Mohon tunggu...
IbuyyaNafri
IbuyyaNafri Mohon Tunggu... Mahasiswa

Cara menikmati hidup yang paling utama adalah usaha membuang ketakutan-ketakutan yang bersarang di kepala.

Selanjutnya

Tutup

Novel Pilihan

Ruwet (Bagian 5)

6 September 2019   15:55 Diperbarui: 6 September 2019   15:56 171 3 0 Mohon Tunggu...

Bagian Sebelumnya Ruwet (Bagian 4) 

...

Yu Jum akhirnya bisa pulang, setelah dua tahun lamanya bekerja jadi asisten rumah tangga di Jeddah pada majikannya; Wan Umar. Dulu, Wan Umar adalah kenalan akrab almarhum Kang Haji Yono sewaktu berangkat haji belasan tahun lalu. Wan umar sudah punya istri empat dan anak dua belas, semuanya memperlakukan Yu Jum sudah seperti keluarga sendiri. 

Tak pernah ada penyiksaan, apalagi amit-amit pemerkosaan seperti di berita-berita pada Yu Jum. Wan Umar sangat menghargai Yu Jum, bahkan asisten rumah tangganya bukan hanya Yu Jum, dan semua dihargai dengan baik. Wan Umar bukan Arab tulen, ibunya, neneknya dan nenek buyutnya, orang Demak. Istri keduanya pun orang Pati, Jawa Tengah. 

Ternyata, kebaikan keluarga Wan Umar juga  jika dirunut, adalah buah balasan kebaikan yang dilakukan Kiai Haji Noyo, bapak dari Kang Haji Yono pada Kakek Wan Umar ; Wan Abdul. Puluhan tahun silam, rumah, serta tempat usaha minyak wangi Wan Abdul di Blora, dibakar orang. Kiai Haji Noyo dengan ringan tangan menampung Wan Abdul sekeluarga di pondokan belakang rumahnya, selama lima tahun Wan Abdul memulai usahanya kembali dan dibantu sokongan dana juga dari Kiai Haji Noyo, akhirnya, rumah dan tempat usaha Wan Abdul kembali lagi.

Setelah melewati proses birokrasi berbelit-belit mengurus dokumen kepulangan tenaga kerja  yang dibantu juga oleh Wan Umar dan seorang calo, Yu Jum akhirnya jadi juga kembali ke tanah  air. Sembilan jam setengah lamanya perjalanan pesawat dari Jeddah ke Jakarta, belum tambahan lagi satu setengah jam taksinya menghadapi macet, namun tidak tampak kelelahan dari wajahnya. 

Ia sangat bahagia. Ini momentum yang sangat ditunggunya. Syukuran ketiga anak Pono, cucu-cucunya. Tak sabar ia melihat bocah mungil-mungil itu. Membayangkannya saja sudah bahagia, Yu Jum tak pernah sebahagia itu, bahkan lebih bahagia daripada ketika Kiai Haji Noyo datang kerumahnya dengan tiga ekor sapi dan dua gram cincin emas untuk mahar menikahkannya dengan Kang Yono waktu ia muda dahulu. 

Yu Jum tau kabar syukuran ketiga anak pono dari Yu Darsih yang meneleponnya, kabar Pono sudah punya anak itu sangat membahagiakannya. Tanpa banyak pertanyaan lagi ia segera mengucap syukur pada Tuhan, diberi anugerah seindah itu. Ia sudah jadi nenek sekarang. Tak perduli darimana bocah-bocah itu berasal.

Sehari lepas kejadian ramai di rumah Yu Darsih, segera Daeng Andi, Kapten Darso mengundang Haji Gani, ketua RW 09 untuk menggelar rapat bersama warga. Penuturan Pono tentang tiga bayi yang keluar dari lubang kloset tak diragukan lagi, justru disambut gembira. Yu Darsih sekonyong-konyong memeluk Pono dan meminta maaf pada nya. 

Esoknya lagi Bapak tukang ojek online yang pertama kali mencurigainya juga turut meminta maaf bahkan memberinya kado seperangkat alat mandi untuk ketiga anaknya. Seminggu penuh rumah Pono banjir kiriman hadiah dari warga, ibu-ibu PKK, pemuda karang taruna menggelar iuran untuk Pono. Keputusan rapat warga juga akan menggelar hajatan atas kehadiran ketiga anak Pono itu, dua minggu lagi Kenduri akan digelar sebagai bentuk rasa syukur atas berkat Tuhan tersebut.

Bukan main kebingungan Pono saat ini. Disangkanya pengakuan jujur asal usul tiga bayi di rumahnya pada Kapten Darso, Daeng Andi dan Yu Darsih itu akan ditertawakan mentah-mentah oleh mereka. Dikiranya, Ia akan dianggap sinting, dianggap membual atau pikirannya kacau, ia akan dimasukkan rumah sakit jiwa di Grogol dan mendekam sampai jadi bangkai. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x