Mohon tunggu...
Asep Abdul Aziz
Asep Abdul Aziz Mohon Tunggu... Asisten Pribadi - Pendidikan Berkelanjutan

Tidaklah seseorang membuat karya tulis pada hari ini melainkan keesokan harinya dia berkata: Jika bagian ini diubah, tentu lebih indah. Jika bagian itu ditambah, tentu lebih jelas. Jika yang ini didahulukan, niscaya lebih menawan. Jika yang itu dihilangkan, niscaya lebih rupawan. (Ali Muhammad Hasan Al-‘Imadi)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Membaca Intensif dan Ekstensif dalam Meningkatkan Minat Baca Peserta Didik

21 Mei 2022   09:16 Diperbarui: 21 Mei 2022   09:33 149 4 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Persoalan rendahnya minat baca di Indonesia masih sangat memprihatinkan, bila melihat dari hasil survei yang dilakukan oleh Program for Internasional Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada tahun 2019, menunjukkan minat baca masyarakat Indonesia masih terbilang rendah, Indonesia menempati urutan ke-62 dari 70 negara yang disurvei atau masuk dalam 10 jajaran negara terbawah.

Senada dengan hasil survei dari UNESCO yang menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya dikisaran angka 0,001 persen, itu artinya dari 1000 orang Indonesia hanya ada 1 orang yang mempunyai minat baca/gemar membaca.

 Sedangkan, hasil survei dari Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang dilakukan pada tahun 2020 mencatat indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia sebesar 55,74 atau masuk dalam kategori sedang. Survei dilaksakan pada bulan Maret sampai dengan November 2020 dan melibatkan 10.200 responden di 34 provinsi yang bertujuan untuk mengukur frekuensi membaca, durasi membaca, dan jumlah buku yang dibaca.

Dalam survei terakhir yang dilakukan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) menunjukkan adanya peningkatan indeks kegemaran membaca, artinya indeks kegemaran membaca masyarakat Indonesia naik 1,9 poin dari tahun 2019 sebesar 53,84.

 Tidak bisa dimungkiri masyarakat Indonesia sedang mengalami masa transisi dari budaya/tradisi lisan ke budaya membaca dan menumbuhkan/meningkatkan minat baca pada masyarakat Indonesia, khususnya peserta didik membutuhkan waktu yang lama.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dengan gencar mengkampanyekan Gerakan Literasi Nasional (GLN). 

Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah salah satu bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN), di mana setiap satuan pendidikan dimulai dari pendidikan anak usia dini sampai pendidikan menengah diwajibkan menerapkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk meningkatkan minat baca peserta didik.

Peserta didik dituntut untuk menanamkan dan bahkan meningkatkan minat bacanya, bila merujuk pada hasil survei PISA dan UNESCO memang masih memprihatinkan, berbagai program, metode, strategi, dan teknik telah diupayakan untuk meningkatkan minat baca peserta didik. 

Memang banyak faktor yang melatarbelakangi kurangnya minat baca di kalangan peserta didik, mulai dari faktor kebiasaan individu dan lingkungannya, sarana dan prasarana seperti kurangnya koleksi bahan bacaan yang tersedia dengan minat yang dimiliki, akses mendapatkan bahan bacaan, bisa jauhnya perpustakaan sekolah atau perpustakaan pemda dengan tempat tinggal dan masih banyak lagi faktornya.

Ada banyak keterampilan membaca yang dapat dimiliki peserta didik, berbeda jenjang pendidikan berbeda pula keterampilan yang dimiliki peserta didik. Bila ditinjau dari cara dan tujuan membaca, ada dua macam jenis membaca. Pertama, membaca intensif, yaitu jenis membaca yang dilakukan dengan cermat untuk memperoleh informasi secara rinci atau menguasai unsur bahasa yang digunakan dalam teks (Anang, dkk, 2021). 

Untuk memahami seluruh informasi yang ada dalam bacaan/teks agar tidak terlewatkan, peserta didik diusahakan menerapkan membaca intensif. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan