Mahdiya Az Zahra
Mahdiya Az Zahra Wiraswasta

interest on Chemist, photograph, philosophia, graphic design

Selanjutnya

Tutup

Muda

Membangun Kelayakan

16 Mei 2017   18:19 Diperbarui: 16 Mei 2017   18:23 41 0 0

Apa yang kita upayakan selama hidup kita tentunya akan bermuara pada sebuah tujuan. Dari kita masih kecil hingga dewasa kita selalu memiliki tujuan, dan tujuan itu yang kemudian membangkitkan kita untuk terus mengupayakan. Misal kita belajar akan kita lulus ujian. Lulus ujian adalah tujuan, dan belajar adalah upaya yang kita perjuangkan. Setelah lulus kita akan membuat tujuan baru lagi. Namun, apakah tujuan dari tujuan kita itu sendiri?

Jauh dibalik yang kita sadari, sesungguhnya kita memiliki tujuan suci yaitu membangun kelayakan. Membangun kelayakan terhadap apa yang kita hadapi. Ketika kita ingin mendaftar di sebuah universitas, atau melamar beasiswa, atau melamar pekerjaan, atau bahkan melamar seseoran, kita akan bertanya pada diri kita sendir layak kah aku untuk mendapatkan ini?

Kita akan berjuang mati-matian untuk layak menjadi seorang mahasiswa di universitas ternama. Kita juga akan berjuang untuk layak diterima di sebuah perusahaan besar, juga memperjuangkan agar dapat menerima beasiswa. Kita juga sering menyebut untuk memantaskan diri agar kita pantas di hadapan pasangan kita. Kita akan belajar sains, bahasa, teknik, komputer, dan skill-skill lain untuk menjadi layak.

Namun jauh dari itu sesungguhnya kita sedang mempersiapkan diri untuk  membangun kelayakan di hadapan Allah swt. Layak kah kita untuk meminta ridha Allah? Ilmu yang kita peroleh, sikap yang selalu kita perbaiki tak lain untuk menjadi layak.

Layak kah kita mengaku sebagai umat Nabi? Sanggupkah kita hidup seperti Nabi hingga kita mengatakan bahwa kita adalah umat Nabi yang akan mengikuti semua sunnah Nabi?

Kita harus terus berupaya membangun kelayakan. Kita tidak bisa berhenti terus berusaha dan belajar untuk menjadi layak. Karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah layak. Ketidak layakan kitalah yang membuat kita harus berjuang, karena kita diberi pilihan untuk mencapai maqam yang layak untuk manusia biasa.

Sampai kapan pun kita tidak bisa berhenti membangun kelayakan, karena sampai kapan pun kita tidak akan pernah layak.