Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penulis - Penikmat kata

Nganu. Masih belajar

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Saat 'Sekjen PBB' Pulang ke Desa (2)

3 Januari 2021   14:03 Diperbarui: 3 Januari 2021   14:13 338
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. Dokpri. 

Ironi, memang. 

Ini lama-kelamaan membuat Aliz muak. Ia pun memutuskan mengundurkan diri. 

Aliz mengontak temannya yang di Kalimantan. Ia ingin mengabdi menjadi guru. Untuk menebus rasa bersalah yang ia lakukan selama ini, juga untuk membersihkan jiwanya. 

Tapi sebelum itu ia akan menemui Yudi, juga Gendis anak semata wayangnya. Meminta maaf kepada mereka. 

***

Aliz membawa nasi goreng yang telah dibuatnya ke depan. 

"Aku bangunkan Gendis, ya? Mandi, juga menyiapkan peralatan sekolahnya."

"Tunggu! Boleh aku istirahat sebentar di kamarmu?"

"Ya, ya..., tuh kamarnya nggak dikunci."

***

Di kamar Aliz berbaring memandang langit-langit kamar, memikirkan ajakan Yudi. Bersatu kembali? Kalau memang ia ingin menebus kesalahan, kenapa tidak? Ada rasa nyeri dalam dadanya, mengingat selama ini Gendis kehilangan kasih sayang ibunya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
  8. 8
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun