan (gol) -- bagaimana pun caranya orang akan melakukannya.  Karenanya itu PSN Ngada harus waspada. Manajer dan jajaran PSN Ngada tidak saja meningkatkan kemampuan skill motorik pemain pula manajemen emosional pemain dalam menghadapi situasi dan merespon sesuatu baik di dalam maupun luar lapangan. Coba saja malam final ETMC 2017, PSN Ngada tampil tenang dan tidak terprovokasi, kemenangan sudah ada di tangan. Karena melihat agresitivitas PSN pada malam itu hanya menunggu waktu. Gol pasti akan tercipta.

Saya Persena Seka Talo. Saya Fans PSN Ngada Oba Bha'i. Bravo PSN Ngada! Salam olahraga!