Ekonomi

Mentan Banjir Pujian, Petani Banjir Tangisan

14 September 2018   17:34 Diperbarui: 14 September 2018   17:46 420 14 7
Mentan Banjir Pujian, Petani Banjir Tangisan
Mentan Banjir Pujian, Petani Banjir Tangisan

Belakangan ini cuaca Jakarta cerah terang benderang. Namun anehnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman dikabarkan kehujanan. Pengusaha Sulawesi Selatan yang ditunjuk Presiden Jokowi sebagai orang nomor satu di bidang pertanian Indonesia itu, diguyur hujan pujian di Senayan. (liputan6.com).

Anggota komisi IV DPRI RI yang membidangi pertanian, memberikan puja-puji bertubi-tubi bagi Amran yang dinilai berhasil memajukan pertanian di Indonesia. ada yang mengaku wilayahnya di Bali merasakan manfaat program pengairan. Adapula yang mengaku konstituennya di Kalimantan Barat terbantu oleh hibah alat mesin pertanian (Alsintan).

Semoga saja Mentan bawa handuk. Bukan untuk mengeringkan dirinya yang dibasahi hujan pujian. Tapi untuk petani lain yang airmatanya sudah membanjir. Bukan lagi sekadar hujan.

Cerita-cerita sukses yang disampaikan oleh para anggota dewan hanya segelintir kecil. Tak lebih dari sebesar upil, dari komunitas petani yang berjumlah sekitar 39,7 juta orang di Indonesia (versi BPS 2017).

Menurut data BPS, 44% angkatan kerja di Indonesia adalah petani. Yang menyedihkannya, hampir setengah dari total angkatan kerja di Indonesia itu, sering diidentifikasi sebagai kelompok yang erat dengan kemiskinan atau ketidaksejahteraan. Stigma ini berkembang membentuk pandangan bahwa pekerjaan di kota lebih menggiurkan ketimbang di desa.

Tak heran bila terjadi konversi lahan pertanian menjadi non pertanian. Dalam jangka panjang, konversi ini mengakibatkan semakin berkurangnya potensi produktivitas komoditas hasil pertanian seperti padi. Wajar bila Indonesia makin jauh dari cita-cita swasembada beras, apalagi kedaulatan pangan.

Sudah hampir lumrah, terjadi penjajahan ekonomi di kawasan pedesaan. Ketika petani menjual tanah yang dimilikinya dahulu. Akibat keterbatasan kemampuan untuk bekerja di bidang lain, petani kemudian turun kelas menjadi buruh tani di lahan yang dulu pernah mereka miliki. Beras yang tadinya dihasilkan di sawah sendiri, kini harus mereka beli.

Dengan kondisi seperti ini, masih senang terima pujian, Pak Menteri?