Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi: Bulan Sabit

17 Februari 2021   05:18 Diperbarui: 17 Februari 2021   21:30 384 84 17 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Puisi: Bulan Sabit
ilustrasi malam dan bulan sabit. (sumber: pixabay.com/Syaibatulhamdi)

dalam perbincangan malam ini kita hanya saling duga, siapa yang menyembunyikan rasa sakit, siapa pula yang menelan rasa pahit 

kau
aku

kau mengabarkan bulan sabit dari kegelapan di balik bukit, aku melihat setitik cahaya di luas langit 

setelah itu kita luruh, menjadi kata-kata, menjadi frasa atau klausa, dipinjam menjadi puisi oleh pujangga, menjadi mata dagangan di plaza-plaza, mungkin juga menjadi bara untuk rupiah tak seberapa 

atau takberbunyi, lesap begitu saja 

***

Lebakwana, Februari 2021 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x