Mohon tunggu...
Ayu Anissa
Ayu Anissa Mohon Tunggu... Guru - Teacher

PENULIS  Kumpulan Cerpen “Alice de Wijn” ISBN 978-602-490-612-2 Tahun 2019 Penerbit CV. Intishar Publishing  Antologi Puisi “Janji Temu di Sudut Kota” ISBN 978-602-490-797-6 Tahun 2019 Penerbit CV. Intishar Publishing PENULIS KOLABORASI  Kumpulan Cerpen untuk Anak “Ini Dunia Anak” ISBN 978-623-7384-40-3 Tahun 2019 Penerbit CV. Harasi  Antologi Cermin “Cerita Mini untuk Anak” ISBN 978-623-7384-65-6 Tahun 2020 Penerbit CV. Harasi  Kumpulan Cerpen Horror “Sanggar” ISBN 978-623-94063-8-7 Tahun 2020 Penerbit Megalitera  Kumpulan Cerpen “Kebun Bunga Itu Telah Kering” ISBN 978-623-6656-37-2 Tahun 2021 Penerbit Megalitera

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Dua Garis Lurus

17 November 2022   00:51 Diperbarui: 17 November 2022   01:16 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

          "Baik, Pak," jawab wanita cantik yang mampu mengalihkan duniaku itu sebelum ia keluar dari ruangan.

Pagiku bisa dikatakan produktif, walau aku merasa tidak seproduktif biasanya. Telekonference dengan Pak Santoso berjalan lancar, akhirnya lusa aku akan menandatangani merger dengan perusahaan manufaktur besar itu di Singapura.

Kemudian untuk proyek pembangunan perumahan yang diminta mama di Jogja terpantau cukup lancar juga. Walaupun tadi dilaporkan oleh mandor proyek bahwa terdapat kesalahpahaman dengan warga sekitar mengenai penggunaan sumber air bersih. Tetapi telah teratasi dengan baik.

Siang hari terlewati dengan cukup memuaskan pula. Walaupun Pak Hutomo selalu saja berusaha menyodorkan cucunya padaku, aku mampu menghindar dengan elok dengan mengatakan bahwa aku sudah memiliki calon istri pilihanku sendiri. Yahh ... Siapa lagi jika bukan Ratih?

Lihat caranya menyernyitkan dahi ketika mempelajari berkas baru. Aku yakin dokumen yang sedang dipelajarinya adalah proposal kerja sama dengan salah satu perusahaan manufaktur di China. Sebenarnya tidak ada yang sulit dengan proposal kerja sama itu, hanya saja memang pimpinan perusahaan manufaktur tersebut sedikit kolot dan masih ragu-ragu dalam mengambil keputusan, terlebih ia masih takut menghadapi resikonya.

          Kuhampiri meja kerjanya, kemudian kuketuk pelan. "Hei ...."

          "Ahh, Pak Rama, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya beranjak dari tempat duduknya.

          "Sudah hampir jam enam sore, masih belum pulang?" tanyaku.

          "Berkas manufaktur yang bapak berikan tadi, masih saya pelajari,"  jawabnya.

          "Kau bisa melanjutkannya besok. Ayo ikut aku makan malam dengan Satria," ajakku mengedikkan kepala ke arah pintu kantor kami.

          "Bukankah itu acara makan malam keluarga, Pak? Mengapa saya juga harus ikut? Apakah ada bisnis yang akan dibicarakan juga?" tanyanya lagi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun