Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Hanya seseorang yang ingin tidur siang di sebuah kolong jembatan dengan bebasnya

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Maryam dan Taman Bunga

21 November 2020   21:02 Diperbarui: 25 November 2020   12:46 15 2 0 Mohon Tunggu...


Jadi perawat taman bunga tidaklah mudah. Maryam dibayar untuk merawat bunga-bunga cantik itu. Setiap pagi disiraminya dengan penuh cinta supaya kelak indah warna-warninya terjaga bila mekar. Dirawatnya dengan sepenuh hatinya, memupuknya dengan hati-hati.

Pono menemaninya kadang-kadang. Juga sesekali merasa kasihan karena ia harus berpanas-panas dihajar matahari, tapi satu sisi ia suka melihat peluhnya keluar dari dahi, membasahi kerudung lebarnya, namun tetap terlihat senyum gadis itu hadir, indah serupa kembang yang dirawatnya.

"Pekerjaanmu sia-sia."

Pono selalu berkata begitu. Karena melihat bunga itu dirawat selalu tapi tak pernah sekalipun mekar. Tak pernah. Banyak dari mereka malah mati begitu saja. Sekeras apapun Maryam berusaha. Kata Pono seperti sengaja diracuni. Namun meski begitu, Maryam tetap dibayar dengan uang meski apapun yang terjadi pada bunga-bunga itu. Meski mereka tak pernah mekar. Tak pernah kurang. Meski Maryam tak pernah berfikir tentang nominal uang-uang itu. Karena ia mencintai apa yang dilakukannya. Itu seperti panggilan jiwa.

Maryam memang merasa aneh. Ia telah mengerahkan segalanya. Tapi setiap hari Bunga-bunga itu selalu ada saja yang mati. Dan tidak pernah ada satupun yang mekar. Setiap malamnya tidak pernah dapat tidur dengan tenang dan selalu dihantui mimpi-mimpi tentang bunga-bunga yang meronta-ronta berteriak memohon pertolongan padanya.

"Maryam! Tolong kami!"

Bertahun-tahun! Dengan sukarela tetap merawat bunga-bunga itu. Mulai dari bibit baru, kuncup, sampai yang harusnya sudah bermekaran. Namun setiap bunga yang harusnya bermekaran, keesokan harinya selalu mati. Ia sudah berpindah tujuh tempat taman bunga yang berbeda selama beberapa tahun ini. Tapi semuanya sama. Ilmu untuk merawat bunga-bunga yang ia pelajari selama ini seakan tidak berguna. Melihat kondisi seperti ini, ia merasa benar apa yang dikatakan Pono.

"Apa memang takkan pernah ada satupun bunga yang mekar sampai kapanpun juga?"

"Mereka sengaja dibunuh. Mereka takkan pernah mekar sampai kiamat tiba."

Maryam tidak pernah menggubris kata-kata si lelaki kurus itu, tapi suatu malam, ia diajak Pono untuk mengunjungi taman bunga tempatnya bekerja. Mengendap-endap melewati tembok tinggi, melewati padang-padang bunga yang hampir mekar, sampai beberapa petugas taman datang dan keduanya berlindung dibalik pepohonan rindang dengan semak rimbun dibawahnya untuk melihat apa yang terjadi.

"Lihat! Kan sudah ku katakan padamu,"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
21 November 2020