IbuyyaNafri
IbuyyaNafri Mahasiswa

Mahasiswa Sastra Indonesia, penikmat novel dan puisi

Selanjutnya

Tutup

Humor

Tragedi Soto dan Gule

29 Januari 2019   23:50 Diperbarui: 30 Januari 2019   00:07 104 1 1

Dahulu di Gemblongrejo masih adem ayem saja. Rakyatnya meski masih banyak yang juga kelaparan tapi masih bisa bebas memilih mau makan apa. Semua bebas makan dan tidak pernah terjadi ribut-ribut. Negara demokratis seperti Gemblongrejo hak-hak warga negara dijunjung tinggi. Begitupun dalam memilih makanan. Masih bisa yang suka sate makan sate di sebelah yang suka makan bakso, mereka tak pernah berantem perkara selera makanan. Yang suka gudeg ayo, makan bareng sama yang doyan pecel lebih rame. Dulu keluarga-keluarga di Gemblongrejo, satu meja selalu berbeda makanan, bapak makan sop, ibu makan lele, mas makan Ayam goreng, adik makan telor dadar, semua sah, semua boleh dan tak ada masalah.

Tapi tahun-tahun belakangan kok rasa-rasanya berbeda. Semenjak Soto dan Gule terkenal dan jadi favorit, suasana berubah drastis. Penikmat Soto belakangan merasa berkuasa, selalu mengajak orang-orang harus makan soto, harus! Bahkan dimana-mana relawan pecinta soto mati-matian menolak makanan selain soto.

Kalo ada yang makan selain soto bakal ditangkap, ngomongin selain makanan soto dilarang. Semua dikontrol, media-media menyebarkan propaganda kebaikan-kebaikan soto, terus di blowup  sampe orang-orang semua kemakan berita. orang-orang ngajak makan selain soto aja diciduk, apalagi jelek-jelekin soto? Ya otomatis masuk bui. Dalihnya, Kalo nggak suka soto nggak cinta negara! Kalo nggak suka soto anti keragaman, loh? Yang anti keragaman siapa? Begitu pula masyarakat yang mendirikan aliansi penikmat gule, mereka menolak adanya soto, dicap ini dicap itu kalo ada yang mau makan soto, kalo nggak milih makan gule dosa, kalo nggak milih makan gule kafir! kalo nggak milih makan gule masuk neraka, nerakanya mbahmu!

Hari demi hari perseteruan semakin memanas. Suatu hari pernah aliansi pecinta gule mendeklarasikan hashtag di twitter #janganmakansoto dan rame-rame makan di sebuah pusat keramaian. Langsung saja pecinta soto ngamuk-ngamuk dan membubarkan warga yang mau makan gule rame-rame. Di televisi di acara mana-mana dibahas. Salah seorang tokoh pecinta soto nongol di televisi, dan berkata : 

"Mereka mau makar, mereka mau goncang kedamaian di Gemblongrejo."


Saya bertanya, masa iya sih, makan aja segitu harus diaturnya? Terserah orang dong mau milih makan apa. Memangnya nggak enek makan soto terus, pun sebaliknya memangnya nggak begah makan gule terus. Dua-duanya enak, tapi gausah juga jadi fanatik begitu ah. Cari makanan lain juga nggak boleh. Emangnya nggak bosen?

Tiap hari orang di sosial media ledek-ledekan perkara soto lagi, perkara gule lagi. Berantem, terus putus hubungan pertemanan. Aneh. Juga pernah bapak sama anak gebrak-gebrak meja di saat makan, cm karena yang satu mau makan gule yang satu mau makan soto. Pacaran bisa putus juga karena perkara beda makanan.


Sampai kapan sih harus begini? Padahal saya pengen suasana seperti dulu, mau makan apapun, bisa satu meja dan tetap bisa ngobrol bareng, bisa tertawa bareng, ayo dong kita waras lagi. Jangan jadi sinting perkara soto sama gule. Dua-duanya bikin kolesterol naik. Sama-sama bahaya buat kesehatan.