Mohon tunggu...
Ayu Lestari
Ayu Lestari Mohon Tunggu... Penulis - Nama : Ayu Lestari

Mahasiswa_Fakultas Tarbiyah_STAI AL-HIDAYAT LASEM

Selanjutnya

Tutup

Financial Pilihan

Dinamika Dilematisasi Subsidi BBM yang Dinaikkan

30 Agustus 2022   19:13 Diperbarui: 30 Agustus 2022   19:24 198
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Finansial. Sumber ilustrasi: PEXELS/Stevepb

Subsidi Bahan Baku Minyak (BBM) yang dicanangkan oleh pemerintah di tengah naiknya harga minyak dunia. Jenis BBM yang tersubsidi diantaranya pertalite dan solar yang naiknya di awal Bulan September hingga Rp 2 ribu sampai Rp 3 ribu per liter.

Informasi terkini harga minyak mentah dunia sudah sampai di atas US Dolar 100 per barel. Angka tersebut jauh di atas ekpektasi pemerintah yang berdasarkan pada Indonesia Crude Price (ICP) dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2022 seharga US Dolar 63 per barel. 

Akibatnya, belanja pemerintah bakal meambung, serta defisit akan lebar. Berdasarkan perhitungan Kementerian Keuangan, harga normal untuk Pertalite di bulan Agustus Rp 14.450 ribu per liter dan harga bahan setara solar Rp 13.950 ribu per liter.

Selain itu, adapun persoalan lain yang memicu kenaikan harga Pertalite dan Solar adalah konsumsinya yang semakin bertambah. Dimulai dipertengahan Agustus, konsumsi Pertalite mencapai 18,73 juta kiloliter atau 81 persen dari kuota tahun ini. Apabila diacuhkan, konsumsi pertalite bisa sampai 29,07 juta kiloliter, jauh pada batas kuota yang hanya 23,05 juta kiloliter. Begitu pun sebaliknya juga dengan konsumsi solar.

Menyinggung soal subsidi BBM terkini telah mencapai harga Rp 502 triliun. Di sela-sela kenaikan minyak dunia, apabila subsidi tidak dihentikan, subsidi akan menembus angka Rp 700 triliun untuk dibakar.

Hal ini mengakibatkan stagnya pilihan-pilihan yang sebenarnya masih bisa dilakukan, selain pemerintah mencegah kenaikan harga BBM secara terus-menerus. seyogyanya, subsidi ini dapat dialihkan menjadi bantuan tunai sekaligus untuk bantalan inflasi bagi masyarakat.

Implementasi seperti ini sebenarnya menjadi hal yang dilematis dan seolah-olah hanya menguntungkan anggaran negara. Bayangkan, jika mengalami kerugian, pilihannya hanya bisa menambah utang. 

Apabila langkah itu diberlakukan, bukan malah memperbaiki keadaan, justru malah memperburuk keadaan dengan hanya bisa menunda beban tersebut untuk generasi berikutnya.

Padahal, jika kita dapat mengamati kondisi keuangan pertamina yang kian berdarah, serta selalu menambah subsidi yang hanya akan membuat BUMN kian galau karena klaim subsidi kepada pemerintah sering terlambat untuk cair.

Kita juga bisa melihat dari sudut pandang geopolitik. 

Nah, adapun beberapa pilihan yang menghentikan subsidi BBM yang telah lama ditaksir. Contoh saja invasi dari Rusia ke Ukraina yang akan mempengaruhi stok energi dan pangan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Financial Selengkapnya
Lihat Financial Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun