Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Pecinta Puisi dan Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Suatu Petang

23 November 2020   21:42 Diperbarui: 24 November 2020   10:13 14 4 0 Mohon Tunggu...

Selepas pulang kerja, Maryam melepas penat duduk di balkon apartemennya sambil melihat pemandangan kota dari atas.

Ia hanya mengenakan baju tidur tipis. Sebotol arak dan radio usang di meja kaca jadi kawan, untuk mulai menikmati petang. Belum gelap benar. Masih ada biru langit yang tersisa meski mentari sudah tidak tampak lagi. 

Sesekali rambutnya bergoyang diterpa angin. Hentakan lagu keras di radio silih berganti berputar tapi tak ada satu yang benar-benar didengarnya. 

Dibakarnya rokok dan mulai menghisapnya perlahan. Asap tipis mengepul di udara selintas lalu hilang ditiup angin. Matanya datar melihat jajaran atap rumah-rumah perkampungan dan jalan raya yang diisi kendaraan berjejalan. Sementara pikirannya terbang jauh entah ke mana. Wajah lelahnya belum sempat dibasuh, bibirnya masih merona dengan lipstiknya, ketika tiba-tiba Pono datang dari atas, terjun ke arahnya bersama layang-layang besar yang dipegangnya erat.

Ia mendarat mulus di samping sang gadis. Meletakkan layang-layang besarnya di ujung sofa, sementara Maryam masih duduk bersandar, terdiam tak menghiraukannya. Pono mendekat, mengecup bibir Maryam yang merona itu. Dan sebatang rokok yang tinggal bara di jemari lentik Maryam pun akhirnya disarangkan pada hidungnya. Tentu ia meringis kesakitan.

"Kejam."

"Bocah layang-layang, berkelana ke mana saja, kamu?"

Pono tidak menjawab. Malah lebih tertarik pada radio usangnya. Ditariknya antena tinggi-tinggi dan diputarnya saluran, mendapatkan sebuah saluran yang memutar lagu klasik yang tenang, lalu mengambil arak yang telah tertuang di sloki kecil pada meja kaca, diteguknya sekali habis.

Pono melihat Maryam kembali terdiam, meraih sebatang rokok baru, dibakarnya lagi, dan menghisapnya dalam-dalam sebelum menghembuskan asap tipis pada udara. Pono bertanya sejurus kemudian,

"Bagaimana taman bungamu?"

Tak terjawab. Maryam bungkam. Tak terlihat mendung bergulung menutupi wajahnya, tak terlihat gulita menyelimuti dadanya. Matanya pun tak membara seperti biasanya.

"Ada apa?"

"Aku bosan hidup."

"Matilah kalau begitu."

"Bunuhlah aku. Bakarlah mayatku dan larunglah ke laut abunya."

"Kalau bisa sudah kulakukan dari dulu."

Maryam menggapai bibir Pono, mengecupnya, kali ini, lama sekali. Pono pun sesak nafas lalu mati.

...

Cipayung, November 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x