Mohon tunggu...
Aziz Amin
Aziz Amin Mohon Tunggu... Penulis Lepas, Trainer, Personal Coach, Terapist, Hipnoterapist, Pembicara, Online Marketer, Web Design

#bukan siapa - siapa, #tidak bisa apa - apa, #pengangguran bahagia, #kerjanya bahagia dan #itu saja {{{positif, sehat dan bahagia}}} Founder MPC INDONESIA (www.mpcindonesia.id), WA : 0858.6767.9796 Email : azizaminudinkhanafi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Stigma Itu Tidak Ada, tapi Terasa di Ruang BK

21 Februari 2020   07:32 Diperbarui: 21 Februari 2020   11:02 288 9 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Stigma Itu Tidak Ada, tapi Terasa di Ruang BK
Ilustrasi ruang guru bimbingan konseling (Sumber: sumsel.kemenag.go.id)

Bimbingan konseling (BK) tidak asing tentu Anda dengar kata itu, kata BK sudah sangat dikenal dalam program pikiran kita khususnya anak-anak generasai sekarang.

Ada apa dengan BK ?

Saya tidak akan bercerita spesifik apa itu ruang BK, guru BK, dan bagaimana sih mekanisme penanganan bimbingan dan konseling di sana.

Saya yakin bahwa hadirnya guru BK dan ruang BK pasti memiliki tujuan dan harapan yang besar. Salah satunya adalah untuk memberikan support pada peserta didik terkait persoalan yang menghambat proses belajar dan mengajar.

Harapannya dengan adanya guru BK, peserta didik dapat terfasilitasi untuk dapat mengekspresikan apapun kondisinya (state) yang menghambat atau mengganggu proses belajar khususnya terkait psikologi atau pikiran.

Dan di sinilah diharapkan guru BK bisa berperan dalam memfasilitasi dan mengatasi persoalan yang dihadapi mereka. Tentunya seorang guru BK sejatinya adalah seorang guru yang benar benar profesional dan memiliki kompetensi yang cukup sebagai konselor.

Persepsi: Masalah Vs Persoalan 
Menariknya beberapa survei jalanan kecil yang saya terapkan pada beberapa anak anak usia sekolah SMP dam SMA, didapati sebagian besar anak sekitar 70% memiliki persepsi bahwa ruang BK dan guru BK itu momok yang negatif.

Jangankan datang ke ruang BK untuk konsultasi, dipanggil aja tidak dapat membayangkan. Mereka sebagian besar menganggap bahwa siapa saja yang dipanggil BK berarti anak yang bermasalah.

Sebagian yang lain sekitar 20 % mereka sangat nyaman dengan ruang BK karena mereka aktif di organisasi sekolah, baik OSIS, PMR, Pramuka. Bahkan sering berinteraksi di ruang BK, baik konsultasi tentang jenjang pendidikan lanjutan, konsultasi pribadi dan lain sebagainya.

Menarikya saat ditanya mengenai BK, bahwa sebagian besar dari mereka yang telah terfasilitasi konseling di BK, masih memiliki persepsi bahwa BK adalah ruang yang digunakan untuk orang yang punya masalah.

Setiap orang yang datang ke ruang BK atau justru dipanggil identik dengan siswa bermasalah atau peserta didik yang bermasalah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x