Mohon tunggu...
Gurujiwa
Gurujiwa Mohon Tunggu... Konsultan - Induk Art Terapis - konsultan - penulis (gurujiwa508@gmail.com) (Instagram :@gurujiwa) (Twitter : @gurujiwa) (Facebook: @gurujiwa))

"Tak perlu jadi tercemerlang, keindahan konfigurasi rasi bintang di langit tercipta, semua bintang bersahaja bersinar, satu dan lainnya tidak merasa lebih" ---Gurujiwa--

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sebelum Bumi Sekarat, Ayo Wariskan Akal Sehat

21 Oktober 2021   22:37 Diperbarui: 21 Oktober 2021   23:02 111 6 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Tak ada yang kita wariskan di bumi, Kecuali akal sehat (Foto: dokpri/gurujiwa) 

 

Kita akan punah
Oleh kemajuan yang kita miliki,
Andai pun manusia sempat tersadar
Semuanya terlambat
Kiamat sudah dekat  !

(Roy Scranton mencoba menggugah
mencambuk agar  manusia selamat dalam bukunya Learning to Die in the Anthropocene: Reflections on the End of a Civilization (2015))

Percaya atau tidak
Terserah,
Tapi bumi tempat tinggalmu
Tanpa kau sadari
Sudah lima kali punah massal
Kiamat kecil
Dihajar perubahan iklim
Dibakar efek gas rumah kaca

Yang pertama bumi memerah membara
sekitar 450 juta tahun lalu
 86 persen spesies punah

 Yang paling parah,
 250 juta tahun lalu
 ketika karbon dioksida
Memicu gas  metana
bikin bumi meriang panas tinggi
lebih hangat lima derajat celsius saja
Menyapu kehidupan kompleks
 Daratan
Lautan
Dan udara

Itulah masa holosen
Masa kakek moyang manusia purba
Mulai belajar mendominasi habitat hidup planet bumi,
Masa antroposen
Masa manusia modern berkuasa
Pemuja tehnologi terkini
Pemboros enerji fosil
Melepaskan residu karbon dioksida
Sepuluh kali lebih cepat dari pendahulu
Membahayakan semesta mayapada
Ribuan kali lebih fatal dari leluhur dulu
(The Uninhabitable Earth: Life After Warming (2019))

Ada rasa pongah  memasuki abad 21
Sebagian elit penguasa
Orang kaya berkolusi
Mandi kuasa
Mandi uang
Lalai melindungi hutan
Mengaduk aduk kekayaan laut
Sampai habis
Sampai tiris,
Lalu mencemari udara
sungai dengan limbah industri mematikan berudu
Bayi ikan
Udang tiram lugu
Ular dan buaya lengah
Burung pun tersedak plastik
Hilang nafasnya terengah
Keracunan massal

Air sungaimu tercemar
Langit biru muda
Abu abu
Penuh racun kimia
Atmosfermu mabuk karbon monoksida,
Sejatinya kita semua kemaruk enerji melewati ambang batas
menyalakan mesin industri tanpa henti
Dari knalpot motor
Mobil
Dari pendingin AC ruang
Dari nyala lampu listrik
Gajet di tangan

Kalau seluruh kemewahan peradaban
Hasil kemajuan bersama
Tidak dinikmati
Sekarang,
Lalu generasi pewaris bumi nanti
Haruskah gigit jari  ?

Sejatinya kita sedang memendekkan usia sejarah manusia
Dengan laku ngawur
Tak bertanggung jawab ini

Telah lima kiamat kecil dilewati manusia dengan selamat
Mestikah
Kita mengundang kiamat keenam
Pagi pagi

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan