Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Antologi puisi: Tiga Bicara Hujan

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Tanah Terbakar

8 September 2022   19:11 Diperbarui: 8 September 2022   19:39 170 40 3
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. Suku Dayak. Foto dari akun Facebook Michael Palmieri-Photography via brilio.net

Ketika harap menjadi ratap 

Dan puing
pada impian tinggal sekeping

O, tanahku
Wahai, burung-burung
dan keriuhan gemerisik
daun-daun
Ke mana akan ditumpah
Segala gundah
Di mana akan dilarung
Beribu-ribu murung
Tempat berpijak telah patah
Katanya
Di sini akan dibangun gedung-gedung
Sebuah kota
Sebuah peradaban
Tanah yang penuh cahaya

Tapi peradaban kami menjadi arang
Anak-anak kami kehilangan tali  tempat berpegang 

Kami tak bisa melawan

***

Lebakwana, September 2022

Baca juga: Anak Panah

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan