Aziz Amin
Aziz Amin Trainer Hypnotherapy IBH, ID 07501

Hidup itu ya begitu, artinya apapun yang begini dan begitu bisa lebih berdaya dan bermanfaat untuk hal yang lebih luas sehingga lebih mengerti makna ini dan itu

Selanjutnya

Tutup

Parenting

Perlukah Anak Dihipnotis Biar Baik? (Bagian 1)

23 Mei 2018   10:09 Diperbarui: 24 Mei 2018   00:16 439 1 0
Perlukah Anak Dihipnotis Biar Baik? (Bagian 1)
Ilustrasi (drjenniferoke.com)

Terkait dengan program kegiatan penulis tentang "KEJAR HYPNOPARENTING" sebuah kelas belajar bersama yang mempelajari bagaimana penggunaan / pengaplikasiaan keilmuan hypnosis untuk mendidik anak ( parenting ).

Ini memang menjadi bahasan menarik saat ini khususnya di Griya Hypnotherapy MPC yang berletak di Perumahan K1001 Pintu Pasarbatang -- Brebes, dimana beberapa kasus yang saat ini masih dalam penanganan terkait dengan kenakalan anak dan perubahan prilaku anak. Persoalan yang dianggap berat bagi orang tua adalah saat anak dianggap sudah berubah dari apa yang mereka harapkan, yaitu anak yang lucu, ceria dan penurut.

Sayangnya hal ini diera sekarang bukan persoalan yang sederhana semudah membalikkan telapak tangan, banyak sekali kasus yang dialami anak terkait perubahan prilaku dan kaitan dengan kenakalan sebenarnya tidak lepas dari sebuah pergeseran pola didik dan prilaku yang berkembang di masyarakat itu sendiri.

MELIHAT ANAK JAMAN DULU  

Melihat sejarah bagaimana kita yang hidup diera kelahiran tahun 60, 70 dan 80 maka tentu akan menjadi tidak selaras dengan anak -- anak yang lahir setelah generasi itu, bagaimana perkembangan tehnologi dan perkembangan sarana informasi, globalisasi maka tidak dapat dihindari menggeser banyak nilai -- nilai yang sebelumnya ada.

Jadi sangat wajar saar orang tua menggunakan pola asuh dan didik dengan memodel secara sempurna dimasanya dulu sangat tidak relevan dengan cara asuh dan didik dimasa sekarang. Hal ini lah yang seringkali menjadi titik awal persoalan gagalnya komunikasi dan tidak harmonisnya hubungan antara orang tua dengan anak.

Artinya orang tua dulu adalah anak -- anak pada masanya dan apapun yang ia pelajari dimasa lalu melihat, mendengar dan merasakan direkam dan ditularkan kepana anak jaman sekarang ( Kids Jaman Now ) maka hal ini yang menjadikana anak mengalami kebingungan berada pada persimpangan yang membuatnya berubah dan merubah prilakuknya.

ANAK JAMAN SEKARANG ( KIDS JAMAN NOW )

" Kids jaman Now "  tepatnya kapan kalimat itu lahir dan dicuatkan oleh siapa ?, penulis jujur tidak begitu mengerti dan tidak memiliki ketertarikan mencari infonya sekarang, maka lebih fokus pada kondisi yang lagi rame di griya hypnotherapy terkait kasus anak.

Kenyataannya bahwa anak adalah mahluk yang sangat ulung ( piawai / mahir ) meniru, atau memodel dan mencontoh dari apa yang ia lihat, ia dengar dan ia rasakan. Berbada dengan anak jaman dulu yang hanya melihat sekitaran rumah, bermain dengan anak sekitaran kampung, dan melihatnya bagaimana orang tua nya beraktifitas, beribadah dll, tentu hal itu yang terekam jelas dalam pikiran bawah sadar terkait aktifitas kearifan lokal ( ora neko -- neko ).

Minimnya sarana telakomunikasi dan tehnologi informasi seperti belum adanya televisi, radio, internet dll, menjadikan anak jaman dulu tidak berinteraksi dengan dunia luar kecuali terkait dengan kearifan lokal dimana ia tinggal.

PROGRAM DASAR PIKIRAN

Itu semua yang diulas diatas diduga mejadi salah satu dari sekian banyak hal yang menyebabkan anak menjadi seperti yang banyak dikeluhkan, yaitu anak yang nakal, anak yang malas, anak yang pembangkang dan banyak hal yang selayaknya dan semestinya tidak tepat dilebelkan pada anak.

Sayangnya orang tua dalam kondisi seerti ini sebenarnya tidak sadar telah memberikan lebel, catatan yang lebel atau catatan tersebut adaah menjadi program pikiran bawah sadar anak sehingga anak makin menjadi melakukan hal tersebut seperti menjadi nakal, mbangkang, malas dll.

Hal tersebut muncul manakala orang tua membandingkan pola anak jaman dulu dan jaman sekarang, artinya kalau anak dulu lebih menghormati orang tua dan mau mendengarkan apa kata orang tua dan anak sekarang relatif tidak ( biasanya dianalisa ) ini semua karena makin fariatif informasi dan interaksi anak jaman sekarang dengan dunia luar dari televisi dan internet.

Alih alih mencari penyelesaian persoalan ini dan memperbaiki komunikasi dengan anak, mendengarkan apa keinginan anak, kadang orang tua justru enggan untuk merangkul anak biar berubah, orang tua terjebak pada ego sebagai orang tua dengan terlalu besar menuntut anak menjadi dewasa untuk memahami isi kepala orang tua.

Ketika anak tidak menemukan kenyamanan, dan titik temu dari gejolak pikirannya, seringkali anak akan mencarinya diluar keluarga, baik dari teman -- temannya maupun dengan mencari komunitas atau teman di sosial media yang dianggap bisa memenuhi kebutuhan nya bisa dimengerti dan diterima.

Makin mudahnya akses internet, dan perkembanga tehnologi, maka anak akan sangat mudah mengakses informasi apapun bahkan yang belum pada waktunya, tentu ini menjadikan anak makin tenggelam mencari apa yang dimaknai sebagai kepedulian dan kasih sayang.

LEBEL ORANG TUA BAGI ANAK

Saat seperti ini anak biasanya akan mulai memiliki lebel seperti apa orang tuanya dengan melihat bagaimana orang tua memberikan anak lebel, hal ini menjadi sangat sempurna penderitaan dan peperangan tak berkesudahan, antara keduanya, orang tua dibuat menangis oleh anak dan anak dibuat menangis oleh orang tua.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3