Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Pecinta Puisi dan Fiksi

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Mimpi

20 November 2020   14:57 Diperbarui: 20 November 2020   15:25 33 6 1 Mohon Tunggu...



Di antara mimpi-mimpi Pono, malam itu ia begitu ketakutan asbab sebuah mimpi yang begitu terasa nyata. Mitos negerinya selalu  mengatakan bahwa setiap mimpi memiliki arti. Dengan begitu berputarlah dinamo penggerak mesin-mesin dalam kepalanya begitu keras sampai menghabiskan sisa malam panjangnya dalam terjaga. Asap begitu tebal mengepul keluar dari telinga, membuat Maryam yang mencium bau hangusnya terbangun, lalu menyiram kepala si lelaki dengan seember penuh air.

"Tidurlah lagi,"

"Berapa lama kita tertidur sepanjang umur kita?"

Maryam membiarkan Pono dengan isi kepalanya sendiri, menarik semak belukar dan terlelap dengan cepat lagi.

Mimpinya sebenarnya begitu sederhana, hanya sebuah potongan adegan ketika ia dalam mimpi mengunjungi rumah keluarganya yang lama, tempat ia menghabiskan masa kecil sampai beranjak dewasa, di sana ada Bapak dan Ibuk. Sedang bercengkrama di beranda, bersama adik lelaki kecilnya. Begitu bahagia raut wajah mereka. Melihat kedatangan Pono, dan mengajak turut bercengkrama serta. Ketika belum lama mereka bercerita satu sama lainnya, Tiba-tiba awan gelap bergulung-gulung datang, bumi merekah, guncangan besar datang, angin mengamuk sejadi-jadinya, memporak-porandakan segala, di sana. Kampungnya, lebur, sementara rumah keluarganya beserta isinya dihajar angin, dibawa pergi entah kemana. Mereka berpegangan pada tiang-tiangnya sementara angin terus membawa mereka. Begitu mengerikan, mesin dalam dadanya begitu keras bekerja, sampai udara terasa sesak dan sulit bernafas. Begitulah kemudian ia mengakhiri mimpi dengan terbangun.

Malam masih panjang sementara mata tak dapat terpejam. Pelitanya menyala-nyala seakan baru saja diisi minyak penuh-penuh, dan takkan mati lagi. Begitu sadar itu mimpi, diraihnya kendi pada meja kecil di samping tikar ia tidur, meneguk airnya sampai kosong. Air membasahi kerongkongan hingga  percikannya keluar, membasahi oblongnya serta, dilapnya tetes keringat pada dahi, leher, dan merenungi apa arti mimpi itu tadi.

Keresahan macam apa yang melanda? Bila ia ingat teori Freud, mimpi adalah ketakutan-ketakutan atau keinginan-keinginan yang dipendam di alam bawah sadar seseorang. Jadi, apakah benar mimpi itu hanya ketakutan-ketakutan dirinya sendiri? Ataukah bila mengacu mitos-mitos negerinya sendiri, apakah sebuah pertanda hal buruk akan terjadi?

Dua bulan sudah ia tak mengunjungi rumah. Minggu ini ia merasa harus pergi, dan memastikan sendiri.

Cipayung, November 2020

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x