Mohon tunggu...
ayu mutmainnah
ayu mutmainnah Mohon Tunggu... Lainnya - santri dan mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam Blokagung Banyuwangi

lebih suka nonton anime daripada drakor, sebab sesuatu yang romantis itu bikin miris.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ngaji Pluralisme berdasarkan Teori Intensitas Cahaya dari Sang Legenda Eka Tjipta Widjaja

13 September 2022   09:47 Diperbarui: 13 September 2022   23:54 204 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
yayasan muslim sinar mas berkurban

Ajining diri dumunung ing lathi, ajining raga saka busana, agama agamaning dhiri. Seseorang dapat dihargai berdasarkan ucapannya. Berharganya seseorang itu dinilai dari penampilan, dan agama merupakan pakaian untuk kita. _Pepatah Jawa

Pernah mendengar kata ngaji? Sebagian dari kita tentu masyhur dengan kata yang satu ini, terkhusus umat muslim. Kata ngaji berasal dari bahasa Jawa, berasal dari kata aji yang mendapat imbuhan ng-. Artinya, adalah proses untuk menjadi atau mendapatkan aji. Aji sendiri bermakna martabat atau kehormatan.

Dengan demikian, ngaji dapat dimaknai sebagai upaya seseorang untuk memperoleh atau menjadi bermartabat. Supaya menjadi manusia yang aji, maka sudah barang tentu kita harus mengaji terlebih dahulu. Adapun salah satu kiatnya adalah dengan menilik dan mengambil pelajaran dari kisah para tokoh bangsa.

           Coan Ciu, Hokian China 3 Oktober 1921, tepat dimana insan berkulit putih etnis Tionghoa lahir ke dunia. Semasa kecil dalam menyusuri lorong waktu, takdir baik tampaknya belum menghampirinya. Alhasil, kondisi itu membuat ia tak bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi lagi. Hanya sebatas lulusan Sd. Namun, bukan Oei Ek Tjhong namanya jika menyerah dengan keadaan.

Saat menginjak usia 15 tahun, ia mulai merintis karir, menjejakan biskuit dan kembang gula berkeliling ke seluruh kota Makassar, Sulawesi Selatan dengan mengendarai sepeda. Kala itu, posisi Indonesia masih dalam cengkraman Belanda. Namun, tak ada sedikitpun rasa ciut dalam dirinya untuk terus melangkah. Berawal dari usaha mikro ia mampu mentransformasikannya ke usaha supermakro. Sikap ulet dan optimisme dari leluhur dituangkan dalam berwirausaha.

          Selain itu, prinsip jujur, hemat, menjaga kredibilitas, bertanggung jawab, baik terhadap keluarga dan lingkungan sekitar juga digunakan  untuk merakit masa depan. Sinar Mas merupakan bukti konkrit 100 tahun Eka Tjipta Widjaja atas jerih payah selama ini. Sebuah brand atu perusahaan yang menaungi sejumlah perusahaan dan lembaga. Tak hanya dibidang ekonomi saja tetapi juga bergerak dalam bidang sosial, agama dan kemanusiaan. Contoh,  Yayasan Muslim Sinar Mas. Dalam lembaga tersebut, semboyan Bhinneka Tunggal Ika giat direalisasikan

          Sebagaimana kita tahu, meski tidak menganut agama Islam, ia tetap mau menyalurkan tangan untuk saling berbagi. Meminjam kata Gus Dur, tidak penting apa pun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik buat semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu. Misal dalam suatu momen bakti sosial, secara tiba-tiba ada ibu-ibu nyeletuk, “Eh, si penyumbang ini kira-kira agamanya apa sih? Ganteng plus glowing gak.? Ah, dia menganut agama AB ya, gak mau deh takut, ntar dosa kalau menerima kebaikan (shodaqoh) dari orang yang beda keyakinan.” Kira-kira, pernahkah kita menemukan pertanyaan receh seperti itu? Pasti gak kan? Kalaupun semisal ada, paling ya hanya segelintir.

          Sesuai narasi di atas, langkah yang diambil oleh Eka Tjipta Widjaja  bisa dianalogikan pada teori fisika modern, yaitu dalam konsep cahaya subbab teori kuantum (dualisme cahaya), yakni cahaya sebagai partikel dan gelombang. Pada sebuah proses cahaya sebagai partikel yang digagas oleh Einsten, ada namanya gejala efek fotolistrik. Dapat dijelaskan bahwa gelombang cahaya membawa energi, dan sebagian energi tersebut diserap oleh logam yang dapat terkonsentrasi pada elektron tertentu dan muncul sebuah energi kinetik. Murtono (2018:153)

          Singkatnya, efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron-elektron dari permukaan logam saat logam disinari cahaya. Semakin kuat berkas cahaya yang dihasilkan dari pancaran sinar fotoelektron maka semakin besar pula energi yang dihasilkan, dan sebaliknya. Namun, untuk energi elektron biasanya rerata yang dihasilkan relatif sama.

          Artinya begini, coba kita bayangkan dan berpikir sejenak! Bagaimana jika dahulu ia selaku cahaya (solidarity maker) hanya diam terbelenggu dalam kemusykilan dan enggan bersabung dengan keterpurukan? Mungkin tak akan terjadi apa-apa seperti sekarang ini. Serta tak akan terjadi energi timbal balik efek fotolistrik untuk ia dan keluarga. Pun demikian, elektron negatif dari bumi pertiwi sulit dienyahkan.

          Walaupun pada dasarnya tak secara langsung berperang di tengah lapang, tapi pada hakikatnya ia bermain peran di balik layar. Berikhtiar mengangkat derajat perekonomian demi mengentas kemiskinan.  Karena ia tak ingin apabila imbas penjaraha  terus menerus menimpa rakyat. Yups, entah sampai kapan kiranya rakyat yang menjadi babunya para penjajah, akan tetap menjadi babu di buminya sendiri.  Hasilnya cahaya kebebasan tidak sedikitpun dapat dirasakan, karena semua telah terhalang oleh pekatnya keserakahan serta ketidakadilan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan