Mohon tunggu...
Azwar Abidin
Azwar Abidin Mohon Tunggu... A humble, yet open-minded wordsmith.

Faculty Member at FTIK, State Islamic Institute of Kendari. Likes Reading, Drinks Coffee.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Moral dan Etika, Ada Tanggung Jawab Institusi Pendidikan di Sana!

6 November 2019   19:25 Diperbarui: 7 November 2019   16:28 0 5 0 Mohon Tunggu...
Moral dan Etika, Ada Tanggung Jawab Institusi Pendidikan di Sana!
ilustrasi institusi pendidikan. (sumber: kompas)

Tulisan ini merupakan hasil dari diskusi panjang bersama rekan Mahasiswi a.n. Ainun Rahman. Semoga bacaan di diskusi berikutnya lebih kaya sehingga hasil diskusinya juga semakin komprehensif.

Sekolah dan Kampus merupakan institusi sakral yang sampai hari ini kepercayaan penuh terhadapnya masih dipegang teguh oleh masyarakat luas. Keduanya merupakan gerbang peradaban di mana nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat ditanamkan kepada generasi selanjutnya agar warisan peradaban masyarakat tersebut bisa bertahan.

Secara umum, masyarakat menilai kemajuan suatu bangsa dari kualitas institusi pendidikan di garda depan yaitu sekolah dan kampus. Landasan utama pendidikan yang dilaksanakan di institusi tersebut adalah membentuk suatu karakter siswa(i) atau mahasiswa(i) yang terdidik dan berpengetahuan.

Sayangnya, Sekolah dan Kampus cenderung melaksanakan pendidikan dengan mengandalkan pengetahuan dan pemahaman. Sehingga pendidikan identik dengan aspek kognitif dengan kapasitas intelektual sebagai tolak ukurnya.

Aspek emosional hingga perilaku kurang mendapat perhatian. Kedua aspek itu memang dirumuskan dalam kurikulum namun samar dalam penerapan dan tindakan.

Lihat saja instrumen evaluasi hasil belajar yang hanya menyuburkan aspek kognitif dan sama sekali tidak menyentuh aspek emosional atau perilaku. Interaksi belajar mengajar pun hanya didefinisikan oleh ruang kelas. 

Padahal, tegur sapa, tutur kata, hingga tabiat yang ditunjukkan oleh baik pendidik maupun peserta didik di lingkungan sekolah dapat menjadi saran dan media penanaman aspek-aspek pendidikan lainnya.

Lalu, bukankah Sekolah dan Kampus sudah selayaknya membentuk peserta didik yang bermoral dan beretika? Rumusan itu jangan disalah artikan menjadi sekadar konseptual di mana peran sekolah dan kampus memang memastikan peserta didik memahami konsep tentang moralitas. Rumusan pertanyaan ini menjadi penting agar tujuan dari diskusi ini menemui maksudnya.

Institusi Pendidikan dan Rekayasa Perilaku Bermoral

Konsep tentang moralitas dan etika jelas diajarkan di sekolah hingga perguruan tinggi. Namun yang menjadi soalan adalah perlukah sekolah dan kampus mengatur sekaligus membentuk watak, perasaan, tabiat, hingga pola berperilaku peseta didik yang sesuai dengan standar moral tertentu? Untuk membahas ini secara mendalam, perlu kiranya Michael Hand diseret ke dalam diskusi ini.

Profesor filsafat pendidikan di Universitas Birmingham ini pernah mengajukan pertanyaan yang sama. Sehingga, dalam konteks pendidikan moral dan etika di institusi pendidikan, ia mulai bahasannya dengan membedakan antara konsep moral dan perilaku bermoral. Baginya, konsep moral menyangkut pembahasan rasional mengenai asal muasal, muatan, hingga pertimbangan mengenai standar moralitas tertentu.

Konsep moral ini pun sebenarnya tidak mendapat alokasi cukup di kurikulum. Biasanya, konsep moral hanya dibahas di mata pelajaran atau mata kuliah tertentu seperti Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau Aqidah-Akhlaq

Minimnya diskusi yang menyinggung perbandingan hingga landasan filosofis tiap-tiap standar moral yang ada membuat bahasan konsep moral di institusi pendidikan cenderung mengarah ke indoktrinasi.

Di sisi lain, perilaku bermoral menyangkut penanaman dan pendalaman watak, perasaan, hingga tabiat pada peserta didik dengan tujuan untuk membentuk pola perilaku yang sesuai dengan standar moral tertentu. Tugas ini sangat berat hingga, di Indonesia, biasanya hanya sekolah asrama seperti Pondok Pesantren yang menyanggupinya.

ilustrasi bekerja. [sumber: unsplash.com/Chris Curry @chris_curry]
ilustrasi bekerja. [sumber: unsplash.com/Chris Curry @chris_curry]
Rekayasa perilaku bermoral menurut standar moral tertentu sulit diterapkan di lingkungan sekolah atau kampus di Indonesia karena beragamnya kompetensi yang mesti pula didalami oleh peserta didik. 

Terlebih, beragam kompetensi itu hanya menyasar aspek kognitif dengan ukuran tingkat intelektual peserta didik. Apalagi jika melibatkan intervensi fisik, tugas ini menjadi semakin sulit.

Guru yang ditikam oleh siswanya sendiri beberapa waktu lalu karena diberi teguran untuk tidak merokok di area sekolah menjadi salah satu di antara banyak contoh konsekuensi yang mesti diantisipasi guru ketika menerapkan rekayasa perilaku bermoral dan beretika di lingkungan sekolah. 

Lagipula, jika standar moral suatu bangsa yang ingin ditanamkan ke generasi berikutnya, bukankah institusi lain penopang sebuah peradaban juga mesti mendukung sekolah dan kampus menjalankan tugasnya?

Institusi budaya seperti keluarga dan masyarakat adat hingga hingga institusi hukum seperti kepolisian juga turut bertanggungjawab mengawal penanaman nilai-nilai moralitas suatu bangsa karena institusi-institusi itu pulalah yang membentuk nilai-nilai moralitas yang berlaku secara definitif. 

Terutama konsep nilai yang ditawarkan institusi politik seperti partai atau institusi agama seperti tokoh serta pemuka agama. 

Sehingga perlu dipahami bahwa meletakkan tanggungjawab penuh program rekayasa perilaku bermoral bagi peserta didik ke pundak Guru dan Dosen dan tidak ikut berkontribusi dalam hal itu merupakan suatu bentuk sesat pikir yang dampaknya akan merugikan peradaban bangsa itu sendiri.

Sebab program rekayasa perilaku berada pada tahapan sosialisasi peserta didik itu di lingkungannya masing-masing.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x