Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa yang lebih banyak tenggelam dalam cerita fiksi daripada makan teori

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

Cerpen: Desa Matahari

7 September 2020   08:12 Diperbarui: 8 September 2020   19:49 249 21 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen: Desa Matahari
ilustrasi menunggu pagi tiba. (sumber: pixabay.com/Tama66)

Di desa ini kami hidup di dalam kegelapan. Kata bapak, kegelapan ini disebut malam. Saya tidak tahu apa itu malam. 

Saya sendiri, sedari bisa mengenal bahasa yang diajarkan Bapak setiap tidur tidak pernah melihat dan tidak pula mengerti apa itu yang dikatakan pagi, siang, sore dan matahari, juga apa itu malam, bulan dan bintang atau langit, yang cuma jadi dongengan pengantar tidur dari orang-orang tua kami di gubuk-gubuk penduduk.

Itu pun hanya dibisikkan dekat telinga, dilarang membicarakannya. Dilarang berbicara keras-keras tentang matahari, pagi, waktu, dan apapun. Tapi anehnya orang tua kami tidak bosan menjejali kami dengan cerita-cerita itu terus-menerus.

Ketika terdengar sirine yang entah dari mana di desa ini pertanda sudah waktunya untuk tidur dan kami mulai diperintah untuk memasuki rumah-rumah, Bapak dan kebanyakan orang tua di desa ini, katanya, akan mulai mendongengi anak-anak mereka, dengan berbisik-bisik, kalau perlu tanpa suara.

Kami di desa ini hidup dalam gelap malam, sunyi, yang dingin, dalam gigil, tak pernah merasakan hangatnya apa yang pernah dikatakan kakek-kakek kami dulu sebagai terik surya. Begitulah, kami hanya mendengarnya dan menyebutnya sebagai omong kosong belaka.

Karena memang kami tidak pernah melihatnya. Apa itu terang? Cahaya? Hangat? Apa itu panas? Api? Terbakar? Kami tak pernah tahu dan tak pernah melihat sekalipun kecuali mendengarnya.

Kata Bapak, desa ini sudah lama begitu. Tidak pernah merasakan apa yang disebut pergantian waktu, dari beberapa generasi. Sudah sejak orang-orang berjubah hitam datang merebut desa ini, menguasai desa dan kata bapak beberapa dari mereka menutup resleting di langit. 

Menyingkirkan Pagi yang hangat, tak lagi menyisakan terik surya di siang hari, apalagi untuk indahnya senja. Tidak. Semenjak itu, menurut cerita Bapak, kelam malam yang dingin senantiasa menyelimuti desa ini, dengan kabut-kabut tebal, yang sekali lagi saya tidak mengerti apa itu semua.

Ia menceritakan itu semua dengan berbisik-bisik. Ketika sudah di rumah, dengan suara yang hampir tidak terdengar. Takut-takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Seperti yang terjadi pada Kang Surono, dia mati dipanah ketika terdengar menceritakan tentang matahari dan langit. 

Tentang cahaya terang dan hangat. Orang-orang desa tidak melihat kejadian itu. hanya saja tetangga-tetangga dekat rumah mendengar suara lesatan benda familiar yang membuatnya berteriak ketika ajal kemudian menjemputnya, "Kami masih menunggu pagi!"

Setiap kembali ingin sekali membuka mulut saya untuk bertanya apa itu pagi pada Bapak, tapi saya malah merasai sesuatu merayap dan selanjutnya menggapai --apa yang dibilang Bapak sebagai bibir, sebelum saya berhasil membuat suara, kemudian Bapak melanjutkan ceritanya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x