Mohon tunggu...
AZNIL
AZNIL Mohon Tunggu... Koordinator Nasional Poros Benhil

Merdeka 100%

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ketika Kebaikan Moeldoko Ditanggapi Salah

18 Juli 2019   07:00 Diperbarui: 18 Juli 2019   07:42 0 0 0 Mohon Tunggu...
Ketika Kebaikan Moeldoko Ditanggapi Salah
koleksi pribadi

Mau ngakak rasanya ketika suatu kelompok yang merasa pemilik sorga tetapi begitu baper menanggapi pernyataan Jenderal (Purn) Moeldoko. Kepedulian Jenderal (Purn)  Moeldoko membelikan tiket pesawat kepada seorang WNI yang sekarang sedang berada di negara sebelah dan sangat pengin pulang ke Indonesia ditanggapi emosional oleh Ketum ormas yang ngga penting banget disebut namanya.
   
Kebaikan ditawarkan Jenderal (Purn) Moeldoko dikatakan melecehkan? Kalau tidak mau menerima sumbangan Jenderal (Purn) Moeldoko tidak usah marah-marah dan pake baperan begitu. Kalem aja kalix...

Sampai bersikap tidak elok memanggil namanya langsung tanpa ada tata krama sebagai kita orang timur dan orang berakhlak.

Rasa kepedulian Jenderal (Purn)  Moeldoko untuk turut menyumbang tiket pesawat sehubungan atas adanya rencana penggalangan dana akan dilakukan oleh suatu kelompok ormas untuk pembiayaan pemulangan seorang WNI yang tidak perlu disebutkan namanya. Penggalangan dana itu juga untuk membayar denda akibat melampaui izin tinggal (overstay) di negara sebelah. 

Menurut Dubes RI untuk negara sebelah, orang tersebut wajib membayar denda karena sudah melebihi izin tinggal saat kunjungan ke luar negeri. Bahkan izin tinggal orang tersebut sudah berakhir sejak pertengahan 2018.

Masih mending Jenderal (Purn) Moeldoko peduli. Jika dicuekin, bagaimana? Apa enak dicuekin? Wkwkwkkw.....

Jenderal (Purn) Moeldoko itu adalah seorang negarawan yang humanis. Meski ada seorang WNI selalu bikin provokasi dan penghasutan SARA tetapi ketika bicara kemanusiaan, beliau siap terjun membantu. Ketika bicara persoalan tentang nasib seorang warga negara, beliau melepaskan urusan politik. Beliau selalu menempatkan pada tempatnya antara persoalan kemanusiaan, kebangsaan, politik dan hukum.

Jenderal (Purn) Moeldoko adalah seorang putera bangsa Indonesia yang visioner. Terlalu naif bagi beliau membicarakan urusan pribadi orang per orang. Apalagi membicarakan seorang yang tidak begitu substansi dalam konteks negara.  

Sebagai mantan Panglima TNI dan peraih penghargaan bergengsi Bintang Adhi Makayasa memiliki kemampuan membaca peta perpolitikan Indonesia. Beliau sangat faham permainan politik yang dimainkan oleh orang-orang  yang punya kepentingan di Indonesia. Apalagi pelaku politik amatiran mencari makan dalam dunia politik dengan memainkan isu-isu sentimen SARA.    

Jenderal (Purn) Moeldoko tidak bisa disamakan dengan seorang pedagang parfum yang terjun ke kancah politik karena pintar menyakinkan pembelinya untuk memakai minyak wangi sorga.  

Jenderal (Purn) Moeldoko mengutamakan kepentingan Indonesia. Beliau tidak mau  terjebak dalam pemikiran pragmatis yang bisa mengganggu sistem negara. Bekerja untuk Indonesia Maju adalah hal yang lebih produktif daripada mengurus urusan seseorang yang hanya ingin kembali ke Indonesia, sementara negara tidak ada melarang atau mengusirnya.

Indonesia hampir terbelah oleh politik identitas dimainkan oleh kelompok ormas tersebut pada Pemilu kemarin lalu dengan songongnya menawarkan sebuah rekonsiliasi  dengan meminta syarat  memulangkan  seorang WNI yang sekarang sedang berada di negara sebelah. Jenderal (Purn) Moeldoko tidak setuju dijadikan salah satu klausul rekonsiliasi karena mencium indikasi momen rekonsiliasi dijadikan sarana negosiasi untuk kepentingan satu kelompok.

Jenderal (Purn)  Moeldoko menegaskan pemerintah tidak mengusir imam besar ormas tersebut.  Dia pun menyarankan sebaiknya WNI yang sekarang sedang berada di negara sebelah itu pulang sendiri ke Indonesia. Jenderal (Purn) Moeldoko secara kemanusiaan akan membantu pembelian tiket jika dibutuhkan.  

Dimana salahnya pernyataan Bapak Moeldoko ini? Tapi kok tiba-tiba, mereka sewot pernyataan Bapak Moeldoko sampai lupa ada kopiah putih di kepalanya. Sampai bilang Uang Anda nggak laku buat WNI yang ada di negara sebelah itu.

Makanya Pak Moel, jangan ditanggapi orang-orang seperti begitu! Kadang berbuat baik disalah artikan. Kalau boleh, saya menyarankan Pak Moel untuk kedepan cuekin saja mereka itu. Jika ditanggapi, mereka jadi gede kepala.....

Jangan energi negara habis ngurusin orang-orang merasa dirinya paling benar dan sok suci.  Bahwa negara ini ada hukum lebih tinggi. Bahwa kesatuan dan kerukunan bangsa diatas segala-galanya daripada mendengar omongan orang yang suka menyebarkan penghasutan.

Doa kami untuk Pak Moel, semoga sehat selalu dan dilindungi oleh Allah SWT untuk bekerja Indonesia Maju. Aamiin