Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Pecinta Puisi dan Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Rindu Dendam

20 November 2020   23:13 Diperbarui: 20 November 2020   23:35 55 7 0 Mohon Tunggu...

Ada juga masa Maryam benar-benar tak dapat bertemu dengan laki-laki kurus yang bodoh itu. Dan lagi-lagi Pono tak berkata ke mana ia pergi. Kemudian tumbuhlah benalu. Asyik menggelayuti isi kalbu. Menghisap tenaganya sedemikian hebat, membuatnya rebah di antara tanah basah sisa hujan kemarin.

Tak dapat bertemu seperti biasa, tertawa dan menari, atau bernyanyi, tak dapat bercerita, tak dapat mengatakan apa-apa. Hanya sekedar saling adu pandang atau genggam jemari saja tak bisa.

Dibiarkannya benalu itu tumbuh subur, menghisap sari pati tubuhnya, menikmati tiap tetes darah yang terserap dengan senyum bergelora. Menikmati sesak   yang menyiksa di dada. Menikmati jiwanya berkelana mencari-cari si lelaki, pergi, sementara tubuhnya nyaris binasa. Namun tak apa.

Pono memang serupa bayu. Sesuka hatinya saja dirasanya bisa menghembus ke mana ia mau. Ia datang sebentar meniupkan damai, untuk kemudian esok pagi menghilang dengan menyisakan gelak tawa. Itu hari-hari yang begitu penuh tanya dan harap.

Terkadang Pono berikan badai topan yang menghantam lemah tubuhnya, yang telah sebegitu ringkih dan rapuh. Mengirim burung-burung gagak dan mencabiki daging tubuhnya, lalu membiarkan tulang belulangnya berserakan di jalan-jalan raya.

"O, rindu. Rindu yang itu-itu juga," Gumamnya.

Dirobeknya buku-buku puisi menjijikkan penuh kata-kata cinta. Dibakarnya dengan bara yang menyala pada matanya. Semua kertas berisi rangkaian kata biasa-biasa saja itu hangus jadi abu. Begitu pula lagu-lagu cinta, cinta yang itu-itu saja. Cengeng. Terasa seperti rengekan manusia yang tiada punya daya guna untuk hidup lagi.

Dibantingnya radio ke bumi. Ia ingin dengar lagu-lagu kasar penuh hentak dan distorsi. Suara-suara yang membantunya menikmati kerinduannya. Dan jiwanya pun menari. Menari dengan pengharapan si lelaki akan datang kembali. Ia tahu pasti. Maka ia menunggu.

Hari-hari penantiannya juga di laluinya dengan tidur di atas rel kereta, terjun dari gedung pencakar langit yang tinggi, memburu harimau di hutan belantara, berteriak-teriak di bus kota, menciumi tangan tukang minta-minta, menyumpahi orang-orang yang baru turun dari mobil mewahnya, sepanjang hari tertawa-tawa, dan banyak hal lainnya, begitu caranya ia tetap bahagia.

Beberapa hari kemudian Pono datang menghampiri si gadis dengan wajah tanpa dosa. Menawarkan sebotol anggur untuk diminum bersama.

"Apa kau merindukanku?" Tanya Maryam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x